LAPORAN PENDAHULUAN
GAGAL JANTUNG KONGESTIF
( CONGESTIF HEART FAILURE )
A. Pengertian
Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan / kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolic secara abnormal.
( Arief Mansjoer, 2001 )
Gagal jantung kongestif adalah suatu kegagalan yang terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk selama diastolic. Hal ini menyebabkan volume diastolic – akhir ventrikel secara progresif bertambah.
( Corwin J. Elisabeth, 2000 )
Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa jumlah darah yang adekuat ke dalam sirkulasi sistemik untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
( Betz L. Cecily, 2002 )
Gagal jantung kongestif adalah suatu sindrom klinis yang rumit yang ditandai dengan adanya abnormalitas fungsi ventrikel kiri dan kelainan regulasi neurohormonal disertai dengan intoleransi kemampuan kerja fisis (effon intolerance), retensi cairan, dan memendeknya umur hidup (reduced longevity).
(Sarwono Waspadji, 1999 )
B. Patofisiologi
a. Etiologi
1. Kelainan Otot Jantung
Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup aterosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi.
2. Aterosklerosis Koroner
Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokard (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.
3. Hipertensi Sistemik atau Pulmonal (peningkatan afterload)
Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertropi otot jantung tadi tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya akan terjadi gagal jantung.
4. Peradangan dan Penyakit Miokardium Degeneratif
Peradangan dan penyakit miokardium berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
5. Penyakit Jantung Lain
Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanismeyang biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah melalui jantung (mis : stenosis katup semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (mis : tamponade pericardium, perikarditis konstriktif, atau stenosis katup AV), atau pengosongan jantung abnormal (mis : infusiensi katup AV). Penigkatan mendadak after load akibat meningkatnya tekanan darah sistemik (hipertensi “ maligna “) dapat menyebabkan gagal jantung meskipun tidak ada hipertrofi miokardial.
6. Faktor Sistemik
Terdapat sejumlah factor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (mis : demam, tirotoksikosis), hipoksia, dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia atau anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis (metabolic dan respiratorik) dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung. Disritmia jantung yang dapat terjadi dengan sendirinya atau secara sekunder akibat gagal jantung menurunkan efisiensi keseluruhan fungsi jantung.
b. Manifestasi Klinis
1. Dispnu
Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli yang mengganggu pertukaran gas. Dispnu bahkan dapat terjadi saat istirahat atau dicetuskan oleh gerakan yang minimal atau sedang.
2. Batuk
Batuk yang berhubungan dengan gagal ventrikel kiri bias kering dan tidak produktif, tetapi yang tersering adalah batuk basah, yaitu batuk yang menghasilkan sputum berbusa dalam jumlah banyak, yang kadang disertai bercak darah.
3. Mudah Lelah
Terjadi akibat curah jantung yang kurang yang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme. Juga terjadi akibat meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadi akibat distress pernapasan dan batuk.
4. Kegelisahan dan Kecemasan
Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik. Begitu terjadi kecemasan, terjadi kecemasan, terjadi juga dispnu, yang pada gilirannya memperberat kecemasan, menciptakan lingkaran setan.
5. Edema
Di mulai pada kaki dan tumit (Edema Dependen) dan secara bertahap bertambah keatas tungkai dan paha dan akhirnya ke genitalia eksterna dan tubuh bagian bawah.
6. Hepatomegali
Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran vena di hepar. Bila proses ini berkembang, maka tekanan pada pembuluh portal meningkat sehingga cairan terdorong keluar rongga abdomen, suatu kondisi yang dinamakan asites. Pengumpulan cairan pada rongga abdomen ini dapat menyebabkan tekanan pada diafragma dan distress pernafasan.
7. Anoreksia dan Mual
Terjadi akibat pembesaran vena dan stasis vena di dalam rongga abdomen.
8. Nokturia
Nokturia atau rasa ingin kencing pada malam hari, terjadi karena perfusi renal di dukung oleh posisi penderita pada saat berbaring. Diuresis terjadi paling sering pada malam hari karena curah jantung akan membaik istirahat.
9. Lemah
Lemah yang menyertai gagal jantung sisi kanan disebabkan karena menurunnya curah jantung, gangguan sirkulasi, dan pembuangan produk sampah katabolisme yang tidak adekuat dari jaringan.
c. Proses Penyakit
Penurunan tekanan darah dirasakan oleh baroreseptor, sebagian besar respons reflek yang dicetuskan oleh pengaktifan baroreseptor secara bermakna memperparah perkembangan gagal jantung. Hal ini terjadi karena respons – respon reflek tersebut menyebabkan peningkatan pengisian ventrikel (pre load) atau semakin menurunkan volume sekuncup dengan meningkatkan afterload yang harus di lawan oleh kerja pompa ventrikel.
Peningkatan pre load dan after load menyebabkan peningkatan beban kerja dan kebutuhan oksigen jantung. Apabila kebutuhan oksigen yang meningkat tersebut tidak dapat terpenuhi, maka serat – serat otot menjadi semakin hipoksik sehingga kontraktilitas berkurang. Siklus perburukan gagal jantung terus berulang. Karena refleks – refleks tersebut terus menyebabkan peningkatan pengisian dan peregangan jantung dan / atau afterload, maka tekanan darah terus berada di bawah normal, sehingga reflek – reflek tersebut tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Gagal jantung akan berlanjut kecuali apabila siklus pengisian berlebihan, penurunan volume sekuncup dan penurunan tekanan darah dapat ditangani (Corwin J. Elisabeth, 2000)
d. Komplikasi
1. Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik merupakan stadium akhir disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung kongestif, terjadi bila ventrikel kiri mengalami kerusakan yang luas. Otot jantung kehilangan kekuatan kontraktilitasnya, menimbulkan penurunan curah jantung dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat ke organ vital (jantung, otak, ginjal). Tanda klasik syok kardiogenik adalah tekanan darah rendah, nadi cepat dan lemah, hopoksia otak yang termanifestasi dengan adanya konfusi dan agitasi, penurunan haluaran urin, serta kulit yang dingin dan lembab.
2. Episode Tromboembolik
Kurangnya mobilitas pasien penyakit jantung dan adanya gangguan sirkulasi yang menyertai kelainan ini berperan dalam pembentukan thrombus intracranial dan intravaskuler. Begitu pasien meningkatkan aktivitasnya setelah mobilitas lama, sebuah thrombus dapat terlepas (thrombus yang terlepas dinamakan embolus) dan dapat terbawa ke otak, ginjal, usus dan paru. Episode emboli yang tersering adalah emboli paru, gejala emboli paru meliputi nyeri dada, sianosis,nafas pendek dan cepat hemoptisis (batuk berdarah). Emboli paru akan menyumbat sirkulasi ke bagian paru, menghasilkan suatu infark paru. Nyeri yang dirasakan bersifat pleuritik artinya akan semakin nyeri saat bernafas dan menghilang saat pasien menahan nafasnya.
3. Efusi Perikardial dan Tamponade Jantung
Efusi pericardial mengacu pada masuknya cairan kedalam kantung pericardium. Kejadian ini biasanya disertai perikarditis, gagal jantung atau bedah jantung. Secara normal kantung pericardium berisi cairan sebanyak kurang lebih dari 50 ml. cairan pericardium akan terakumulasi secara lambat tanpa menyebabkan gejala yang nyata. Namun demikian perkembangan efusi yang cepat dapat meregangkan pericardium sampai ukuran maksimal dan menyebabkanpenurunan curah jantungserta aliran balik vena ke jantung. Hasil akhir proses ini adalah tamponade jantung.
Tanda cardinal gangguan ini adalah tekanan darah arteri menurun, tekanan denyut nadi menurun, tekanan vena meningkat dan bunyi jantung yang lemah.
C. Penatalaksanaan Medis
Tujuan dasar penatalaksanaan pasien gagal jantung adalah sebagai berikut
1. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
2. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan bahan – bahan farmakologis.
3. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi diuretic diet dan istirahat.
a. Tes Diagnostik
1. EKG : Hipertropi, atrial atau ventricular, penyimpangan aksis, iskemia, dan kerusakan pola mungkin terlihat.
2. Sonogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi / struktur katup, atau area penurunan kontraktilitas ventricular.
3. Scan Jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding.
4. Kateterisasi jantung : Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan versus sisi kiri, dan stenosis katup atau insufiensi.
5. Rontgen Dada : Dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi / hipertropi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmonal.
6. Elektrolit : mungkin berubah karena perpindahan cairan atau penurunan fungsi ginjal, terapi diuretic.
7. AGD : Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan (dini) atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir).
b. Terapi
1. Oksigenasi
Oksigenasi diberikan dalam jumlah yang adekuat untuk mengurangi hipoksia dan dispnu.
2. Morfin
Morfin diberikan secara intravena dalam dosis kecil untuk mengurangi kecemasan dan dispnu.
3. Diuretik
Terapi diuretic diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Obat ini tidak diperlukan bila pasien bersedia merespons pembatasan aktifitas, digitalis dan diit rendah natrium.
4. Digitalis
Digitalis berfungsi meningkatkan kontraktilitas jantung, dan meemprlambat frekuensi jantung.efek awal keracunan digitalis adalah anoreksia, mual dan muntah. Gejala lain keracunan digitalis meliputi pandangan kabur, kelemahan, pusing dan depresi mental.
5. Vasodilator
Obat – obat vasoaktif merupakan pengobatan utama pada penatalaksanaan gagal jantung. Obat – obat vasodilator telah lama digunakan untuk mengurangi impedansi (tekanan) terhadap penyemburan darah oleh ventrikelobat – obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena.
6. Pembatasan Natrium
Pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema seperti pada hipertensi atau gagl jantung.
D. Pengkajian
1. Aktifitas / Istirahat
Gejala : Keletihan / kelelahan terus menerus sepanjang hari.
Insomnia.
Nyeri dada dengan aktifitas.
Dispnea pada istirahat atau pada pengerahan tenaga.
Tanda : Gelisah, perubahan status mental, mis : letargi.
Tanda vital berubah pada aktifitas.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, IM baru / akut, episode GJK sebelumnya, penyakit katup jantung, bedah jantung, endokarditis, SLE, anemia, syok septic.
Tanda : TD : mungkin rendah (gagal pemompaan) ; normal (GJK ringan atau kronis) ; atau tinggi (kelebihan beban cairan).
Tekanan nadi : mungkin sempit, menunjukkan penurunan volume sekuncup.
Frekuensi jantung : Takikardia (gagal jantung kiri).
Irama jantung : Disritmia
Nadi apical : PMI mungkin menyebar dan berubah posisi secara inferior kiri.
Warna : kebiruan, pucat, abu – abu, sianotik.
Punggung kuku : pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat.
Hepar : pembesaran / dapat teraba, reflek hepatojugularis.
Edema : Mungkin dependen, umum, atau pitting, khususnya pada ekstremitas ; DVJ.
4. Integritas Ego
Gejala : Ansietas, kuatir, takut.
Stres yang berhubungan dengan penyakit / keprihatinan financial (pekerjaan / biaya perawatan medis).
Tanda : Berbagai manifestasi perilaku, mis : ansietas, marah, ketakutan, mudah tersinggung.
5. Eliminasi
Gejala : Penurunan berkemih, urine gelap.
Berkemih pada malam hari (nokturia).
Diare / konstipasi.
6. Makanan / Cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan.
Mual / muntah.
Penambahan berat badan signifikan.
Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Pakaian / sepatu terasa sesak.
Diet tinggi garam / makanan yang telah diproses, lemak, gula dan kafein.
Penggunaan diuretic.
Tanda : Penambahan berat badan cepat.
7. Higiene
Gejala : Keletihan / kelemahan, kelelahan selama aktifitas perawatan diri.
Tanda : Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.
8. Neurosensori
Gejala : Kelemahan, pening, episode pingsan.
Tanda : Letargi, kusut piker, disorientasi.
Perubahan perilaku, mudah tersinggung.
9. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada, angina akut atau kronis.
Nyeri abdomen kanan atas.
Sakit pada otot.
Tanda : Tidak tenang, gelisah.
Fokus menyempit (menarik diri).
Perilaku melindungi diri.
9. Pernapasan
Gejala : Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk, atau dengan beberapa bantal.
Batuk dengan / tanpa pembentukan sputum
Riwayat penyakit paru kronis.
Penggunaan bantuan pernapasan, mis : oksigen dan medikasi
Tanda : pernapasan : takipnea, pernapasan dangkal, pernapasan labored ; penggunaan otot aksesori pernapasan, nasal flaring.
Batuk : kering / nyaring / non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan / tanpa pembentukan sputum.
Sputum : mungkin bersemu darah, merah muda / berbuih (edema pulmonal).
Bunyi nafas : mungkin tidak terdengar, dengan krakles basilar dan mengi.
Fungsi mental : mungkin menurun ; letargi ; kegelisahan.
Warna kulit : Pucat atau sianosis.
10. Keamanan
Gejala : Perubahan dalam fungsi mental.
Kehilangan kekuatan atau tonus otot.
Kulit lecet.
11. Interaksi Sosial
Gejala : Penurunan keikutsertaan dalam aktifitas social yang biasa dilakukan.
12. Pembelajaran atau Pengajaran
Gejala : Menggunakan atau lupa menggunakan obat – obat jantung, mis, penyekat saluran kalsium.
Tanda : Bukti tentang ketidakberhasilan untuk meningkatkan.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan : Curah jantung, Menurun
Mungkin berhubungan dengan : perubahan kontraktilitas miokardial / perubahan inotropik.
Perubahan structural (mis ; kelainan katup, aneurisme ventricular).
Kemungkinan dibuktikan oleh : Peningkatan frekuensi jantung (takardia) ; disritmia ; perubahan gambaran pola EKG.
Perubahan tekanan darah ( TD) (hipotensi / hipertensi).
Bunyi jantung ekstra (S3, S4).
Penurunan pengeluaran urin.
Nadi perifer tidak teraba.
Kulit dingin kusam ; diaphoresis.
Ortopnea, krakles, JVD, pembesaran hepar, edema.
Nyeri dada.
2. Diagnose keperawatan : Intoleran Aktifitas
Dapat dihubungkan dengan : Ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan.
Kelemahan umum.
Tirah baring lama / imobilisasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Kelemahan, kelelahan.
Perubahan tanda vital, adanya disritmia.
Dispnea.
Pucat.
Berkeringat.
3. Diagnosa keperawatan : Kelebihan Volume cairan
Dapat dihubungkan dengan : Menurunnya laju filtrasi glomerolus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium / air.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Ortopnea, bunyi jantung S3.
Oliguria, edema, DVJ, refleks hepajugular positif.
Peningkatan berat badan.
Hipertensi.
Distres pernapasan, bunyi jantung abnormal.
4. Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas, kerusakan, resiko tinggi
Faktor resiko meliputi : Perubahan membrane kapiler – alveolus, contoh : pengumpulan / perpindahan cairan kedalam area interstidisial / alveoli.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Tidak dapat diterapkan ; adanya tanda – tanda dan gejala – gejala membuat diagnose actual.
5. Diagnosa keperawatan : Integritas kulit, kerusakan, resiko tinggi terhadap
Faktor resiko meliputi : Tirah baring lama.
Edema, penurunan perfusi jaringan.
Kemunkinan dibuktikan oleh : Tidak dapat diterapkan ; adanya tanda – tanda dan gejala – gejala membuat diagnose actual.
6. Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, program pengobatan.
Dapat dihubungkan dengan : Kurang pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit atau gagal.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Pertanyaan.
Pernyataan masalah / kesalahan persepsi.
Terulangnya episode GJK yang dapat dicegah.
Koreksi : 21 Februari 2008
Jam : 20.05
Catatan :
Lengkapi dengan Askep sesuai dengan teori dan TETEP SEMANGAT YA…..
Sabtu, 29 Januari 2011
EFUSI PLEURA
LAPORAN PENDAHULUAN
EFUSI PLEURAL
A. Pengertian
Efusi pleural adalah Pengumpulan cairan dalam dalam ruang pleura (selaput yang menutupi permukaan paru-paru) yang terletak di antara permukaan visceral (selaput)dan parietal (dinding).
(Brunner and Suddarth edisi 8 volume 1,2001)
Efusi pleura adalah adalah Cairan yang terkumpuk dalam rongga pleura .
(Sylvia A.Price , 2006)
Efusi pleural adalah Terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura
(Arief mansjoer 1999)
Efusi pleural adalah Cairan yang tertumpuk dalam rongga pleura.
(Dr. HendraLaksman, 2003)
Kesimpulan :
Efus pleura adalah penumpukan cairan dalam rongga pleura yang disebakan oleh banyak faktor seperti penyakit dan tekanan abnormal dalamparu-paru.
Patofisiologi
1. Etiologi
Bisa terjadi 2 jenis efusi yang berbeda:
1. Efusi pleura transudativa, biasanya disebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paru-paru.
Jenis efusi transudativa yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung kongestif.
2. Efusi pleura eksudativa terjadi akibat peradangan pada pleura, yang seringkali disebabkan oleh penyakit paru-paru.
Kanker, tuberkulosis dan infeksi paru lainnya, reaksi obat, asbetosis dan sarkoidosis merupakan beberapa contoh penyakit yang bisa menyebabkan efusi pleura eksudativa.
Penyebab lain dari efusi pleura adalah:
• Kadar protein darah yang rendah
• Sirosis
• Pneumonia
• Abses dibawah diafragma
• Artritis rematoid
• Pankreatitis
• Emboli paru
• Tumor
• Lupus eritematosus sistemik
• Pembedahan jantung
• Cedera di dada
• Obat-obatan (hidralazin, prokainamid, isoniazid, fenitoin,klorpromazin, nitrofurantoin, bromokriptin, dantrolen, prokarbazin)
• Pemasanan selang untuk makanan atau selang intravena yang kurang baik.
• Efusi pleura dapat terjadi karena terjadinya inflamasi oleh bakteri atau tumor yang mengenai permukaann pleural juga dapat terjadi karena ketidak seimbangan tekanan hidrostatik dan osmotic.
2. Manifestasi klinis
Biasanya manifestasi klinisnya disebabkan oleh penyakit dasar (Peneumonia).
a.Demam
b. Mengigil
c. Nyeri dada pleuritis
d. Dispnea
e. Batuk
f. Sesak nafas
g. Bunyi nafas minimal
h. Egofoni akan terdengar diatas area efusi
i. Deviasi Trakea menjauhi tempat sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan .
3. Proses penyakit
TEKANAN HIDROSTATIK
Cairan masuk
Cairan tertimbun dalalm jaringan / Ruangan
Kongesti jantung (transudat) Abses paru/ kangker paru/TB paru
/Penumonia dll (elsudat)
Efusi pleura
Pola nafas tak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
Resiko terhadap Trauma/ penghentian nafas b.d pemasangan alat dari luar
Resti terhadap kerusakan ,pertukaran gas b.d Penurunan permukaan efektif paru
Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak kuat pertahanan utama (Trauma jaringan paru, Penurunan kerja silia, Stasis cairan tubuh..,Prosedur invasive,Penyakit kronis,Tidak kuat pertahanan sekunder(imun)
Kurang pengetahuan b.d mengenai kondisi, aturan pengobatan
4. Komplikasi
a. fibrosis paru :
1) Pleural Parietal
2) Pleura Viseral
5. Penatalaksanaan Medis
Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan.
Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut:
1. Rontgen dada
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan.
2. CT scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor
3. USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
4. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).
5. Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.
Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.
6. Analisa cairan pleura
Diindikasikan untuk mengetahui apakah apakah jenis cairan efusi efusi pleura apakah eksudat atau transudat.
7. Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.
8.Pemerikasaan Laboratorium seperti:
Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri,Pewarnaan Gram,basil tahan asam(utuk tuberkolusis), hitung sel darah meram dan putih, Pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase [LDH], Protein), Analisis sitologi utuk sel Malignan dan pH.
2. Terapi
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidak nyamanan serta dispena, Terapi yang di berikan adalah :
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah.
Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi).
Pengaliran cairan dan pemberian obat antitumor kadang mencegah terjadinya pengumpulan cairan lebih lanjut.
Jika pengumpulan cairan terus berlanjut, bisa dilakukan penutupan rongga pleura. Seluruh cairan dibuang melalui sebuah selang, lalu dimasukkan bahan iritan (misalnya larutan atau serbuk doxicycline) ke dalam rongga pleura. Bahan iritan ini akan menyatukan kedua lapisan pleura sehingga tidak lagi terdapat ruang tempat pengumpulan cairan tambahan.
Jika darah memasuki rongga pleura biasanya dikeluarkan melalui sebuah selang.
Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase).
sJika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan.
Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening.
Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.
D. Pengkajian
Adapun pengkajian yang di lakukan pada klien dengan efusi pleura adalah :
1.Aktifitas / istirahat
Gejala : Dispnea dengan aktifitas ataupun istirahat
2. Sirkulasi
Tanda :
a. Takikardia
a. Frekuensi tak teratur/disritmia
b. Irama jantung gallop(gagal jantung sekunder terhadap efusi plura)
c. Nadi apical (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal (dengan tegangan penumotorak
d. Tanda Homman (bunyi renyah sehubungan dengan denyutan jantung, menunjukan udara dalam mediastinum)
e. Tekanan darah :Hipertensi/Hipotensi
f. Denyut Vena Jugularis
3. Integeritas ego
Tanda :Ketakutan, Gelisah
4. Makanan / Cairan
Tanda :Adanya pemasangan IV vena sentral/ Infus tekanan
5. Nyeri/ Kenyamanan
Gejala (Tergantung
pada ukuran /
area yang
terlibat ) : a. Nyeri dada unilateral, meningkat karma pernafasan, batuk.
Timbul tiba- tiba gejala sementara batuk atau regangan (Peneumotorak spontan )
b. Tajam dan nyeri, menusuk yang di perberat oleh nafas dalam , kemungkinan ke leher,bahu, abdomen (efusi pleural)
Tanda :a. Berhati- hati pada area yang sakit
b.Prilaku distraksi
c. Mengkerutkan wajah
6. Pernafasan
Gejala :Kesulitan bernafas, Lapar nafas
a. Batuk (mungkin gejala yang ada)
b. Riwayat bedah dada/ Trauma; Penyakit paru kronis, inflamasi / infeksi paru (empiema / efusi), penyakit interstisial menyebar (sarkoidosi); Keganasan ( mis.obstruksi tumor) Peneumotoraks spontan sebelumnya; Ruptur empisematous bula spontan, bleb sub pleural (PPOM).
Tanda :Pernafasan :Peningkatan frekwensi/ takipnea
a. Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot aksesori pernafasan pada dada, leher; rektraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat .
b. Bunyi nafas menurun atau tak ada ( sisi yang terlibat)
c. Premitus menurun (sisi yang terlibat )
d. ferkusi dada :Hiperresonan di atas area terisi udara (penumotoraks , bunyi pekak diatas area yang terisi cairan (hemotoraks)
e. Observasi dan palpasi dada: Gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kempes, penurunan pengembangan toraks ?(Area yang sakit).
f. Kulit:Pucat, sianosis, berkerigat ,resipitasi subkutan(udara pada jaringan dengan palpasi )
g. Mental :Ansietas ,gelisah, binggung,pingsan.
h. Pengunaan ventilasi mekanik tekanan positif / terapi PEEP
7. Keamanan
Gejala :a. Adanya trauma dada
b. Radiasi / kemoterapiuntuk keganasan
8. Penyuluhan pembelajaran
Gejala :a. Riwayat factor resiko :Tuberkolusis, kangker .
b. Adanya bedah intratorakal / biobsi paru
c. Bukti kegagalan membaik
E. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru (Akumulasi udara / cairan
Hasil yang diharapkan : Menunjukan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal .Bebas sianosis, dan dispnea
Intervensi:
Mandiri :
1. Mengidentifikasi etiologi / factor pencetus, contoh kolaps spontan, trauma, keganasan, infeksi, komplikasi ventilasi mekanik.
2. Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan / pernapasan serak, dispnea, keluhan “lapar udara” terjadinya sianosis, perubahan tanda vital.
3. Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi mekanik. Catat perubahan tekanan udara.
4. Auskultasi bunyi nafas
5. Kaji pasien adanya nyeri tekan bila batuk,nafas dalam
6. Pertahan kan posisi nyaman ,biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik kesisi yang sakit.
7. Pertahankan perilaku tenang, Bantu pasien untuk “control diri” dengan menggunakan pernafasan lebih lambat / dalam
8. Bila terpasang selang dada: Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar (batas air, pengatur dinding, / meja disusun dengan tepat ).
9. Periksa batas cairan pada botol penghisap ;pertahankan pada batas yang ditentukan.
Kolaborasi :
1. Kaji seri foto torak
2. Awasi / gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri .Kaji kapasitas vital/ pengukuran volume tidal.
3. Berikan oksigen tambahan melalui kanula/ masker sesui indikasi.
Rasional :
Mandiri :
1. Pemahaman penyebab kolaps perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terpeutik yang lain.
2. Disteres pernafasan dan perubahan pada tanda- tanda vital dapat terjadi karena stress foisiologis dan nyeri qatau dapat menunjukan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia/ perdarahan .
3. Kesulitan bernafas “dengan “ventilator” dan atau peningkatan tekanan jalan nafas diduga memburuknya kondisi / terjadinyan komplikasi .
4. Bunyi nafas dapat menurun atau tak ada pada lobus, segmen paru atau seluruh area paru ( unilateral). Area atelektasis tak ada bunyi nafas, dan sebagian area kolaps menurun bunyinya. Evaluasi juga dilakukan untuk area yang baik pertukaran gasnya dan memberikan data evaluasi perbaikan pleura.
5. Sokongan terhadap dada dan otot abnormal membuat batuk efektif/ mengurangi trauma.
6. Meningkatkan inspirasi maksimal ,meningkatkan ekspirasi paru dan ventilasi pada sisiyang tak sakit.
7. Membantu pasien mengalami efek fisiologi hipoksia yang dapat dimanifestasikan sabagai ansietas/ketakutan .
8. Mempertahankan tekanan negative intrapleural sesuai yang diberikan , yang meningkatkan ekspansi optimum dan drainase cairan.
9. Air botol penampung bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural,jika sumber penghisap diputuskan dan membantu dalam evaluasi apakah system drainase dada berfungsi dengan tepat.
Kolaborasi :
1. Mengawasi kemajuan perbaikan ekspirasi paru ,mengidentifikasi kesalahan posisi selang endotrakeal mempegaruhi inflasi paru .
2. Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi , perlu untuk kelanjutan atau gangguan dalam terapi
3. Alat dalam menurunkan kerja nafas; meningkatkan penghilangan distres respirasi dan sianosis sehubungan dengan hipoksemia.
2. Resiko terhadap Trauma/ penghentian nafas b.d pemasangan alat dari luar(system drainase dada)
Hasil yang diharapkan :Mengenal kebutuhan / mencari bantuan untuk mencegah komplikasi.
Intervensi :
Mandiri :
1. Kaji dengan pasien tujuan / fungsi unit drainase dada catat gambaran keamanan .
2. Pasangkan kateter toraks kedinding dada dan berikan panjang selang ekstra sebelum memindahkan atau mengubah posisi pasien :
• Amankan sisi sambungan selang
• Berbantalan pada sisi dengan kasa/ plester
3. Amankan unit drainase pada tempat tidur pasien atau pada sangkutan / tempat tertentu pada area dengan lalulintas rendah.
4. Awaasi sisi lubang pemasangan selang , cataat kondisi kulit, ,adanya /karaktristik drainase dari sekitar kateter. Ganti / pasang ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan .
5. Anjurkan klien untuk menghindari berbaring / menarik selang
6. Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan pada perawat , contoh perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba- tiba nyeri dada , lepaskan alat.
7. Observasi tanda distress pernafasan bila kateter torak tercabut/ terlepas
Rasional :
1. Infoermasi tentang bagaimana system bekerja memberikan keyakinan , menurunkan ansietas npasien .
2. Mencegakh terlepasnya kateter dada atau selang terlipat dan menurunkan nyeri/ ketidak nyamanan sehubungan dengan penarikan atau pergerakan selang .
• Mencegah terlep[asnya selang
• Melindungi kulit dari iritasi/ tekanan
3. Mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko kecelakaan jatuh/ unit pecah.
4. Memberikan pengenalan dini dan mengobati adanya erosi / infeksi kulit.
5. menurunkan resiko obstruksi drainase/ terlepasnya selang
6. intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius.
7. Efusi pleura dapat terulang / memburuk , karena mempengaruhi fungsi pernafasan dan memerlukan intervensi darurat.
3. Resti terhadap kerusakan ,pertukaran gas b.d Penurunan permukaan efektif paru
Hasil yang diharapkan :
o Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jarigan adekuat denga GDA dalam rentang normal.
o Bebas dasri gejala distres pernafasan
Intervensi :
Mandiri :
1. Kaji dispnea ,takipnea tak normal / menurunya bunyi nafas, peningkatan ,terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan .
2. Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran . Catat sianosis dan / atau perubahan waran kulit , termasuk membrane mukosa dan kuku.
3. Tunjukan / dorong bernafas dengan bibir selama ekhalasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
4. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan Bantu aktifitas perawatan diri sesuai keperluan .
Kolaborasi
1. Awasi seri GDA/ nadi osimetri
2. Berikan oksigen tambahan yang sesuai
Rasional
Mandiri :
1. Efusi pleura dapat menyebabkan efek luas pada paru, sehingga efek pernafasan dapat ringan sampai dispnea berat sampai disters pernafasan .
2. Pengaruh jalan nafas dapat menggangu oksigenasi organ vital dan jaringan
3. Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps/ penyempitan jalan nafas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan / menurunkan nafas pendek.
4. Menurunkan konsumsi oksigen / kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.
Kolaborasi :
1. Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan / atau saturasi atau peningkatan PacO2 menunjukan untuk intervensi / perubahan program terapi .
2. Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi / menurunya permukaan alveolar paru.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak kuat pertahanan utama (Trauma jaringan paru, Penurunan kerja silia, Stasis cairan tubuh..,Prosedur invasive,Penyakit kronis,Tidak kuat pertahanan sekunder(imun)
Hasil yang diharapkan :
• Menunjukan Pemahaman faktor resiko individu
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi
• Menunjukan teknik untuk meningkatkan lingkungan aman
Intervensi
Mandiri :
1. Catat Faktor resiko terjadinya infeksi Pastikan
2. Observasi warna /bau /Bau/Karakteristik cairan ,Catat drainase sekitar selang .
3. Turunkan faktor resiko nosolomial melalui cuci tangan yang tepat pada semua perawat, mempertahankan tehnik pengisapan steril
4. Dorong nafas dalam
5. Auskultasi bunyi nafas
6. Awasi / batasi pengunjung.Hindari kontak dengan infeksi saluran nafas atas
7. Anjurkan menyediakan wadah sekali pakai untuk mennampung sputum jika klien batuk berdahak
8. Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi.
9. Doerong perawatan diri / Aktifitas sampai batasan toleransi,Bantu dengan latihan bertahap
Kolaborasi :
1. Ambil kultur sputum sesuai indikasi
2. Berikan antimicrobial sesuai indikasi
Rasional
Mandiri :
1. Intubasi , ventilasi mekanik lama , ketidak mampuan umum , malnutrisi, usia ,dan prosedur invasive adalah factor dimana pasien potensial mengalami infeksi dan lama sembuh. Kesadaran akan factor resiko memberikan kesempatan untuk membatasi efeknya.
2. Kuning /hijau, sputum berbau purulen menunjukan infeksi; sputumkental, lengket diduga dehidrasi.
3. Faktor ini paling sederhanan tapi paling penting untuk mencegah infeksi di rumah sakit.
4. Memaksimalkan ekspansi paru
5. Adanya ronkhi/mengi diduga ada tahanan sekretyang perlu pengeluaran / pengisapan.
6. Individual telah dipengaruhi dan berada pada resiko tinggi mengalami infeksi
7. Menurunkan transmisi organisme melalui cairan
8. Membantu memperbaiki tahanan umum untuk memperbaiki tahanan umum untuk penyakit dan menurunkan resiko infeksi dan stasis sekret.
9. Memperbaiki kesehatan umum dan reganggan otot dan dapat merangsang perbaikan sistem imun.
Kolaborasi
1. Diperlukan untuk mengidentifikasi patogen dan antimikrobital yang tepat.
2. Satu atau lebih agen dapat digunakan tergantung pada identifikasi patogen bila infeksi terjadi.
5. Kurang pengetahuan b.d mengenai kondisi, aturan pengobatan
Hasil yang diharapkan :
Menyatakan pemahaman penyebab masalah
Mengidentifikasi tanda/ gejala yang memerlukan evaluasi medik
Mengikuti program pengobatan dan menunjukan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah
Intervensi
Mandiri :
1. Kaji kempuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah kelemahan , tingkat partisipasi, lingkungan terbaik dimana pasien dapat belajar, seberapa banyak isi, media terbaik, siapa yang terlibat.
2. Identifikasi kemungkinan kambuh/ komplikasi jangka panjang.
3. Kaji ulang tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat contoh nyeri dada tiba- tiba, dispnea, distres pernafasan lanjut.
4. Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, contoh nutrisi baik, istirahat, latihan.
5. Tekankan untuk tidak merokok dan minum alcohol
Rasional :
Mandiri :
1. Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan. Memberikan pengetahuan dasar untuk pemahaman kondisi dinamik dan pentingnya intervensi terapeutik
2. Penyakit paru seperti PPOM berat dan keganasan dapat meningkatkan insidenkambuh
3. Berulangnya penumotoraks/ efusi pleura /TB paru memerlukan intervensi medik untuk mencegah/ menurunkan potensial komplikasi.
4. Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan
5. meskipun merokok tidak merangsang berulangnya efusi pleura tetapi meningkatkan disfungsi pernapasan/bronchitis.
F. Implementasi
Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan masalah keperawatan, kolaborasi dan membantu dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dan mempasilitas koping, tahapan tindakan keperawatan ada 3 antara lain :
1. Persiapan : Perawat menyiapkan segala sesuatu yang perlu dalam tindakan
keperawatan, yaitu mengulang tindakan keperawatan yang diidentifikasikan pada tahap intervensi,menganalisa pengetahuan dan ketermpilan yang diperlukan dalam mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin muncul, menentukan kelengkapan dan menentukan lingkungan yang kondusif. Mengidentifikasi aspek hukum dan kode etik terhadap resiko dari kesalahan tindakan.
2. Intervensi : Pelaksanaan tindakan keperawatan yang bertjuan untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, adapun sifat tindakan keperawatan yaitu independen, interindependen,dan dependen.
3. Dokumentasi: Mendokumentasikan suatu proses keperawatan secara lengkap
dan akurat.
G. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan melihat sejauh mana diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan dan mengevaluasi kesalahan yang terjadi selama pengkajian, analisa, intervensi, mengimplementasi keperawatan.
a. Formatif
Evaluasi setelah rencana keperawata dilakukan untuk membantu keefektifan tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga tujuan tercapai.
b.Sumatif
Evaluasi yang diperlukan pada akhir tindakan keperawatan secara obyektif,
fleksibel dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Arif , Mansjoer .2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Edisi 3.Jakarta ; EGC
Dongoes, E.Marlyn ,dkk.1999.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN,PEDOMANUTUK PERAWATAN DAN PENDOKUMENTASIAN PERAWATAN PASIEN.Jakarta :EGC
Suddarth and Brunner.2001.KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH. Edisi 8.Jakarta ; EGC
Price A, Slivia ,dkk .2006.PATOFISIOLOGI .Edisi 6.Jakatra ; EGC
KOREKSI : 21/02/2008
GOOD ENOUGH ....
TINGKATKAN DAN LENGKAPI YANG MASIH KURANG SERTA BUAT RENPRA DALAM BENTUK BAGAN YA.....
EFUSI PLEURAL
A. Pengertian
Efusi pleural adalah Pengumpulan cairan dalam dalam ruang pleura (selaput yang menutupi permukaan paru-paru) yang terletak di antara permukaan visceral (selaput)dan parietal (dinding).
(Brunner and Suddarth edisi 8 volume 1,2001)
Efusi pleura adalah adalah Cairan yang terkumpuk dalam rongga pleura .
(Sylvia A.Price , 2006)
Efusi pleural adalah Terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura
(Arief mansjoer 1999)
Efusi pleural adalah Cairan yang tertumpuk dalam rongga pleura.
(Dr. HendraLaksman, 2003)
Kesimpulan :
Efus pleura adalah penumpukan cairan dalam rongga pleura yang disebakan oleh banyak faktor seperti penyakit dan tekanan abnormal dalamparu-paru.
Patofisiologi
1. Etiologi
Bisa terjadi 2 jenis efusi yang berbeda:
1. Efusi pleura transudativa, biasanya disebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paru-paru.
Jenis efusi transudativa yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung kongestif.
2. Efusi pleura eksudativa terjadi akibat peradangan pada pleura, yang seringkali disebabkan oleh penyakit paru-paru.
Kanker, tuberkulosis dan infeksi paru lainnya, reaksi obat, asbetosis dan sarkoidosis merupakan beberapa contoh penyakit yang bisa menyebabkan efusi pleura eksudativa.
Penyebab lain dari efusi pleura adalah:
• Kadar protein darah yang rendah
• Sirosis
• Pneumonia
• Abses dibawah diafragma
• Artritis rematoid
• Pankreatitis
• Emboli paru
• Tumor
• Lupus eritematosus sistemik
• Pembedahan jantung
• Cedera di dada
• Obat-obatan (hidralazin, prokainamid, isoniazid, fenitoin,klorpromazin, nitrofurantoin, bromokriptin, dantrolen, prokarbazin)
• Pemasanan selang untuk makanan atau selang intravena yang kurang baik.
• Efusi pleura dapat terjadi karena terjadinya inflamasi oleh bakteri atau tumor yang mengenai permukaann pleural juga dapat terjadi karena ketidak seimbangan tekanan hidrostatik dan osmotic.
2. Manifestasi klinis
Biasanya manifestasi klinisnya disebabkan oleh penyakit dasar (Peneumonia).
a.Demam
b. Mengigil
c. Nyeri dada pleuritis
d. Dispnea
e. Batuk
f. Sesak nafas
g. Bunyi nafas minimal
h. Egofoni akan terdengar diatas area efusi
i. Deviasi Trakea menjauhi tempat sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan .
3. Proses penyakit
TEKANAN HIDROSTATIK
Cairan masuk
Cairan tertimbun dalalm jaringan / Ruangan
Kongesti jantung (transudat) Abses paru/ kangker paru/TB paru
/Penumonia dll (elsudat)
Efusi pleura
Pola nafas tak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
Resiko terhadap Trauma/ penghentian nafas b.d pemasangan alat dari luar
Resti terhadap kerusakan ,pertukaran gas b.d Penurunan permukaan efektif paru
Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak kuat pertahanan utama (Trauma jaringan paru, Penurunan kerja silia, Stasis cairan tubuh..,Prosedur invasive,Penyakit kronis,Tidak kuat pertahanan sekunder(imun)
Kurang pengetahuan b.d mengenai kondisi, aturan pengobatan
4. Komplikasi
a. fibrosis paru :
1) Pleural Parietal
2) Pleura Viseral
5. Penatalaksanaan Medis
Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan.
Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut:
1. Rontgen dada
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan.
2. CT scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor
3. USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
4. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).
5. Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.
Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.
6. Analisa cairan pleura
Diindikasikan untuk mengetahui apakah apakah jenis cairan efusi efusi pleura apakah eksudat atau transudat.
7. Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.
8.Pemerikasaan Laboratorium seperti:
Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri,Pewarnaan Gram,basil tahan asam(utuk tuberkolusis), hitung sel darah meram dan putih, Pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase [LDH], Protein), Analisis sitologi utuk sel Malignan dan pH.
2. Terapi
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidak nyamanan serta dispena, Terapi yang di berikan adalah :
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah.
Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi).
Pengaliran cairan dan pemberian obat antitumor kadang mencegah terjadinya pengumpulan cairan lebih lanjut.
Jika pengumpulan cairan terus berlanjut, bisa dilakukan penutupan rongga pleura. Seluruh cairan dibuang melalui sebuah selang, lalu dimasukkan bahan iritan (misalnya larutan atau serbuk doxicycline) ke dalam rongga pleura. Bahan iritan ini akan menyatukan kedua lapisan pleura sehingga tidak lagi terdapat ruang tempat pengumpulan cairan tambahan.
Jika darah memasuki rongga pleura biasanya dikeluarkan melalui sebuah selang.
Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase).
sJika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan.
Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening.
Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.
D. Pengkajian
Adapun pengkajian yang di lakukan pada klien dengan efusi pleura adalah :
1.Aktifitas / istirahat
Gejala : Dispnea dengan aktifitas ataupun istirahat
2. Sirkulasi
Tanda :
a. Takikardia
a. Frekuensi tak teratur/disritmia
b. Irama jantung gallop(gagal jantung sekunder terhadap efusi plura)
c. Nadi apical (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal (dengan tegangan penumotorak
d. Tanda Homman (bunyi renyah sehubungan dengan denyutan jantung, menunjukan udara dalam mediastinum)
e. Tekanan darah :Hipertensi/Hipotensi
f. Denyut Vena Jugularis
3. Integeritas ego
Tanda :Ketakutan, Gelisah
4. Makanan / Cairan
Tanda :Adanya pemasangan IV vena sentral/ Infus tekanan
5. Nyeri/ Kenyamanan
Gejala (Tergantung
pada ukuran /
area yang
terlibat ) : a. Nyeri dada unilateral, meningkat karma pernafasan, batuk.
Timbul tiba- tiba gejala sementara batuk atau regangan (Peneumotorak spontan )
b. Tajam dan nyeri, menusuk yang di perberat oleh nafas dalam , kemungkinan ke leher,bahu, abdomen (efusi pleural)
Tanda :a. Berhati- hati pada area yang sakit
b.Prilaku distraksi
c. Mengkerutkan wajah
6. Pernafasan
Gejala :Kesulitan bernafas, Lapar nafas
a. Batuk (mungkin gejala yang ada)
b. Riwayat bedah dada/ Trauma; Penyakit paru kronis, inflamasi / infeksi paru (empiema / efusi), penyakit interstisial menyebar (sarkoidosi); Keganasan ( mis.obstruksi tumor) Peneumotoraks spontan sebelumnya; Ruptur empisematous bula spontan, bleb sub pleural (PPOM).
Tanda :Pernafasan :Peningkatan frekwensi/ takipnea
a. Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot aksesori pernafasan pada dada, leher; rektraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat .
b. Bunyi nafas menurun atau tak ada ( sisi yang terlibat)
c. Premitus menurun (sisi yang terlibat )
d. ferkusi dada :Hiperresonan di atas area terisi udara (penumotoraks , bunyi pekak diatas area yang terisi cairan (hemotoraks)
e. Observasi dan palpasi dada: Gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kempes, penurunan pengembangan toraks ?(Area yang sakit).
f. Kulit:Pucat, sianosis, berkerigat ,resipitasi subkutan(udara pada jaringan dengan palpasi )
g. Mental :Ansietas ,gelisah, binggung,pingsan.
h. Pengunaan ventilasi mekanik tekanan positif / terapi PEEP
7. Keamanan
Gejala :a. Adanya trauma dada
b. Radiasi / kemoterapiuntuk keganasan
8. Penyuluhan pembelajaran
Gejala :a. Riwayat factor resiko :Tuberkolusis, kangker .
b. Adanya bedah intratorakal / biobsi paru
c. Bukti kegagalan membaik
E. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru (Akumulasi udara / cairan
Hasil yang diharapkan : Menunjukan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal .Bebas sianosis, dan dispnea
Intervensi:
Mandiri :
1. Mengidentifikasi etiologi / factor pencetus, contoh kolaps spontan, trauma, keganasan, infeksi, komplikasi ventilasi mekanik.
2. Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan / pernapasan serak, dispnea, keluhan “lapar udara” terjadinya sianosis, perubahan tanda vital.
3. Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi mekanik. Catat perubahan tekanan udara.
4. Auskultasi bunyi nafas
5. Kaji pasien adanya nyeri tekan bila batuk,nafas dalam
6. Pertahan kan posisi nyaman ,biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik kesisi yang sakit.
7. Pertahankan perilaku tenang, Bantu pasien untuk “control diri” dengan menggunakan pernafasan lebih lambat / dalam
8. Bila terpasang selang dada: Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar (batas air, pengatur dinding, / meja disusun dengan tepat ).
9. Periksa batas cairan pada botol penghisap ;pertahankan pada batas yang ditentukan.
Kolaborasi :
1. Kaji seri foto torak
2. Awasi / gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri .Kaji kapasitas vital/ pengukuran volume tidal.
3. Berikan oksigen tambahan melalui kanula/ masker sesui indikasi.
Rasional :
Mandiri :
1. Pemahaman penyebab kolaps perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terpeutik yang lain.
2. Disteres pernafasan dan perubahan pada tanda- tanda vital dapat terjadi karena stress foisiologis dan nyeri qatau dapat menunjukan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia/ perdarahan .
3. Kesulitan bernafas “dengan “ventilator” dan atau peningkatan tekanan jalan nafas diduga memburuknya kondisi / terjadinyan komplikasi .
4. Bunyi nafas dapat menurun atau tak ada pada lobus, segmen paru atau seluruh area paru ( unilateral). Area atelektasis tak ada bunyi nafas, dan sebagian area kolaps menurun bunyinya. Evaluasi juga dilakukan untuk area yang baik pertukaran gasnya dan memberikan data evaluasi perbaikan pleura.
5. Sokongan terhadap dada dan otot abnormal membuat batuk efektif/ mengurangi trauma.
6. Meningkatkan inspirasi maksimal ,meningkatkan ekspirasi paru dan ventilasi pada sisiyang tak sakit.
7. Membantu pasien mengalami efek fisiologi hipoksia yang dapat dimanifestasikan sabagai ansietas/ketakutan .
8. Mempertahankan tekanan negative intrapleural sesuai yang diberikan , yang meningkatkan ekspansi optimum dan drainase cairan.
9. Air botol penampung bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural,jika sumber penghisap diputuskan dan membantu dalam evaluasi apakah system drainase dada berfungsi dengan tepat.
Kolaborasi :
1. Mengawasi kemajuan perbaikan ekspirasi paru ,mengidentifikasi kesalahan posisi selang endotrakeal mempegaruhi inflasi paru .
2. Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi , perlu untuk kelanjutan atau gangguan dalam terapi
3. Alat dalam menurunkan kerja nafas; meningkatkan penghilangan distres respirasi dan sianosis sehubungan dengan hipoksemia.
2. Resiko terhadap Trauma/ penghentian nafas b.d pemasangan alat dari luar(system drainase dada)
Hasil yang diharapkan :Mengenal kebutuhan / mencari bantuan untuk mencegah komplikasi.
Intervensi :
Mandiri :
1. Kaji dengan pasien tujuan / fungsi unit drainase dada catat gambaran keamanan .
2. Pasangkan kateter toraks kedinding dada dan berikan panjang selang ekstra sebelum memindahkan atau mengubah posisi pasien :
• Amankan sisi sambungan selang
• Berbantalan pada sisi dengan kasa/ plester
3. Amankan unit drainase pada tempat tidur pasien atau pada sangkutan / tempat tertentu pada area dengan lalulintas rendah.
4. Awaasi sisi lubang pemasangan selang , cataat kondisi kulit, ,adanya /karaktristik drainase dari sekitar kateter. Ganti / pasang ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan .
5. Anjurkan klien untuk menghindari berbaring / menarik selang
6. Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan pada perawat , contoh perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba- tiba nyeri dada , lepaskan alat.
7. Observasi tanda distress pernafasan bila kateter torak tercabut/ terlepas
Rasional :
1. Infoermasi tentang bagaimana system bekerja memberikan keyakinan , menurunkan ansietas npasien .
2. Mencegakh terlepasnya kateter dada atau selang terlipat dan menurunkan nyeri/ ketidak nyamanan sehubungan dengan penarikan atau pergerakan selang .
• Mencegah terlep[asnya selang
• Melindungi kulit dari iritasi/ tekanan
3. Mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko kecelakaan jatuh/ unit pecah.
4. Memberikan pengenalan dini dan mengobati adanya erosi / infeksi kulit.
5. menurunkan resiko obstruksi drainase/ terlepasnya selang
6. intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius.
7. Efusi pleura dapat terulang / memburuk , karena mempengaruhi fungsi pernafasan dan memerlukan intervensi darurat.
3. Resti terhadap kerusakan ,pertukaran gas b.d Penurunan permukaan efektif paru
Hasil yang diharapkan :
o Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jarigan adekuat denga GDA dalam rentang normal.
o Bebas dasri gejala distres pernafasan
Intervensi :
Mandiri :
1. Kaji dispnea ,takipnea tak normal / menurunya bunyi nafas, peningkatan ,terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan .
2. Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran . Catat sianosis dan / atau perubahan waran kulit , termasuk membrane mukosa dan kuku.
3. Tunjukan / dorong bernafas dengan bibir selama ekhalasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
4. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan Bantu aktifitas perawatan diri sesuai keperluan .
Kolaborasi
1. Awasi seri GDA/ nadi osimetri
2. Berikan oksigen tambahan yang sesuai
Rasional
Mandiri :
1. Efusi pleura dapat menyebabkan efek luas pada paru, sehingga efek pernafasan dapat ringan sampai dispnea berat sampai disters pernafasan .
2. Pengaruh jalan nafas dapat menggangu oksigenasi organ vital dan jaringan
3. Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps/ penyempitan jalan nafas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan / menurunkan nafas pendek.
4. Menurunkan konsumsi oksigen / kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.
Kolaborasi :
1. Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan / atau saturasi atau peningkatan PacO2 menunjukan untuk intervensi / perubahan program terapi .
2. Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi / menurunya permukaan alveolar paru.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak kuat pertahanan utama (Trauma jaringan paru, Penurunan kerja silia, Stasis cairan tubuh..,Prosedur invasive,Penyakit kronis,Tidak kuat pertahanan sekunder(imun)
Hasil yang diharapkan :
• Menunjukan Pemahaman faktor resiko individu
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi
• Menunjukan teknik untuk meningkatkan lingkungan aman
Intervensi
Mandiri :
1. Catat Faktor resiko terjadinya infeksi Pastikan
2. Observasi warna /bau /Bau/Karakteristik cairan ,Catat drainase sekitar selang .
3. Turunkan faktor resiko nosolomial melalui cuci tangan yang tepat pada semua perawat, mempertahankan tehnik pengisapan steril
4. Dorong nafas dalam
5. Auskultasi bunyi nafas
6. Awasi / batasi pengunjung.Hindari kontak dengan infeksi saluran nafas atas
7. Anjurkan menyediakan wadah sekali pakai untuk mennampung sputum jika klien batuk berdahak
8. Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi.
9. Doerong perawatan diri / Aktifitas sampai batasan toleransi,Bantu dengan latihan bertahap
Kolaborasi :
1. Ambil kultur sputum sesuai indikasi
2. Berikan antimicrobial sesuai indikasi
Rasional
Mandiri :
1. Intubasi , ventilasi mekanik lama , ketidak mampuan umum , malnutrisi, usia ,dan prosedur invasive adalah factor dimana pasien potensial mengalami infeksi dan lama sembuh. Kesadaran akan factor resiko memberikan kesempatan untuk membatasi efeknya.
2. Kuning /hijau, sputum berbau purulen menunjukan infeksi; sputumkental, lengket diduga dehidrasi.
3. Faktor ini paling sederhanan tapi paling penting untuk mencegah infeksi di rumah sakit.
4. Memaksimalkan ekspansi paru
5. Adanya ronkhi/mengi diduga ada tahanan sekretyang perlu pengeluaran / pengisapan.
6. Individual telah dipengaruhi dan berada pada resiko tinggi mengalami infeksi
7. Menurunkan transmisi organisme melalui cairan
8. Membantu memperbaiki tahanan umum untuk memperbaiki tahanan umum untuk penyakit dan menurunkan resiko infeksi dan stasis sekret.
9. Memperbaiki kesehatan umum dan reganggan otot dan dapat merangsang perbaikan sistem imun.
Kolaborasi
1. Diperlukan untuk mengidentifikasi patogen dan antimikrobital yang tepat.
2. Satu atau lebih agen dapat digunakan tergantung pada identifikasi patogen bila infeksi terjadi.
5. Kurang pengetahuan b.d mengenai kondisi, aturan pengobatan
Hasil yang diharapkan :
Menyatakan pemahaman penyebab masalah
Mengidentifikasi tanda/ gejala yang memerlukan evaluasi medik
Mengikuti program pengobatan dan menunjukan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah
Intervensi
Mandiri :
1. Kaji kempuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah kelemahan , tingkat partisipasi, lingkungan terbaik dimana pasien dapat belajar, seberapa banyak isi, media terbaik, siapa yang terlibat.
2. Identifikasi kemungkinan kambuh/ komplikasi jangka panjang.
3. Kaji ulang tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat contoh nyeri dada tiba- tiba, dispnea, distres pernafasan lanjut.
4. Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, contoh nutrisi baik, istirahat, latihan.
5. Tekankan untuk tidak merokok dan minum alcohol
Rasional :
Mandiri :
1. Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan. Memberikan pengetahuan dasar untuk pemahaman kondisi dinamik dan pentingnya intervensi terapeutik
2. Penyakit paru seperti PPOM berat dan keganasan dapat meningkatkan insidenkambuh
3. Berulangnya penumotoraks/ efusi pleura /TB paru memerlukan intervensi medik untuk mencegah/ menurunkan potensial komplikasi.
4. Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan
5. meskipun merokok tidak merangsang berulangnya efusi pleura tetapi meningkatkan disfungsi pernapasan/bronchitis.
F. Implementasi
Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan masalah keperawatan, kolaborasi dan membantu dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dan mempasilitas koping, tahapan tindakan keperawatan ada 3 antara lain :
1. Persiapan : Perawat menyiapkan segala sesuatu yang perlu dalam tindakan
keperawatan, yaitu mengulang tindakan keperawatan yang diidentifikasikan pada tahap intervensi,menganalisa pengetahuan dan ketermpilan yang diperlukan dalam mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin muncul, menentukan kelengkapan dan menentukan lingkungan yang kondusif. Mengidentifikasi aspek hukum dan kode etik terhadap resiko dari kesalahan tindakan.
2. Intervensi : Pelaksanaan tindakan keperawatan yang bertjuan untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, adapun sifat tindakan keperawatan yaitu independen, interindependen,dan dependen.
3. Dokumentasi: Mendokumentasikan suatu proses keperawatan secara lengkap
dan akurat.
G. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan melihat sejauh mana diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan dan mengevaluasi kesalahan yang terjadi selama pengkajian, analisa, intervensi, mengimplementasi keperawatan.
a. Formatif
Evaluasi setelah rencana keperawata dilakukan untuk membantu keefektifan tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga tujuan tercapai.
b.Sumatif
Evaluasi yang diperlukan pada akhir tindakan keperawatan secara obyektif,
fleksibel dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Arif , Mansjoer .2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Edisi 3.Jakarta ; EGC
Dongoes, E.Marlyn ,dkk.1999.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN,PEDOMANUTUK PERAWATAN DAN PENDOKUMENTASIAN PERAWATAN PASIEN.Jakarta :EGC
Suddarth and Brunner.2001.KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH. Edisi 8.Jakarta ; EGC
Price A, Slivia ,dkk .2006.PATOFISIOLOGI .Edisi 6.Jakatra ; EGC
KOREKSI : 21/02/2008
GOOD ENOUGH ....
TINGKATKAN DAN LENGKAPI YANG MASIH KURANG SERTA BUAT RENPRA DALAM BENTUK BAGAN YA.....
TB PARU
1. Pendahuluan
Penyakit TB Paru merupakan penyakit menahun/kronis (berlangsung lama) dan menular. Penyakit ini dapat diderita oleh setiap orang, tetapi paling sering menyerang orang-orang yang berusia antara 15 – 35 tahun, terutama mereka yang bertubuh lemah, kurang gizi atau yang tinggal satu rumah dan berdesak-desakan bersama penderita TBC. Lingkungan yang lembap, gelap dan tidak memiliki ventilasi memberikan andil besar bagi seseorang terjangkit TBC.
Penyakit Tuberkulosis dapat disembuhkan. Namun akibat dari kurangnya informasi berkaitan cara pencegahan dan pengobatan TBC, kematian akibat penyakit ini memiliki prevalensi yang besar. Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal.
2. Pengertian
• Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman Mycobakterium tuberkculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).
• Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).
• Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru (Smeltzer, 2001).
• Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah suatu penyaki yang disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium tuberculosis (id.wikipedia.org).
Berdasarkan beberapa definisi mengenai tuberkulosis diatas, maka dapat dirumuskan bahwa tuberculosis (TB) paru adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim paru, bersifat sistemis sehingga dapat mengenai organ tubuh lain, terutama meningen, tulang, dan nodus limfe.
3. Etiologi
Agens infeksius utama, mycobakterium tuberkulosis adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultra violet, dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Yang tergolong kuman mycobakterium tuberkulosis kompleks adalah:
• Mycobakterium tuberculosis
• Varian asian
• Varian african I
• Varian asfrican II
• Mycobakterium bovis
Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan mycobakterial othetan Tb (mott, atipyeal) adalah :
• Mycobacterium cansasli
• Mycobacterium avium
• Mycobacterium intra celulase
• Mycobacterium scrofulaceum
• Mycobacterium malma cerse
• Mycobacterium xenopi
Klasifikasi
a. Pembagian secara patologis :
• Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).
• Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).
b. Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
• Tuberkulosis Paru BTA positif.
• Tuberkulosis Paru BTA negative
c. Pembagian secara aktifitas radiologis :
• Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
• Tuberkulosis non aktif .
• Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
d. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
• Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
• Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
• For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
e. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Society memberikan klasifikasi baru:
• Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah, tes tuberculin negatif.
• Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
• Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
• Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
f. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
• Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat.
• Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
• Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
• Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.
4. Patofisiologi
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5 mikromilimeter.
Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit ( biasanya sel T ) adalah imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini basanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limposit dan limfokinnya. Raspon ini desebut sebagai reaksi hipersensitifitas (lambat).
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Gumpalan basil yang besar cendrung tertahan dihidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit ( Dannenberg 1981 ). Setelah berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah tersebut dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Sesudah hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa atau proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limposit. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.
Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon yang berbeda.Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru dinamakn fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Respon lain yang dapat terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring, telinga tengah atau usus.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen brokus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapt dekat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas. Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingge menjadi peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain. Jenis penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya.
5. Manifestasi Klinis
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
Ø Gejala sistemik/umum, antara lain sebagai berikut:
• Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
• Penurunan nafsu makan dan berat badan.
• Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
• Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Ø Gejala khusus, antara lain sebagai berikut:
• Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
• Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
• Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
• Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
6. Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
• Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
• Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
• Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
• Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
• Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
• Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.
• Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
• Anemia bila penyakit berjalan menahun
• Leukosit ringan dengan predominasi limfosit
• LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan.
• GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru.
• Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
• Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
b. Radiologi
• Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru atas simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk rongga akan fibrosa. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
• Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.
• Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).
c. Pemeriksaan fungsi paru
Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu: kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.
8. Pencegahan
• Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
• Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.
• Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak.
• Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
• Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
• Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
9. Penatalaksanaan
a. Farmakologi
Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis , yaitu sebagai berikut:
• Aktivitas bakterisid
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya masih aktif). Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan pengobatan).
• Aktivitas sterilisasi
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
Pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat saja. Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi resistensi. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi tuberculosis dilskukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap 2 macam obat atau lebih serta pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH
Adapun jenis obat yang dipakai adalah sebagai berikut :
- Obat Primer - Obat Sekunder
1. Isoniazid (H) 1. Ekonamid
2. Rifampisin (R) 2. Protionamid
3. Pirazinamid (Z) 3. Sikloserin
4. Streptomisin 4. Kanamisin
5. Etambutol (E) 5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
6. Tiasetazon
7. Viomisin
8. Kapreomisin
Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :
Ø Tahap INTENSIF
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Ø Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Paduan obat kategori 1 :
Tahap Lama (H) / day R day Z day F day Jumlah Hari XMinum Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 60
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 54
Paduan Obat kategori 2 :
Tahap Lama (H)@300
mg R@450
mg Z@500
mg E@ 250
Mg E@500
mg Strep.Injeksi JumlahHari X
Minum Obat
Intensif 2 bulan1 bulan 11 11 33 33 – 0,5 % 6030
Lanjutan 5 bulan 2 1 3 2 - 66
Paduan Obat kategori 3 :
Tahap Lama H @ 300 mg R@450mg P@500mg
Hari X Minum Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 60
Lanjutan3 x week 4 bulan 2 1 1 54
OAT sisipan (HRZE)
Tahap Lama H@300mg R@450mg Z@500mg E day@250mg Minum obat XHari
Intensif(dosis harian) 1 bulan 1 1 3 3 30
11. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f. Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
12. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
h. Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman.
13. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal. Setelah diberikan tindakan keperawatan kebersihan jalan napas efektif, dengan criteria hasil:
• Mempertahankan jalan napas pasien.
• Mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
• Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.
• Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi.
• Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. a. Kaji ulang fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
c. Berikan pasien posisi semi atau Fowler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.
d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.
e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
f. Lembabkan udara/oksigen inspirasi.
Kolaborasi:
g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi. a. Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. b. Pengeluaran sulit bila sekret tebal, sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut .
c. Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan.
d. Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
e. Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan.
f. Mencegah pengeringan membran mukosa.
g. Menurunkan kekentalan sekret, lingkaran ukuran lumen trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial. Setelah diberikan tindakan keperawatan pertukaran gas efektif, dengan kriteria hasil:
• Melaporkan tidak terjadi dispnea.
• Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
• Bebas dari gejala distress pernapasan. a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
c. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan, terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
d. Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan.
e. Monitor GDA.
f. Kolaborasi: Berikan oksigen sesuai indikasi. a. Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. b. Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan.
c. Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas.
d. Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi.
e. Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. adekuat atau perubahan terapi.
f. Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru.
Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan finansial. Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi adekuat, dengan kriteria hasil:
• Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi.
• Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.b. Kaji ulang pola diet pasien yang disukai/tidak disukai.
c. Monitor intake dan output secara periodik.
d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).
e. Anjurkan bedrest.
f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Kolaborasi:
h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.
i. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). a. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat b. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien.
c. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
d. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.
e. Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik.
f. Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah.
g. Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster.
h. Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet.
i. Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi.
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap Setelah diberikan tindakan keperawatan rasa nyeridapat berkurang atau terkontrol, dengan KH:
• Menyatakan nyeri berkurang atauterkontrol
• Pasien tampak rileks a. Observasi karakteristik nyeri, mis tajam, konstan , ditusuk. Selidiki perubahan karakter /lokasi/intensitas nyeri.b. Pantau TTV
c. Berikan tindakan nyaman mis, pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang, relaksasi/latihan nafas
d. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering..
e. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batukikasi.
f. Kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi a. Nyeri merupakan respon subjekstif yang dapat diukur.b. Perubahan frekuensi jantung TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan untuk perubahan tanda vital telah terlihat.
c. Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik.
d. Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.
e. Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk.
f. Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif, meningkatkan kenyamanan
Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif. Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh kembali normal dengan KH :
• Suhu tubuh 36°C-37°C a. Kaji suhu tubuh pasienb. Beri kompres air hangat
c. Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi)
d. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
e. Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai indikasi
f. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. a. Mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensib. Mengurangi panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil.
c. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi
d. Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
e. Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
f. Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien diharapkan mampu melakukan aktivitas dalam batas yang ditoleransi dengan kriteria hasil:
• Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentan normal. a. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan atau kelelahan.b. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatandan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
d. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat.
e. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. a. Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien memudahkan pemilihan intervensi.b. Menurunkan stress dan rangsanagn berlebihan, meningkatkan istirahat.
c. Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic, menghemat energy untuk penyembuhan.
d. Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal.
e. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbanagnsuplai dan kebutuhan oksigen.
Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif Setelah diberikan tindakan keperawatan tingkat pengetahuan pasien meningkat, dengan kriteria hasil:
• Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosisdan kebutuhan pengobatan.
• Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru.
• Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi.
• Menerima perawatan kesehatan adekuat a. Kaji ulang kemampuan belajar pasien misalnya: perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.b. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.
c. Jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.
d. Jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.
e. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.
f. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.
g. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan.
h. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. a. Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien.
c. Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat.
d. Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.
e. Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis
f. Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau.
g. Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus.
h. Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman.
Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman. Setelah diberikan tindakan keperawatan tidak terjadi penyebaran/ aktivitas ulang infeksi, dengan kriteria hasil:
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
• Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. aman.
- a. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi.b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.
c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk.
d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan.
e. Monitor temperatur.
f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker.
g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.
Kolaborasi:
h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.
i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.
j. Monitor sputum BTA. a. Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi. b. Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi.
c. Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.
d. Mengurangi risilio penyebaran infeksi.
e. Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.
f. Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk.
g. Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
h. INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama.
i. Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten
j. Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi
14. Evaluasi
Dx 1:Kebersihan jalan napas efektif, dengan kriteria evaluasi:
• Mempertahankan jalan napas pasien.
• Mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
• Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.
• Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi.
• Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
Dx 2: Pertukaran gas efektif, dengan kriteria evaluasi:
• Melaporkan tidak terjadi dispnea.
• Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
• Bebas dari gejala distress pernapasan.
Dx 3: Kebutuhan nutrisi adekuat, dengan kriteria evaluasi:
• Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi.
• Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
Dx 4: Nyeridapat berkurang atau terkontrol, dengan kriteria evaluasi:
• Menyatakan nyeri berkurang atauterkontrol
• Pasien tampak rileks
DX 5 : Suhu tubuh kembali normal dengan kriteria evaluasi :
• Suhu tubuh 36°C-37°C.
DX 6 : Pasien mampu melakukan aktivitas dalam batas yang ditoleransi dengan kriteria evaluasi :
• Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentan normal.
DX 7 : Tingkat pengetahuan pasien meningkat, dengan kriteria evaluasi:
• Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosisdan kebutuhan pengobatan.
• Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru.
• Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi.
• Menerima perawatan kesehatan adekuat.
DX 8 :Tidak terjadi penyebaran/ aktivitas ulang infeksi, dengan kriteria evaluasi:
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
• Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. aman.
Daftar pustaka
Anonymous.(2010). Tuberkulosis.Retrieved: Kamis, 11 Maret 2010, from http://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis
Content Team, Asian Brain. (2009 ). Tuberkulosis (TBC).Retrieved: Kamis, 11 Maret 2010, from http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/tbc.htm
Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif ,dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI Media Aescullapius.
Price, Sylvia Anderson.2005.Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit , Edisi 6.Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne. C dan Bare, Brenda. G. 2001. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth Volume 1. Jakarta: EGC
Underwood, J.C.E.1999.Patologi Umum dan Sistematik Volume 2.Jakarta: EGC
Penyakit TB Paru merupakan penyakit menahun/kronis (berlangsung lama) dan menular. Penyakit ini dapat diderita oleh setiap orang, tetapi paling sering menyerang orang-orang yang berusia antara 15 – 35 tahun, terutama mereka yang bertubuh lemah, kurang gizi atau yang tinggal satu rumah dan berdesak-desakan bersama penderita TBC. Lingkungan yang lembap, gelap dan tidak memiliki ventilasi memberikan andil besar bagi seseorang terjangkit TBC.
Penyakit Tuberkulosis dapat disembuhkan. Namun akibat dari kurangnya informasi berkaitan cara pencegahan dan pengobatan TBC, kematian akibat penyakit ini memiliki prevalensi yang besar. Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal.
2. Pengertian
• Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman Mycobakterium tuberkculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).
• Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).
• Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru (Smeltzer, 2001).
• Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah suatu penyaki yang disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium tuberculosis (id.wikipedia.org).
Berdasarkan beberapa definisi mengenai tuberkulosis diatas, maka dapat dirumuskan bahwa tuberculosis (TB) paru adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim paru, bersifat sistemis sehingga dapat mengenai organ tubuh lain, terutama meningen, tulang, dan nodus limfe.
3. Etiologi
Agens infeksius utama, mycobakterium tuberkulosis adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultra violet, dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Yang tergolong kuman mycobakterium tuberkulosis kompleks adalah:
• Mycobakterium tuberculosis
• Varian asian
• Varian african I
• Varian asfrican II
• Mycobakterium bovis
Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan mycobakterial othetan Tb (mott, atipyeal) adalah :
• Mycobacterium cansasli
• Mycobacterium avium
• Mycobacterium intra celulase
• Mycobacterium scrofulaceum
• Mycobacterium malma cerse
• Mycobacterium xenopi
Klasifikasi
a. Pembagian secara patologis :
• Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).
• Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).
b. Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
• Tuberkulosis Paru BTA positif.
• Tuberkulosis Paru BTA negative
c. Pembagian secara aktifitas radiologis :
• Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
• Tuberkulosis non aktif .
• Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
d. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
• Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
• Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
• For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
e. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Society memberikan klasifikasi baru:
• Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah, tes tuberculin negatif.
• Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
• Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
• Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
f. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
• Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat.
• Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
• Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
• Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.
4. Patofisiologi
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5 mikromilimeter.
Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit ( biasanya sel T ) adalah imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini basanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limposit dan limfokinnya. Raspon ini desebut sebagai reaksi hipersensitifitas (lambat).
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Gumpalan basil yang besar cendrung tertahan dihidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit ( Dannenberg 1981 ). Setelah berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah tersebut dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Sesudah hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa atau proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limposit. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.
Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon yang berbeda.Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru dinamakn fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Respon lain yang dapat terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring, telinga tengah atau usus.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen brokus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapt dekat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas. Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingge menjadi peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain. Jenis penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya.
5. Manifestasi Klinis
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
Ø Gejala sistemik/umum, antara lain sebagai berikut:
• Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
• Penurunan nafsu makan dan berat badan.
• Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
• Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Ø Gejala khusus, antara lain sebagai berikut:
• Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
• Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
• Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
• Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
6. Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
• Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
• Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
• Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
• Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
• Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
• Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.
• Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
• Anemia bila penyakit berjalan menahun
• Leukosit ringan dengan predominasi limfosit
• LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan.
• GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru.
• Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
• Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
b. Radiologi
• Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru atas simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk rongga akan fibrosa. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
• Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.
• Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).
c. Pemeriksaan fungsi paru
Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu: kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.
8. Pencegahan
• Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
• Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.
• Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak.
• Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
• Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
• Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
9. Penatalaksanaan
a. Farmakologi
Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis , yaitu sebagai berikut:
• Aktivitas bakterisid
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya masih aktif). Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan pengobatan).
• Aktivitas sterilisasi
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
Pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat saja. Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi resistensi. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi tuberculosis dilskukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap 2 macam obat atau lebih serta pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH
Adapun jenis obat yang dipakai adalah sebagai berikut :
- Obat Primer - Obat Sekunder
1. Isoniazid (H) 1. Ekonamid
2. Rifampisin (R) 2. Protionamid
3. Pirazinamid (Z) 3. Sikloserin
4. Streptomisin 4. Kanamisin
5. Etambutol (E) 5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
6. Tiasetazon
7. Viomisin
8. Kapreomisin
Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :
Ø Tahap INTENSIF
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Ø Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Paduan obat kategori 1 :
Tahap Lama (H) / day R day Z day F day Jumlah Hari XMinum Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 60
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 54
Paduan Obat kategori 2 :
Tahap Lama (H)@300
mg R@450
mg Z@500
mg E@ 250
Mg E@500
mg Strep.Injeksi JumlahHari X
Minum Obat
Intensif 2 bulan1 bulan 11 11 33 33 – 0,5 % 6030
Lanjutan 5 bulan 2 1 3 2 - 66
Paduan Obat kategori 3 :
Tahap Lama H @ 300 mg R@450mg P@500mg
Hari X Minum Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 60
Lanjutan3 x week 4 bulan 2 1 1 54
OAT sisipan (HRZE)
Tahap Lama H@300mg R@450mg Z@500mg E day@250mg Minum obat XHari
Intensif(dosis harian) 1 bulan 1 1 3 3 30
11. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f. Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
12. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
h. Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman.
13. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal. Setelah diberikan tindakan keperawatan kebersihan jalan napas efektif, dengan criteria hasil:
• Mempertahankan jalan napas pasien.
• Mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
• Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.
• Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi.
• Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. a. Kaji ulang fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
c. Berikan pasien posisi semi atau Fowler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.
d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.
e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
f. Lembabkan udara/oksigen inspirasi.
Kolaborasi:
g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi. a. Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. b. Pengeluaran sulit bila sekret tebal, sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut .
c. Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan.
d. Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
e. Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan.
f. Mencegah pengeringan membran mukosa.
g. Menurunkan kekentalan sekret, lingkaran ukuran lumen trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial. Setelah diberikan tindakan keperawatan pertukaran gas efektif, dengan kriteria hasil:
• Melaporkan tidak terjadi dispnea.
• Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
• Bebas dari gejala distress pernapasan. a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
c. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan, terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
d. Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan.
e. Monitor GDA.
f. Kolaborasi: Berikan oksigen sesuai indikasi. a. Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. b. Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan.
c. Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas.
d. Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi.
e. Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. adekuat atau perubahan terapi.
f. Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru.
Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan finansial. Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi adekuat, dengan kriteria hasil:
• Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi.
• Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.b. Kaji ulang pola diet pasien yang disukai/tidak disukai.
c. Monitor intake dan output secara periodik.
d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).
e. Anjurkan bedrest.
f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Kolaborasi:
h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.
i. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). a. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat b. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien.
c. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
d. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.
e. Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik.
f. Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah.
g. Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster.
h. Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet.
i. Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi.
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap Setelah diberikan tindakan keperawatan rasa nyeridapat berkurang atau terkontrol, dengan KH:
• Menyatakan nyeri berkurang atauterkontrol
• Pasien tampak rileks a. Observasi karakteristik nyeri, mis tajam, konstan , ditusuk. Selidiki perubahan karakter /lokasi/intensitas nyeri.b. Pantau TTV
c. Berikan tindakan nyaman mis, pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang, relaksasi/latihan nafas
d. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering..
e. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batukikasi.
f. Kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi a. Nyeri merupakan respon subjekstif yang dapat diukur.b. Perubahan frekuensi jantung TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan untuk perubahan tanda vital telah terlihat.
c. Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik.
d. Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.
e. Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk.
f. Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif, meningkatkan kenyamanan
Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif. Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh kembali normal dengan KH :
• Suhu tubuh 36°C-37°C a. Kaji suhu tubuh pasienb. Beri kompres air hangat
c. Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi)
d. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
e. Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai indikasi
f. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. a. Mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensib. Mengurangi panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil.
c. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi
d. Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
e. Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
f. Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien diharapkan mampu melakukan aktivitas dalam batas yang ditoleransi dengan kriteria hasil:
• Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentan normal. a. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan atau kelelahan.b. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatandan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
d. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat.
e. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. a. Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien memudahkan pemilihan intervensi.b. Menurunkan stress dan rangsanagn berlebihan, meningkatkan istirahat.
c. Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic, menghemat energy untuk penyembuhan.
d. Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal.
e. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbanagnsuplai dan kebutuhan oksigen.
Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif Setelah diberikan tindakan keperawatan tingkat pengetahuan pasien meningkat, dengan kriteria hasil:
• Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosisdan kebutuhan pengobatan.
• Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru.
• Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi.
• Menerima perawatan kesehatan adekuat a. Kaji ulang kemampuan belajar pasien misalnya: perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.b. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.
c. Jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.
d. Jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.
e. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.
f. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.
g. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan.
h. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. a. Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien.
c. Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat.
d. Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.
e. Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis
f. Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau.
g. Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus.
h. Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman.
Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman. Setelah diberikan tindakan keperawatan tidak terjadi penyebaran/ aktivitas ulang infeksi, dengan kriteria hasil:
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
• Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. aman.
- a. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi.b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.
c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk.
d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan.
e. Monitor temperatur.
f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker.
g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.
Kolaborasi:
h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.
i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.
j. Monitor sputum BTA. a. Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi. b. Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi.
c. Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.
d. Mengurangi risilio penyebaran infeksi.
e. Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.
f. Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk.
g. Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
h. INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama.
i. Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten
j. Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi
14. Evaluasi
Dx 1:Kebersihan jalan napas efektif, dengan kriteria evaluasi:
• Mempertahankan jalan napas pasien.
• Mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
• Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.
• Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi.
• Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
Dx 2: Pertukaran gas efektif, dengan kriteria evaluasi:
• Melaporkan tidak terjadi dispnea.
• Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
• Bebas dari gejala distress pernapasan.
Dx 3: Kebutuhan nutrisi adekuat, dengan kriteria evaluasi:
• Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi.
• Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
Dx 4: Nyeridapat berkurang atau terkontrol, dengan kriteria evaluasi:
• Menyatakan nyeri berkurang atauterkontrol
• Pasien tampak rileks
DX 5 : Suhu tubuh kembali normal dengan kriteria evaluasi :
• Suhu tubuh 36°C-37°C.
DX 6 : Pasien mampu melakukan aktivitas dalam batas yang ditoleransi dengan kriteria evaluasi :
• Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentan normal.
DX 7 : Tingkat pengetahuan pasien meningkat, dengan kriteria evaluasi:
• Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosisdan kebutuhan pengobatan.
• Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru.
• Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi.
• Menerima perawatan kesehatan adekuat.
DX 8 :Tidak terjadi penyebaran/ aktivitas ulang infeksi, dengan kriteria evaluasi:
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
• Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. aman.
Daftar pustaka
Anonymous.(2010). Tuberkulosis.Retrieved: Kamis, 11 Maret 2010, from http://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis
Content Team, Asian Brain. (2009 ). Tuberkulosis (TBC).Retrieved: Kamis, 11 Maret 2010, from http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/tbc.htm
Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif ,dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI Media Aescullapius.
Price, Sylvia Anderson.2005.Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit , Edisi 6.Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne. C dan Bare, Brenda. G. 2001. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth Volume 1. Jakarta: EGC
Underwood, J.C.E.1999.Patologi Umum dan Sistematik Volume 2.Jakarta: EGC
HIV/AIDS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengetahuan
Menurut (Blanchard & Thacker, 2004) pengetahuan dikategorikan sebagai berikut :
a. Informasi yang didapatkan dan diletakkan dalam ingatan kita (deklaratif).
b. Bagaimana informasi dikumpulkan dan digunakan ke sesuatu hal yang sudah kita ketahui (procedural).
c. Mengerti tentang how, when, dan why informasi tersebut berguna dan dapat digunakan (strategic).
(www.Damandiri, 2004)
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip, dan prosedur yang secara Probilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Dalam pengertian lain pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indra atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalinya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman indrawi dikenali sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan dekriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.
Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori ; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi. (Wikipedia, 2004)
Pengetahuan adalah ilmu yang didapat dengan cara belajar, membaca, dan dari pengalaman.
2. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) antara lain :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi suatu objek di dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penillaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodje (2002), dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Secara Tradisional
Cara penemuan tradisional meliputi :
1) Cara coba salah (Trial and error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan bila tidak berhasil, dapat dicoba kemungkinaan yang lain begitu pula seterusnya sampai masalah tersebut terpecahkan.
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun menurun dari generasi ke generasi berikutnya. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pimpinan-pimpinan masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan, dan sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli pengetahuan. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris atau pun berdasarkan penularan sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang dikemukakannya adalah benar.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang terbaik, maksudnya bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
b. Secara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan yang sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah.
Kriteria metode ilmiah terdiri dari :
1) Berdasarkan fakta
Informasi-informasi atau keterangan-keterangan yang akan diperoleh penelitian, baik yang akan dikumpulkan maupun dianalisis hendaknya berdasarkan fakte-fakta atau kenyataan-kenyataan, baik berdasarkan pemikiran sendiri atau dugaan-dugaan.
2) Bebas dari prasangka
Penggunaan fakta atau data metode ilmiah hendaknya berdasarkan bukti yang lengkap dan objektif, bebas dari pertimbangan-pertimbangan subjektif.
3) Menggunakan prinsip analisis
Fakta atau data yang diperoleh melalui penggunaan metode ilmiah tidak hanya apa adanya. Fakta serta kejadian-kejadian tersebut harus dicari sebab akibatnya atau alasan-alasannya dengan menggunakan prinsip analisis.
4) Menggunakan hipotesa
Hipotesis atau dugaan sementara diperlukan untuk memandu jalan pikiran ke arah tujuan yang akan dicapai.
5) Menggunakan ukuran objektif
Pelaksanaan penelitian atau pengumpulan data harus menggunakan ukuran-ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dinyatakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subjektif (pribadi).
4. Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Batas usia remaja berbeda-beda sesuai sosial budaya setempat.
Menurut WHO (Badan PBB Untuk Kesehatan Dunia) batas usia remaja adalah 12-24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10-19 dan belum menikah. Sementara itu menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batas usia remaja adalah 10-21 tahun. (www.BKKBN)
5. HIV/AIDS
a. Pengertian
1) Virus HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. (http://organisasi.com, 2006)
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah mikro organisme yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. (http://pmi, 2007)
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia-terutama CD4 + T cell dan macrophage, komponen vital dari sistem-sistem kekebalan tubuh “tuan rumah” - dan mengancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.
HIV adalah anggota dari genus lentivirus (1), bagian dari keluarga retroviridae (2) yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel - host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein / RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia : HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih “virulent” dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia ; HIV-2 kebanyakkan masih terkurung di Afrika Barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di Afrika Barat dan Tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis.
(www.wikipedia.com, 2004)
HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. HIV menyerang sistem daya tahan badan*, menyebabkan badan lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit. Jika seseorang disahkan dijangkiti HIV, orang itu dipanggil positif-HIV (HIV+) tetapi tidak semestinya dia menghadapi AIDS. (www.afa, 2000)
HIV adalah singkatan dari pada Human Immunodeficiency Virus, yaitu sejenis virus yang bertindak dengan melemahkan dan memusnahkan sistem daya tahan badan manusia. Virus HIV telah dikenal pasti sebagai virus yang menyebabkan AIDS. (www.sabah, 2007)
HIV adalah penyakit yang dapat menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan manusia terserang penyakit lainnya.
2) Penyakit AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 dalam sel darah putih yang banyak dirusak oleh virus HIV.
(http://organisasi, 2006)
AIDS (Acquired Immune Defficiency Syndroms) kumpulan gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan oleh virus yang disebut HIV.
(http://pmi, 2007)
AIDS adalah nama yang yang diberi kepada sekumpulan penyakit yang menjangkiti orang yang HIV+. Ia berlaku apabila sistem daya tahan badan orang tersebut menjadi semakin lemah dan tidak berupaya melawan penyakit. (www.afa, 2000)
AIDS merujuk kepada kumpulan penyakit-penyakit yang dihadapi oleh orang-orang yang dijangkiti virus HIV, akibat sistem daya tahan badan mereka yang telah lemah atau musnah.
Acquired : Diperoleh dengan melakukan sesuatu, yakni bukan semula jadi
Immune : Merujuk kepada sistem daya tahan badan
Deficiency ; Kekurangan atau kelemahan. Dengan itu, immunodeficiency bermakna sistem daya tahan yang telah lemah dan kurang berupaya melawan penyakit yang biasanya mudah dihapuskan
Syndrome : Merujuk kepada sesuatu yang keadaan, gejala atau tanda.
Sistem daya tahan badan seseorang yang telah dijangkiti oleh virus HIV boleh menjadi begitu lemah, sehingga ia tidak dapat melawan anasir-anasir yang menggangu sistem badannya, sekalipun penyakit-penyakit tadi biasanya ringan dan senang disembuh. (www.sabah, 2007)
b. Cara Penularan
Metode / teknik penularan dan penyebaran HIV / AIDS, yaitu :
1) Darah
Contoh : transfusi darah, terkena darah HIV + pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi pada kulit yang luka, jarum suntik dan sebagainya.
2) Cairan semen, air mani, sperma dan peju pria
Contoh : laki-laki berhubungan badan tanpa kondom atau pengaman lainnya, oral seks, dan sebagainya.
3) Cairan vagina pada perempuan
Contohnya : wanita berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks dan lain-lain.
4) Air susu ibu / ASI
Contohnya : bayi minum ASI dari wanita HIV +, laki-laki meminum susu ASI pasanganya, dan lain sebagainya.
(http://organisasi, 2006)
Cara penularannya meliputi
1) Lewat transfusi darah yang telah tercemar HIV
2) Lewat jarum suntik yang telah tercemar akupunctur, tindik, tato dan pisau cukur yang berganti-gantian, alat facial
3) Cairan sperma dan cairan vagina
4) Lewat air susu ibu
5) Dari ibu kepada anak yang dikandung (25%)
(http://pmi, 2007)
c. Media Penularan
1) Cairan darah dan produk darah
2) Cairan sperma
3) Cairan vagina
(http://pmi, 2007)
HIV/AIDS tidak menular melalui
1) Makan minum bersama
2) Fasilitas umum seperti WC umum, telepon umum
3) Gigitan nyamuk
4) Lewat keringat, air mata
5) Bersenggolan, berjabat tangan, cium pipi, rangkulan, berenang bersama
(http://pmi, 2007)
d. Tanda dan Gejala Penularan
Gejala yang sering ditemukan namun bukan pasti penderita HIV/AIDS hanya perkiraan :
1) Demam dalam waktu lama
2) Diare berkepanjangan
3) Berat badan turun dengan cepat
4) Gatal dan infeksi kulit yang sulit sembuh
5) Infeksi jamur pada mulut
6) Pembengkakan kelenjar getah bening
Secara pasti hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan darah. (http://pmi, 2007)
e. Pencegahan
1) Umum
a) A = Abstinance (tidak mengadakan hubungan seksual dengan orang lain kecuali dengan pasangan sendiri)
b) B = Be Faithful (setia kepada pasangan)
c) C = Condom (gunakan kondom agar tidak tertular)
d) D = Drug (jangan menggunakan obat terlarang terutama dengan suntikan)
e) E = Equipment (gunakan alat steril untuk kepentingan apa saja)
2) Pengguna Napza
a) Berhenti menggunakan sebelum tertular
b) Atau paling tidak, tidak memakai jarum suntik
c) Atau paling tidak sekali pakai, buang jarum suntik
d) Atau paling tidak pakai berulang tapi untuk sendiri saja
e) Atau paling tidak pakai bergantian, tapi steriliasi dulu
3) Untuk Remaja
a) Tidak melakukan seks pranikah
b) Mencari info tentang HIV/AIDS
c) Mendiskusikan HIV/AIDS
d) Tidak menggunakan Napza (khususnya metode suntik)
(http://pmi, 2007)
1) Perawatan
Perawatan dilakukan dengan mengingat prinsip-prinsip isolasi protektif dan isolasi preventif.
2) Rehabilitasi/Edukasi
Rehabilitasi ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk :
a) Memberikan dukungan mental-psikologis
b) Membantu mereka untuk bisa mengubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang tidak beresiko atau kurang beresiko
a) Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
b) Membantu mereka untuk solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat.
3) Edukasi
Edukasi pada masalah HIV/AIDS bertujuan untuk mendidik pasien dan keluarganya tentang bagaimana mengahadapi kenyataan hidup bersama AIDS, kemudian diskriminasi dari masyarakat sekitar, bagaimana tanggung jawab keluarga, teman dekat atau masyarakat lain. Pendidikan juga diberikan tentang cara hidup sehat, mengatur diet, menghindari dari kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan, a.l. rokok, minuman keras narkotika dan sebagainya.
B. Kerangka Teori
Modifikasi dari teori H.R. Blum, 1994 dan Green, 1980
C. Kerangka Konsep
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak Diteliti
D. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang pengertian HIV/AIDS ?
2. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang cara penularan HIV/AIDS ?
3. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang media penularan ?
4. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang tanda dan gejala HIV/AIDS ?
5. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang pencegahan dan penatalaksanaan HIV/AIDS ?
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengetahuan
Menurut (Blanchard & Thacker, 2004) pengetahuan dikategorikan sebagai berikut :
a. Informasi yang didapatkan dan diletakkan dalam ingatan kita (deklaratif).
b. Bagaimana informasi dikumpulkan dan digunakan ke sesuatu hal yang sudah kita ketahui (procedural).
c. Mengerti tentang how, when, dan why informasi tersebut berguna dan dapat digunakan (strategic).
(www.Damandiri, 2004)
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip, dan prosedur yang secara Probilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Dalam pengertian lain pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indra atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalinya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman indrawi dikenali sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan dekriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.
Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori ; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi. (Wikipedia, 2004)
Pengetahuan adalah ilmu yang didapat dengan cara belajar, membaca, dan dari pengalaman.
2. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) antara lain :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi suatu objek di dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penillaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodje (2002), dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Secara Tradisional
Cara penemuan tradisional meliputi :
1) Cara coba salah (Trial and error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan bila tidak berhasil, dapat dicoba kemungkinaan yang lain begitu pula seterusnya sampai masalah tersebut terpecahkan.
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun menurun dari generasi ke generasi berikutnya. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pimpinan-pimpinan masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan, dan sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli pengetahuan. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris atau pun berdasarkan penularan sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang dikemukakannya adalah benar.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang terbaik, maksudnya bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
b. Secara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan yang sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah.
Kriteria metode ilmiah terdiri dari :
1) Berdasarkan fakta
Informasi-informasi atau keterangan-keterangan yang akan diperoleh penelitian, baik yang akan dikumpulkan maupun dianalisis hendaknya berdasarkan fakte-fakta atau kenyataan-kenyataan, baik berdasarkan pemikiran sendiri atau dugaan-dugaan.
2) Bebas dari prasangka
Penggunaan fakta atau data metode ilmiah hendaknya berdasarkan bukti yang lengkap dan objektif, bebas dari pertimbangan-pertimbangan subjektif.
3) Menggunakan prinsip analisis
Fakta atau data yang diperoleh melalui penggunaan metode ilmiah tidak hanya apa adanya. Fakta serta kejadian-kejadian tersebut harus dicari sebab akibatnya atau alasan-alasannya dengan menggunakan prinsip analisis.
4) Menggunakan hipotesa
Hipotesis atau dugaan sementara diperlukan untuk memandu jalan pikiran ke arah tujuan yang akan dicapai.
5) Menggunakan ukuran objektif
Pelaksanaan penelitian atau pengumpulan data harus menggunakan ukuran-ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dinyatakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subjektif (pribadi).
4. Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Batas usia remaja berbeda-beda sesuai sosial budaya setempat.
Menurut WHO (Badan PBB Untuk Kesehatan Dunia) batas usia remaja adalah 12-24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10-19 dan belum menikah. Sementara itu menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batas usia remaja adalah 10-21 tahun. (www.BKKBN)
5. HIV/AIDS
a. Pengertian
1) Virus HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. (http://organisasi.com, 2006)
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah mikro organisme yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. (http://pmi, 2007)
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia-terutama CD4 + T cell dan macrophage, komponen vital dari sistem-sistem kekebalan tubuh “tuan rumah” - dan mengancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.
HIV adalah anggota dari genus lentivirus (1), bagian dari keluarga retroviridae (2) yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel - host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein / RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia : HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih “virulent” dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia ; HIV-2 kebanyakkan masih terkurung di Afrika Barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di Afrika Barat dan Tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis.
(www.wikipedia.com, 2004)
HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. HIV menyerang sistem daya tahan badan*, menyebabkan badan lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit. Jika seseorang disahkan dijangkiti HIV, orang itu dipanggil positif-HIV (HIV+) tetapi tidak semestinya dia menghadapi AIDS. (www.afa, 2000)
HIV adalah singkatan dari pada Human Immunodeficiency Virus, yaitu sejenis virus yang bertindak dengan melemahkan dan memusnahkan sistem daya tahan badan manusia. Virus HIV telah dikenal pasti sebagai virus yang menyebabkan AIDS. (www.sabah, 2007)
HIV adalah penyakit yang dapat menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan manusia terserang penyakit lainnya.
2) Penyakit AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 dalam sel darah putih yang banyak dirusak oleh virus HIV.
(http://organisasi, 2006)
AIDS (Acquired Immune Defficiency Syndroms) kumpulan gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan oleh virus yang disebut HIV.
(http://pmi, 2007)
AIDS adalah nama yang yang diberi kepada sekumpulan penyakit yang menjangkiti orang yang HIV+. Ia berlaku apabila sistem daya tahan badan orang tersebut menjadi semakin lemah dan tidak berupaya melawan penyakit. (www.afa, 2000)
AIDS merujuk kepada kumpulan penyakit-penyakit yang dihadapi oleh orang-orang yang dijangkiti virus HIV, akibat sistem daya tahan badan mereka yang telah lemah atau musnah.
Acquired : Diperoleh dengan melakukan sesuatu, yakni bukan semula jadi
Immune : Merujuk kepada sistem daya tahan badan
Deficiency ; Kekurangan atau kelemahan. Dengan itu, immunodeficiency bermakna sistem daya tahan yang telah lemah dan kurang berupaya melawan penyakit yang biasanya mudah dihapuskan
Syndrome : Merujuk kepada sesuatu yang keadaan, gejala atau tanda.
Sistem daya tahan badan seseorang yang telah dijangkiti oleh virus HIV boleh menjadi begitu lemah, sehingga ia tidak dapat melawan anasir-anasir yang menggangu sistem badannya, sekalipun penyakit-penyakit tadi biasanya ringan dan senang disembuh. (www.sabah, 2007)
b. Cara Penularan
Metode / teknik penularan dan penyebaran HIV / AIDS, yaitu :
1) Darah
Contoh : transfusi darah, terkena darah HIV + pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi pada kulit yang luka, jarum suntik dan sebagainya.
2) Cairan semen, air mani, sperma dan peju pria
Contoh : laki-laki berhubungan badan tanpa kondom atau pengaman lainnya, oral seks, dan sebagainya.
3) Cairan vagina pada perempuan
Contohnya : wanita berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks dan lain-lain.
4) Air susu ibu / ASI
Contohnya : bayi minum ASI dari wanita HIV +, laki-laki meminum susu ASI pasanganya, dan lain sebagainya.
(http://organisasi, 2006)
Cara penularannya meliputi
1) Lewat transfusi darah yang telah tercemar HIV
2) Lewat jarum suntik yang telah tercemar akupunctur, tindik, tato dan pisau cukur yang berganti-gantian, alat facial
3) Cairan sperma dan cairan vagina
4) Lewat air susu ibu
5) Dari ibu kepada anak yang dikandung (25%)
(http://pmi, 2007)
c. Media Penularan
1) Cairan darah dan produk darah
2) Cairan sperma
3) Cairan vagina
(http://pmi, 2007)
HIV/AIDS tidak menular melalui
1) Makan minum bersama
2) Fasilitas umum seperti WC umum, telepon umum
3) Gigitan nyamuk
4) Lewat keringat, air mata
5) Bersenggolan, berjabat tangan, cium pipi, rangkulan, berenang bersama
(http://pmi, 2007)
d. Tanda dan Gejala Penularan
Gejala yang sering ditemukan namun bukan pasti penderita HIV/AIDS hanya perkiraan :
1) Demam dalam waktu lama
2) Diare berkepanjangan
3) Berat badan turun dengan cepat
4) Gatal dan infeksi kulit yang sulit sembuh
5) Infeksi jamur pada mulut
6) Pembengkakan kelenjar getah bening
Secara pasti hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan darah. (http://pmi, 2007)
e. Pencegahan
1) Umum
a) A = Abstinance (tidak mengadakan hubungan seksual dengan orang lain kecuali dengan pasangan sendiri)
b) B = Be Faithful (setia kepada pasangan)
c) C = Condom (gunakan kondom agar tidak tertular)
d) D = Drug (jangan menggunakan obat terlarang terutama dengan suntikan)
e) E = Equipment (gunakan alat steril untuk kepentingan apa saja)
2) Pengguna Napza
a) Berhenti menggunakan sebelum tertular
b) Atau paling tidak, tidak memakai jarum suntik
c) Atau paling tidak sekali pakai, buang jarum suntik
d) Atau paling tidak pakai berulang tapi untuk sendiri saja
e) Atau paling tidak pakai bergantian, tapi steriliasi dulu
3) Untuk Remaja
a) Tidak melakukan seks pranikah
b) Mencari info tentang HIV/AIDS
c) Mendiskusikan HIV/AIDS
d) Tidak menggunakan Napza (khususnya metode suntik)
(http://pmi, 2007)
1) Perawatan
Perawatan dilakukan dengan mengingat prinsip-prinsip isolasi protektif dan isolasi preventif.
2) Rehabilitasi/Edukasi
Rehabilitasi ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk :
a) Memberikan dukungan mental-psikologis
b) Membantu mereka untuk bisa mengubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang tidak beresiko atau kurang beresiko
a) Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
b) Membantu mereka untuk solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat.
3) Edukasi
Edukasi pada masalah HIV/AIDS bertujuan untuk mendidik pasien dan keluarganya tentang bagaimana mengahadapi kenyataan hidup bersama AIDS, kemudian diskriminasi dari masyarakat sekitar, bagaimana tanggung jawab keluarga, teman dekat atau masyarakat lain. Pendidikan juga diberikan tentang cara hidup sehat, mengatur diet, menghindari dari kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan, a.l. rokok, minuman keras narkotika dan sebagainya.
B. Kerangka Teori
Modifikasi dari teori H.R. Blum, 1994 dan Green, 1980
C. Kerangka Konsep
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak Diteliti
D. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang pengertian HIV/AIDS ?
2. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang cara penularan HIV/AIDS ?
3. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang media penularan ?
4. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang tanda dan gejala HIV/AIDS ?
5. Bagaimana pengetahuan remaja SMA Negeri 3 Singkawang tentang pencegahan dan penatalaksanaan HIV/AIDS ?
LAPORAN PENDAHULUAN HEPATITIS
A. Pengertian
Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat sembuh sendiri dan tersebar diseluruh dunia, biasanya ditularkan melalui penelanan bahan – bahan yang terinfeksi secara oral tetapi terkadang – kadang dapat juga secara parenteral.
( Keperawatan Medical Bedah edisi 8, vol :3 )
Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus, bersifat akut, terutama ditularkan secara parenteral tetapi juga dapat secara oral, melalui hubungan yang eratantara pnderita dengan orang lain, dan dari ibu ke bayi nya.
( Kamus Saku Keperawatan edisi 31 )
Hepatitis adalah Penyakit infeksi virus hepatotropik yang bersifat sistemik dan akut.
( Kapita Selekta Kedokteran )
Kesimpulan :
Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat menular ke orang lain, yang bersifat akut dan kronik.
B. Patofisiologi
1. Etiologi
Ada 6 jenis virus penyebab hepatitis :
a. Virus hepatitis A
b. Virus hepatitis B
c. Virus hepatitis C
d. Virus hepatitis D
e. Virus hepatitis E
f. Virus hepatitis G
2. Manifestasi klinis
1. Anoreksia
2. Nausea
3. Vomiting
4. Fatigue
5. Malaise
6. Antralgia
7. Mialgia
8. Nyeri kepala
9. Fotofobia
10. Faringitis
11. Batuk
12. Koriza dapat mendahului timbulnya ikterus selama 1 – 2 minggu
13. Apabila hepar sudah mulai membesar pasien dapat mengeluh nyeri perut kanan atas.
14. Demam dengan suhu 38 – 390 C, lebih sering ditemukan pada hepatitis A, kadang dapat mencapai 400 C.
15. Urine berwarna gelap ( seperti teh )
16. Dengan timbulnya gejala kuning / ikterus, maka biasanya gejala prodromal menghilang.
17. Hepatomegali dapat disertai nyeri tekan
18. Splenomegali dapat ditemukan pada 10 – 20 % pasien
3. Proses Perjalanan Penyakit
Virus masuk kealiran darah melalui membrane mukosa
Merusak kulit untuk mencapai hati
Masa inkubasi 6 minggu – 6 bulan
Demam ( respons infeksi )
Ruam, kekuningan, nyeri perut dan mual
Hepatitis
4. Komplikasi
a. Komplikasi Ringan
• Kolestasis berkepanjangan
• Relapsing hepatitis
• Hepatitis kronis persisten dengan gejala asimtomatik dengan AST fluktuatif
b. Komplikasi Berat
• Hepatitis kronis aktif
• Sirosis hati
• Hepatitis fulminan / karsinoma hepatoseluler
• Anemia aplastik, glumerulonefritis
• Necrotizing vasculitis / mixed cryoglobulinemia
C. Penatalaksanaan
1. Medis
a. Pemeriksaan Diagnostik
Tes fungsi hati
Abnormal ( 4 – 10 X dari normal ), catatan : merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non-virus
AST ( SGOT ) / ALT ( SGPT )
Awalnya meningkat, dapat meningkat 1 – 2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun
Darah lengkap
SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM ( gangguan enzim hati ) atau mengakibatkan perdarahan
Leukopenia
Trombositopenia mungkin ada ( splenomegali )
Diferensial darah lengkap
Luekositosis, monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma.
Alkali Fosfatase
Agak meningkat ( kecuali ada kolestasis berat )
Feses
Warna tanah liat, steatorea ( penurunan fungsi hati )
Albumin serum
Menurun
Gula darah
Hiperglikemia transien / hipoglikemia ( gangguan fungsi hati )
Anti – HAVIgM
Positif pada type A
HbsAG
Dapat positif ( type B ) atau negative ( type A ), catatan : merupakan diagnostic sebelum terjadi gejala klinik
Masa protrombin
Mungkin memanjang ( disfungsi hati )
Bilirubin serum
Diatas 2,5 mg / 100 ml ( bila diatas 200 mg / ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler )
Tes ekskresi BSP
Kadar darah meningkat
Biopsi hati
Menunjukan diagnosis dan luasnya nekrosis
Skan hati
Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim
Urinalisa
Peninggian kadar bilirubin : protein / hematuria dapat terjadi
b. Farmakoterapi
1. Berikan faksin hepatitis
2. Tidak ada terapi medika mentosa karena pasien dapat sembuh sendiri
3. Obat antiemetic golongan metoklopramid
4. Berikan vitamin K bila terdapat pemanjangan masa protromlan
2. Keperawatan
a. Pembatasan aktivitas fisik terutama yang bersifat kompetitif
b. Perbaikan hygiene makanan dan minuman
c. Perbaikan hygiene sanitasi lingkungan dan pribadi
d. Isolasi pasien
D. Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise umum.
2. Sirkulasi
Tanda : bradikardia ( hiperbilirubinemia berat )
Ikterik pada sclera, kulit, membrane mukosa.
3. Eliminasi
Gejala : Urine gelap
Diare konstipasi, feses warna tanah liat
Adanya / berulangnya hemodialisa
4. Makanan dan cairan
Gejala : Hilang nafsu makan ( anoreksia ), penurunan berat
badan atau meningkat ( edema ), mual, muntah
Tanda : Asites
5. Neurosensori
Tanda : Peka ransang, cenderung tidur, letargi, asteriksis.
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas
Mialgia, artalgia, sakit kepala
Gatal ( pruritus )
Tanda : Otot tegang, gelisah
7. Pernapasan
Gejala : Tidak minat/enggan merokok ( perokok )
8. Keamanan
Gejala : Adanya transfuse darah/produk darah
Tanda : Demam.
Urtikaria, lesi makulopapular, eritema tak beraturan.
Eksaserbasi, jerawat.
Angioma jarring-jaring, eritema palmar, ginekomastia ( kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik ).
Splenomegali, pembesaran nodus servikal posterior.
9. Seksualitas
Gejala : Pola hidup/perilaku meningkat resik terpajan ( contoh homoseksual aktif/beseksual pada wanita )
10. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat diketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri
atau toksin ( makanan terkontaminasi, air, jarum, alat bedah atau darah ); pembawa ( simtomatik atau asimtomatik ); adanya prosedur bedah dengan anastesia haloten; terpajan pada kimia toksin ( contoh karbon tetraklorida. Vinil klorida ); obat resep ( contoh sulfonamide,fenotiasid, isoniazid ).
Perjalanan/migrant dari cina, afrika, asia tenggara, timur tengah ( hepatitis B ( HB ) endemic diarea ini ).
Obat jalanan ( IV ) atau penggunanan alcohol
Diabetes, GIK, atau penyakit ginjal.
Adanya infeksi seperti flu pada pernapasan atas.
Pertimbangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat :
6,7 hari
Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam
tugas pemeliharaan dan pengaturan rumah.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan umum : penurunan kekuatan / ketahanan ; nyeri
Mengalami keterbatasan aktivitas ; depresi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
Kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolic : anoreksia, mual / muntah
Gangguan absorbsi dan metabolism pencernaan makanan : penurunan peristaltic ( reflex visceral ), empedu tertahan.
Peningkatan kebutuhan kalori / status hipermetabolik
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d
Kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga ( asites )
Gangguan proses pembekuan
4. Rendah situasional, harga diri b.d
Gejala jengkel / marah, terkurung / isolasi, sakit lama / periode penyembuhan
5. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d
Pertahanan primer tidak adekuat ( contoh leucopenia, penekanan respons inflamasi ) dan depresi imun
Malnutrisi
Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada pathogen
6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit / jaringan b.d
Zat kimia ; akumulasi garam empedu dalam jaringan
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d
Kurang terpajan / mengingat : salah interpretasi informasi.
Tidak mengenal sumber informasi
F. Intervensi
1. Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan umum / penurunan kekuatan/ketahanan; nyeri
Mengalami keterbatasan aktivitas; depresi
Mandiri:
Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang; batasi pengunjung sesuai keperluan.
Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan.
Menyediakan energy yang digunakan untuk penyembuhan. Aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran darah kekaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke sel hati.
Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatankulit yang baik.
Rasional : Meningkatkan fungsi pernapasan dan
meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan risiko kerusakan jaringan
Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional : Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa
gangguan.
Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Rasional : Tirah baring lama dapat menurunkan
kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan penghematan
energy, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
Awasi terulangnya anoreksia dan nyerri tekan pembesaran hati.
Rasional : Menunjukan kurangnya resolusi/eksaserbasi
penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.
Kolaborasi :
Berikan antidote atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi ( contoh lavase, katarsis, hiperventilasi ) tergantung pada pemajanan.
Rasional : Membuang agen penyebab pada hepatitis toksik
dapat membatasi derajat kerusakan jaringan.
Berikan obat sesuai indikasi: sedative, agen antiansietas, contoh diazepam ( valium ); lorazepam ( antivan ).
Rasional : Membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.
Catatan : penggunanan barbiturate dan tranquilizer seperti compazine dan thorazine, dikontraindikasi sehubungan dengan efek hepatotoksik.
Awasi kadar enzim hati
Rasional : Membantu menentukan kadar aktivitas tepat,
sebagai peningkatan premature pada potensial resiko berulang.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
Kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolic ; anareksia, mual/muntah.
Gangguan absorpsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltic ( reflek visceral ), empedu bertahan.
Mandiri :
Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar
Rasional : Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien
anoreksi. Anoreksi juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari
Berikan perawatan mulut sebelum makan
Rasional : Menghilangkan rasa tak enak dapat
meningkatkan nafsu makan
Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
Rasional : Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan
dapat meningkatkan pemasukan
Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen berat sepanjang hari
Rasional : Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat
lebih mudah dicerna / toleran bila makanan lain tidak.
Kolaborasi :
Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi
Rasional : Berguna dalam membuat program diet untuk
memnuhi kebutuhan individu, metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi dan pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleran, masukan normal atau lebih protein akan membantu regenarasi hati. Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat ( contoh hepatitis kronis ) karena akumulasi produk akhir metabolisme protein dapat mencetuskan hepatic ensefalopati.
Awasi glukosa darah
Rasional : Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi,
memrlukan perubahan diet/pemberian insulin.
Berikan obat sesuai indikasi :
Antiemetik, contoh metalopramide (reglan); Trimentrobenzamid (tigan).
Rasional : Diberikan ½ jam sebelum makan, dapat
menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan. Catatan : Compazine dikontraindikasikan pada penyakit hati
Antasida, contoh Mylanta, titralac
Rasional : Kerja pada asam gaster, dapat menurunkan
iritasi/risiko perdarahan
Vitamin contoh B komplek,C, tambahan diet lain sesuai indikasi
Rasional : Memperbaiki kekurangan dan membantu proses
penyembuhan
Terapi steroid, contoh prednisone ( deltasone ) tunggal atau kombinasi dengan azatioprin ( imuran )
Rasional : Steroid dikontraindikasikan karena
meningkatkan risiko berulang / terjadinya hepatitis kronis pada pasien dengan hepatitis virus. Namun, efek anti inflamasi mungkin berguna pada hepatitis aktif kronis ( khususnya idiopatik ) untuk menurunkan mual / muntah dan memampukan pasien untuk mengkomsumsi makanan dan cairan. Steroid dapat menurunkan aminotransferase serum dan kadar bilirubin, tetapi tidak mempengaruhi nekrosis hati atau regenerasi. Kombinasi terapi mempunyai efek samping lebih sedikit.
Berikan tambahan makanan / nutrisi dukungan total bila dibutuhkan
Rasional : Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan
kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
3. Resti kekurangan volume cairan b.d
Kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ke 3 (asites).
Gangguan proses pembekuan
Mandiri :
Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian. Catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan
penggantian/efek terapi. Catatan : Diare dapat berhubungan dengan respons terhadap infeksi dan mungkin terjadi sebagai masalah yang lebih serius dari obstruksi aliran darah portal dengan kongesti vaskuler pada traktus GI atau sebagai hasil penggunaan obat ( neomycin ) laktulosa untuk menurunkan kadar ammonia serum pada adanya ensefalopati hepatic.
Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membrane mukosa.
Rasional : Indikator volume sirkulasi/perfusi.
Periksa asites atau pembentukan edema. Ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan kemungkinan perdarahan
kedalaman jaringan.
Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional : Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
Observasi tanda perdarahan . contoh hematuria/melena, ekimosis, perdarahan terus menerus dari gusi/bekas injeksi.
Rasional : Kadar protrombin menurun dan waktu koagulasi
memenjang bila absorbsi vitamin K tergantung pada traktus GI dan sintesis protrombin menurun karena mempengaruhi hati.
Kolaborasi :
Awasi nilai labolatorium, contoh Hb/Ht, Na+ albumin, dan waktu pembekuan.
Rasional : Menunjukan hidrasi dan mengidentifikasi retensi
natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan edema. Defisit pada pembekuan potensial beresiko perdarahan.
Berikan cairan IV (biasanya glukosa), elektrolit ;
Rasional : Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
Protein hidrolisat;
Rasional : Memperbaiki kekurangan albumin/protein dapat
membantu mengembalikan cairan dari jaringan kesistem sirkulasi.
Vitamin K;
Rasional : Karena absorbs tergantung, penambahan dapat
mencegah masalah koagulasi, yang dapat terjadi bila factor pembekuan/waktu protrombin ditekan.
Antasida atau reseptor H2 antagonis, contoh simetidin ( tagamet )
Rasional : Menetralisir/menurunkan sekresi gaster untuk
merendahkan resiko iritasi/perdarahan gaster
Obat – obat anti diare, misal ; difenoksilatdan atripin ( lomotil )
Rasional : Mengurangi kehilangan cairan / elektrolit dari
saluran GI
Plasma beku segar ( fresh frozen plasma / FFP )
Rasional : Mungkin diperlukan untuk menggantikan factor
pembekuan pada adanya defek koagulasi
Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat sembuh sendiri dan tersebar diseluruh dunia, biasanya ditularkan melalui penelanan bahan – bahan yang terinfeksi secara oral tetapi terkadang – kadang dapat juga secara parenteral.
( Keperawatan Medical Bedah edisi 8, vol :3 )
Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus, bersifat akut, terutama ditularkan secara parenteral tetapi juga dapat secara oral, melalui hubungan yang eratantara pnderita dengan orang lain, dan dari ibu ke bayi nya.
( Kamus Saku Keperawatan edisi 31 )
Hepatitis adalah Penyakit infeksi virus hepatotropik yang bersifat sistemik dan akut.
( Kapita Selekta Kedokteran )
Kesimpulan :
Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat menular ke orang lain, yang bersifat akut dan kronik.
B. Patofisiologi
1. Etiologi
Ada 6 jenis virus penyebab hepatitis :
a. Virus hepatitis A
b. Virus hepatitis B
c. Virus hepatitis C
d. Virus hepatitis D
e. Virus hepatitis E
f. Virus hepatitis G
2. Manifestasi klinis
1. Anoreksia
2. Nausea
3. Vomiting
4. Fatigue
5. Malaise
6. Antralgia
7. Mialgia
8. Nyeri kepala
9. Fotofobia
10. Faringitis
11. Batuk
12. Koriza dapat mendahului timbulnya ikterus selama 1 – 2 minggu
13. Apabila hepar sudah mulai membesar pasien dapat mengeluh nyeri perut kanan atas.
14. Demam dengan suhu 38 – 390 C, lebih sering ditemukan pada hepatitis A, kadang dapat mencapai 400 C.
15. Urine berwarna gelap ( seperti teh )
16. Dengan timbulnya gejala kuning / ikterus, maka biasanya gejala prodromal menghilang.
17. Hepatomegali dapat disertai nyeri tekan
18. Splenomegali dapat ditemukan pada 10 – 20 % pasien
3. Proses Perjalanan Penyakit
Virus masuk kealiran darah melalui membrane mukosa
Merusak kulit untuk mencapai hati
Masa inkubasi 6 minggu – 6 bulan
Demam ( respons infeksi )
Ruam, kekuningan, nyeri perut dan mual
Hepatitis
4. Komplikasi
a. Komplikasi Ringan
• Kolestasis berkepanjangan
• Relapsing hepatitis
• Hepatitis kronis persisten dengan gejala asimtomatik dengan AST fluktuatif
b. Komplikasi Berat
• Hepatitis kronis aktif
• Sirosis hati
• Hepatitis fulminan / karsinoma hepatoseluler
• Anemia aplastik, glumerulonefritis
• Necrotizing vasculitis / mixed cryoglobulinemia
C. Penatalaksanaan
1. Medis
a. Pemeriksaan Diagnostik
Tes fungsi hati
Abnormal ( 4 – 10 X dari normal ), catatan : merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non-virus
AST ( SGOT ) / ALT ( SGPT )
Awalnya meningkat, dapat meningkat 1 – 2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun
Darah lengkap
SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM ( gangguan enzim hati ) atau mengakibatkan perdarahan
Leukopenia
Trombositopenia mungkin ada ( splenomegali )
Diferensial darah lengkap
Luekositosis, monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma.
Alkali Fosfatase
Agak meningkat ( kecuali ada kolestasis berat )
Feses
Warna tanah liat, steatorea ( penurunan fungsi hati )
Albumin serum
Menurun
Gula darah
Hiperglikemia transien / hipoglikemia ( gangguan fungsi hati )
Anti – HAVIgM
Positif pada type A
HbsAG
Dapat positif ( type B ) atau negative ( type A ), catatan : merupakan diagnostic sebelum terjadi gejala klinik
Masa protrombin
Mungkin memanjang ( disfungsi hati )
Bilirubin serum
Diatas 2,5 mg / 100 ml ( bila diatas 200 mg / ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler )
Tes ekskresi BSP
Kadar darah meningkat
Biopsi hati
Menunjukan diagnosis dan luasnya nekrosis
Skan hati
Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim
Urinalisa
Peninggian kadar bilirubin : protein / hematuria dapat terjadi
b. Farmakoterapi
1. Berikan faksin hepatitis
2. Tidak ada terapi medika mentosa karena pasien dapat sembuh sendiri
3. Obat antiemetic golongan metoklopramid
4. Berikan vitamin K bila terdapat pemanjangan masa protromlan
2. Keperawatan
a. Pembatasan aktivitas fisik terutama yang bersifat kompetitif
b. Perbaikan hygiene makanan dan minuman
c. Perbaikan hygiene sanitasi lingkungan dan pribadi
d. Isolasi pasien
D. Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise umum.
2. Sirkulasi
Tanda : bradikardia ( hiperbilirubinemia berat )
Ikterik pada sclera, kulit, membrane mukosa.
3. Eliminasi
Gejala : Urine gelap
Diare konstipasi, feses warna tanah liat
Adanya / berulangnya hemodialisa
4. Makanan dan cairan
Gejala : Hilang nafsu makan ( anoreksia ), penurunan berat
badan atau meningkat ( edema ), mual, muntah
Tanda : Asites
5. Neurosensori
Tanda : Peka ransang, cenderung tidur, letargi, asteriksis.
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas
Mialgia, artalgia, sakit kepala
Gatal ( pruritus )
Tanda : Otot tegang, gelisah
7. Pernapasan
Gejala : Tidak minat/enggan merokok ( perokok )
8. Keamanan
Gejala : Adanya transfuse darah/produk darah
Tanda : Demam.
Urtikaria, lesi makulopapular, eritema tak beraturan.
Eksaserbasi, jerawat.
Angioma jarring-jaring, eritema palmar, ginekomastia ( kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik ).
Splenomegali, pembesaran nodus servikal posterior.
9. Seksualitas
Gejala : Pola hidup/perilaku meningkat resik terpajan ( contoh homoseksual aktif/beseksual pada wanita )
10. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat diketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri
atau toksin ( makanan terkontaminasi, air, jarum, alat bedah atau darah ); pembawa ( simtomatik atau asimtomatik ); adanya prosedur bedah dengan anastesia haloten; terpajan pada kimia toksin ( contoh karbon tetraklorida. Vinil klorida ); obat resep ( contoh sulfonamide,fenotiasid, isoniazid ).
Perjalanan/migrant dari cina, afrika, asia tenggara, timur tengah ( hepatitis B ( HB ) endemic diarea ini ).
Obat jalanan ( IV ) atau penggunanan alcohol
Diabetes, GIK, atau penyakit ginjal.
Adanya infeksi seperti flu pada pernapasan atas.
Pertimbangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat :
6,7 hari
Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam
tugas pemeliharaan dan pengaturan rumah.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan umum : penurunan kekuatan / ketahanan ; nyeri
Mengalami keterbatasan aktivitas ; depresi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
Kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolic : anoreksia, mual / muntah
Gangguan absorbsi dan metabolism pencernaan makanan : penurunan peristaltic ( reflex visceral ), empedu tertahan.
Peningkatan kebutuhan kalori / status hipermetabolik
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d
Kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga ( asites )
Gangguan proses pembekuan
4. Rendah situasional, harga diri b.d
Gejala jengkel / marah, terkurung / isolasi, sakit lama / periode penyembuhan
5. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d
Pertahanan primer tidak adekuat ( contoh leucopenia, penekanan respons inflamasi ) dan depresi imun
Malnutrisi
Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada pathogen
6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit / jaringan b.d
Zat kimia ; akumulasi garam empedu dalam jaringan
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d
Kurang terpajan / mengingat : salah interpretasi informasi.
Tidak mengenal sumber informasi
F. Intervensi
1. Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan umum / penurunan kekuatan/ketahanan; nyeri
Mengalami keterbatasan aktivitas; depresi
Mandiri:
Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang; batasi pengunjung sesuai keperluan.
Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan.
Menyediakan energy yang digunakan untuk penyembuhan. Aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran darah kekaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke sel hati.
Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatankulit yang baik.
Rasional : Meningkatkan fungsi pernapasan dan
meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan risiko kerusakan jaringan
Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional : Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa
gangguan.
Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Rasional : Tirah baring lama dapat menurunkan
kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan penghematan
energy, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
Awasi terulangnya anoreksia dan nyerri tekan pembesaran hati.
Rasional : Menunjukan kurangnya resolusi/eksaserbasi
penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.
Kolaborasi :
Berikan antidote atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi ( contoh lavase, katarsis, hiperventilasi ) tergantung pada pemajanan.
Rasional : Membuang agen penyebab pada hepatitis toksik
dapat membatasi derajat kerusakan jaringan.
Berikan obat sesuai indikasi: sedative, agen antiansietas, contoh diazepam ( valium ); lorazepam ( antivan ).
Rasional : Membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.
Catatan : penggunanan barbiturate dan tranquilizer seperti compazine dan thorazine, dikontraindikasi sehubungan dengan efek hepatotoksik.
Awasi kadar enzim hati
Rasional : Membantu menentukan kadar aktivitas tepat,
sebagai peningkatan premature pada potensial resiko berulang.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
Kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolic ; anareksia, mual/muntah.
Gangguan absorpsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltic ( reflek visceral ), empedu bertahan.
Mandiri :
Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar
Rasional : Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien
anoreksi. Anoreksi juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari
Berikan perawatan mulut sebelum makan
Rasional : Menghilangkan rasa tak enak dapat
meningkatkan nafsu makan
Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
Rasional : Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan
dapat meningkatkan pemasukan
Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen berat sepanjang hari
Rasional : Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat
lebih mudah dicerna / toleran bila makanan lain tidak.
Kolaborasi :
Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi
Rasional : Berguna dalam membuat program diet untuk
memnuhi kebutuhan individu, metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi dan pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleran, masukan normal atau lebih protein akan membantu regenarasi hati. Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat ( contoh hepatitis kronis ) karena akumulasi produk akhir metabolisme protein dapat mencetuskan hepatic ensefalopati.
Awasi glukosa darah
Rasional : Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi,
memrlukan perubahan diet/pemberian insulin.
Berikan obat sesuai indikasi :
Antiemetik, contoh metalopramide (reglan); Trimentrobenzamid (tigan).
Rasional : Diberikan ½ jam sebelum makan, dapat
menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan. Catatan : Compazine dikontraindikasikan pada penyakit hati
Antasida, contoh Mylanta, titralac
Rasional : Kerja pada asam gaster, dapat menurunkan
iritasi/risiko perdarahan
Vitamin contoh B komplek,C, tambahan diet lain sesuai indikasi
Rasional : Memperbaiki kekurangan dan membantu proses
penyembuhan
Terapi steroid, contoh prednisone ( deltasone ) tunggal atau kombinasi dengan azatioprin ( imuran )
Rasional : Steroid dikontraindikasikan karena
meningkatkan risiko berulang / terjadinya hepatitis kronis pada pasien dengan hepatitis virus. Namun, efek anti inflamasi mungkin berguna pada hepatitis aktif kronis ( khususnya idiopatik ) untuk menurunkan mual / muntah dan memampukan pasien untuk mengkomsumsi makanan dan cairan. Steroid dapat menurunkan aminotransferase serum dan kadar bilirubin, tetapi tidak mempengaruhi nekrosis hati atau regenerasi. Kombinasi terapi mempunyai efek samping lebih sedikit.
Berikan tambahan makanan / nutrisi dukungan total bila dibutuhkan
Rasional : Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan
kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
3. Resti kekurangan volume cairan b.d
Kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ke 3 (asites).
Gangguan proses pembekuan
Mandiri :
Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian. Catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan
penggantian/efek terapi. Catatan : Diare dapat berhubungan dengan respons terhadap infeksi dan mungkin terjadi sebagai masalah yang lebih serius dari obstruksi aliran darah portal dengan kongesti vaskuler pada traktus GI atau sebagai hasil penggunaan obat ( neomycin ) laktulosa untuk menurunkan kadar ammonia serum pada adanya ensefalopati hepatic.
Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membrane mukosa.
Rasional : Indikator volume sirkulasi/perfusi.
Periksa asites atau pembentukan edema. Ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan kemungkinan perdarahan
kedalaman jaringan.
Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional : Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
Observasi tanda perdarahan . contoh hematuria/melena, ekimosis, perdarahan terus menerus dari gusi/bekas injeksi.
Rasional : Kadar protrombin menurun dan waktu koagulasi
memenjang bila absorbsi vitamin K tergantung pada traktus GI dan sintesis protrombin menurun karena mempengaruhi hati.
Kolaborasi :
Awasi nilai labolatorium, contoh Hb/Ht, Na+ albumin, dan waktu pembekuan.
Rasional : Menunjukan hidrasi dan mengidentifikasi retensi
natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan edema. Defisit pada pembekuan potensial beresiko perdarahan.
Berikan cairan IV (biasanya glukosa), elektrolit ;
Rasional : Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
Protein hidrolisat;
Rasional : Memperbaiki kekurangan albumin/protein dapat
membantu mengembalikan cairan dari jaringan kesistem sirkulasi.
Vitamin K;
Rasional : Karena absorbs tergantung, penambahan dapat
mencegah masalah koagulasi, yang dapat terjadi bila factor pembekuan/waktu protrombin ditekan.
Antasida atau reseptor H2 antagonis, contoh simetidin ( tagamet )
Rasional : Menetralisir/menurunkan sekresi gaster untuk
merendahkan resiko iritasi/perdarahan gaster
Obat – obat anti diare, misal ; difenoksilatdan atripin ( lomotil )
Rasional : Mengurangi kehilangan cairan / elektrolit dari
saluran GI
Plasma beku segar ( fresh frozen plasma / FFP )
Rasional : Mungkin diperlukan untuk menggantikan factor
pembekuan pada adanya defek koagulasi
Langganan:
Postingan (Atom)