Selasa, 01 Februari 2011
BUKIT KELAM ATAU KELAM HILL
DAMUZ SINTANG
Nah, ngomong-ngomong soal Bukit Kelam, menurut penglihatanku ini adalah sebuah batu besar, sebesar rumah-kah? Tidak, ini lebih besar kok. Namanya bukit, ya kurang lebih segede bukit-lah. Kontruksi batu ini juga hanya terdiri dari satu batu lho, jadi bukan terdiri dari banyak batu. Saking besarnya, kata temanku orang Dayak yang asli orang Sintang, pernah ada organisasi dunia yang menilai bahwa ini adalah batu terbesar di dunia. Hebat juga yah…
Bukit Kelam atau Kelam Hill menyajikan suatu pemandangan yang sangat indah, terlihat jelas ketika kita melakukan perjalanan dari Sintang menuju Kabupaten Kapuas Hulu. Dibutuhkan kurang lebih 30 menit dari Kota Sintang, Kalimantan Barat, untuk tiba di Bukit Kelam, yang masuk wilayah Kecamatan Kelam, Kabupaten Sintang. Luas areal wisata alam Bukit Kelam adalah 520 hektare. Di dalamnya banyak sekali terdapat keunikan dan kekayaan hayati. Udaranya sangat sejuk dan segar. Pokoknya, cocoklah buat rekreasi alam bagi semua kalangan.
Bila Anda berkeinginan untuk naik ke atas Bukit Kelam, sudah disediakan lho. Tapi hati-hati, tangganya dari besi, dan pengunjung harus menaiki tangga, bukan berjalan kaki seperti tangga di lereng gunung. Kalau Anda tidak kuat fisiknya, mendingan jangan coba deh, bisa-bisa Anda macet atau kecapean di tengah jalan, mau turun lagi terus lihat ke bawah malah ngeri… hehehe.. Selain itu, di kawasan wisata alam Bukit Kelam terdapat kolam renang dan lapangan tenis yang dapat dimanfaatkan oleh setiap wisatawan. Kalau Anda ingin bermalam di sana, jangan kuatir sebab ternyata di tempat ini pun disediakan camping ground yang cukup luas dan aman.
Seperti halnya Gunung Tangkuban Parahu di Bandung, Jawa Barat, yang punya cerita legenda Sangkuriang, Bukit Kelam juga memiliki cerita legendanya juga lho. Nanti deh ceritanya kalo yang ini mah… hehehe… Pokoknya, datang dulu ke Bukit Kelam. Nanti bisa dapat cerita dari masyarakat setempat. Pasti lebih seruh khan?
Sedikit petunjuk ke Bukit Kelam, Anda bisa mulai perjalanan dari Kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju ke Kota Sintang itu dapat di tempuh selama kurang lebih 7 sampai 8 jam, atau bisa juga kurang, bisa juga lebih lama. Tergantung jalan mana yang Anda lewati, kendaraan apa yang Anda gunakan, dan juga keadaan jalan yang dilalui. Setiap harinya ada bis umum dan bis DAMRI yang melakukan perjalanan dari Pontianak – Sintang dan sebaliknya, baik untuk perjalanan siang maupun perjalanan malam. (Iwan Susanto & www. sintang.go.id )
Komentar
damuz_zebaoth
Nah, ngomong-ngomong soal Bukit Kelam, menurut penglihatanku ini adalah sebuah batu besar, sebesar rumah-kah? Tidak, ini lebih besar kok. Namanya bukit, ya kurang lebih segede bukit-lah. Kontruksi batu ini juga hanya terdiri dari satu batu lho, jadi bukan terdiri dari banyak batu. Saking besarnya, kata temanku orang Dayak yang asli orang Sintang, pernah ada organisasi dunia yang menilai bahwa ini adalah batu terbesar di dunia. Hebat juga yah…
Bukit Kelam atau Kelam Hill menyajikan suatu pemandangan yang sangat indah, terlihat jelas ketika kita melakukan perjalanan dari Sintang menuju Kabupaten Kapuas Hulu. Dibutuhkan kurang lebih 30 menit dari Kota Sintang, Kalimantan Barat, untuk tiba di Bukit Kelam, yang masuk wilayah Kecamatan Kelam, Kabupaten Sintang. Luas areal wisata alam Bukit Kelam adalah 520 hektare. Di dalamnya banyak sekali terdapat keunikan dan kekayaan hayati. Udaranya sangat sejuk dan segar. Pokoknya, cocoklah buat rekreasi alam bagi semua kalangan.
Bila Anda berkeinginan untuk naik ke atas Bukit Kelam, sudah disediakan lho. Tapi hati-hati, tangganya dari besi, dan pengunjung harus menaiki tangga, bukan berjalan kaki seperti tangga di lereng gunung. Kalau Anda tidak kuat fisiknya, mendingan jangan coba deh, bisa-bisa Anda macet atau kecapean di tengah jalan, mau turun lagi terus lihat ke bawah malah ngeri… hehehe.. Selain itu, di kawasan wisata alam Bukit Kelam terdapat kolam renang dan lapangan tenis yang dapat dimanfaatkan oleh setiap wisatawan. Kalau Anda ingin bermalam di sana, jangan kuatir sebab ternyata di tempat ini pun disediakan camping ground yang cukup luas dan aman.
Seperti halnya Gunung Tangkuban Parahu di Bandung, Jawa Barat, yang punya cerita legenda Sangkuriang, Bukit Kelam juga memiliki cerita legendanya juga lho. Nanti deh ceritanya kalo yang ini mah… hehehe… Pokoknya, datang dulu ke Bukit Kelam. Nanti bisa dapat cerita dari masyarakat setempat. Pasti lebih seruh khan?
Sedikit petunjuk ke Bukit Kelam, Anda bisa mulai perjalanan dari Kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju ke Kota Sintang itu dapat di tempuh selama kurang lebih 7 sampai 8 jam, atau bisa juga kurang, bisa juga lebih lama. Tergantung jalan mana yang Anda lewati, kendaraan apa yang Anda gunakan, dan juga keadaan jalan yang dilalui. Setiap harinya ada bis umum dan bis DAMRI yang melakukan perjalanan dari Pontianak – Sintang dan sebaliknya, baik untuk perjalanan siang maupun perjalanan malam. (Iwan Susanto & www. sintang.go.id )
Komentar
damuz_zebaoth
BUKIT KELAM SINTANG
A. Selayang Pandang
Oleh masyarakat sekitar, keberadaan Bukit Kelam dikaitkan dengan legenda Bujang Beji dan Tumenggung Marubai. Bujang Beji dan Tumenggung Marubai merupakan kepala kelompok para penangkap ikan di Negeri Sintang (ibu kota Kabupaten Sintang sekarang). Bujang Beji beserta kelompoknya menguasai Sungai Kapuas, sedangkan Tumenggung Marubai beserta kelompoknya menguasai Sungai Melawi.
Karena perbedaan hasil tangkapan ikan, muncul niat jahat Bujang Beji untuk menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar. Lalu, ia pergi ke Kapuas Hulu untuk mengangkat batu besar yang terdapat di puncak Bukit Nanga Silat dan membawanya ke Sungai Melawi. Namun, di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, dewi-dewi dari khayangan menertawakannya beramai-ramai. Tatkala mendongakkan kepala mencari asal suara, tanpa disadarinya, ia menginjak duri beracun. Seketika itu juga, batu yang dipikulnya terlepas dan kemudian terbenam di suatu tempat bernama Jetak.
Menurut legendanya, batu besar yang terbenam di Jetak itu kemudian tumbuh perlahan-lahan menjadi sebuah bukit. Dewasa ini, bukit tersebut dikenal dengan Bukit Kelam, sebuah obyek wisata unik dan eksotik yang sangat dikagumi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Dinamakan Bukit Kelam karena batu-batu yang terdapat di bukit tersebut berwarna hitam.
Melihat keunikan, keeksotisan, dan kekayaan hayati kawasan seluas 520 hektar lebih tersebut, pemerintah pusat melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 594/Kpts-II/92 pada tanggal 6 Juni 1992, menetapkannya sebagai Taman Wisata Alam Bukit Kelam.
B. Keistimewaan
Panorama alamnya yang rancak dan alami, serta udaranya yang sejuk dan segar, menjadikan kawasaan ini tepat sekali dipilih sebagai tujuan rekreasi alam. Pengunjung dapat mencerap keindahan panoramanya sambil berjalan-jalan di kawasan tersebut, atau sambil duduk santai di shelter-shelter.
Di kawasan ini, terdapat berbagai flora langka, seperti meranti (shorea sp), bangeris (koompassia sp), tengkawang (dipterocarpus sp), kebas-kebas (podocarpusceae), anggrek (archidaceae), dan kantong semar raksasa.
Berbagai fauna langkanya, seperti beruang madu (heralctus mayalanus), trenggiling (manis javanica), kelelawar (hiropteraphilie), dan alap-alap (acciptiter badios), menambah daya tarik kawasan ini.
Bagi yang ingin ke puncak bukitnya, dapat melewati sebuah tangga batu yang memiliki ketinggian sekitar 90 meter yang terletak di sebelah barat Bukit Kelam. Bagi yang bernyali besar dan menyukai tantangan ekstrem, dapat mencapai puncaknya dengan melewati tebing batu yang terjal.
Di puncak bukitnya, terdapat gua-gua alam yang eksotik dan bernuansa magis yang di dalamnya banyak terdapat burung walet. Dan, dari atas puncaknya, terlihat hutan tropis yang lebat dan hijau di sekitarnya, Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang mengapit Kota Sintang, keindahan Kota Sintang dari kejauhan, dan areal persawahan yang menghampar luas di bawahnya. Bila musim hujan tiba, dari tempat ini juga terlihat air terjun yang memesona.
Ketinggian kawasan ini berkisar antara 50-900 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan kemiringan antara 15°-40°, sehingga tepat sekali dijadikan tempat untuk melakukan olahraga terbang layang dan panjat tebing. Bagi penyuka olahraga lintas alam, di kawasan ini terdapat jalan setapak yang berliku-liku sampai ke dalam hutan dengan medan yang cukup berat. Pengunjung yang ingin berenang dan bermain tenis, di kawasan ini juga tersedia kolam renang dan lapangan tenis yang dapat digunakan saban waktu. Bagi pengunjung yang ingin menikmati kawasan ini pada malam hari, juga disediakan camping ground yang luas dan aman.
Selain itu, di sini pengunjung juga dapat melihat Rumah Panjang (rumah tradisional suku Dayak) Ensaid Pendek dan Ensaid Panjang yang memiliki arsitektur khas.
Di kawasan ini setiap tahunnya diadakan Gebyar Wisata Bukit Kelam yang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya dari masyarakat setempat, pameran wisata, fashion, permainan rakyat, dan lain sebagainya.
C. Lokasi
Taman Wisata Alam Bukit Kelam terletak di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses
Kabupaten Sintang berjarak sekitar 395 kilometer di sebelah timur Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju Sintang, pengunjung dapat naik pesawat, taksi, bus travel, angkutan umum, atau kendaraan pribadi.
Dari pusat Kota Sintang, Taman Wisata Alam Bukit Kelam berjarak sekitar 19 kilometer ke arah timur. Jalan menuju kawasan ini telah beraspal mulus dan dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, sehingga pengunjung mudah mengaksesnya dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 30-35 menit.
Setelah sampai di area parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki tangga-tangga menuju kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kelam. Untuk memudahkan pengunjung, di kawasan tersebut telah dibangun jalur wisata permanen yang menghubungkan satu objek wisata dengan objek wisata lainnya.
E. Harga Tiket
Masih dalam proses konfirmasi.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kelam terdapat berbagai fasilitas, seperti pusat informasi pariwisata, pemandu wisata, balai pertemuan, panggung hiburan, papan penunjuk arah, camping ground, dan area hiking,
Selain itu, di kawasan ini juga terdapat terminal bus, area parkir yang luas dan aman, warung makan, kolam renang, lapangan tenis, shelter-shelter, sentra oleh-oleh dan cenderamata, dan toilet.
Pengunjung yang ingin menginap tidak perlu khawatir, karena di kawasan ini terdapat losmen dan wisma dengan berbagai tipe.
(sumber: wisatamelayu.com)
Oleh masyarakat sekitar, keberadaan Bukit Kelam dikaitkan dengan legenda Bujang Beji dan Tumenggung Marubai. Bujang Beji dan Tumenggung Marubai merupakan kepala kelompok para penangkap ikan di Negeri Sintang (ibu kota Kabupaten Sintang sekarang). Bujang Beji beserta kelompoknya menguasai Sungai Kapuas, sedangkan Tumenggung Marubai beserta kelompoknya menguasai Sungai Melawi.
Karena perbedaan hasil tangkapan ikan, muncul niat jahat Bujang Beji untuk menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar. Lalu, ia pergi ke Kapuas Hulu untuk mengangkat batu besar yang terdapat di puncak Bukit Nanga Silat dan membawanya ke Sungai Melawi. Namun, di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, dewi-dewi dari khayangan menertawakannya beramai-ramai. Tatkala mendongakkan kepala mencari asal suara, tanpa disadarinya, ia menginjak duri beracun. Seketika itu juga, batu yang dipikulnya terlepas dan kemudian terbenam di suatu tempat bernama Jetak.
Menurut legendanya, batu besar yang terbenam di Jetak itu kemudian tumbuh perlahan-lahan menjadi sebuah bukit. Dewasa ini, bukit tersebut dikenal dengan Bukit Kelam, sebuah obyek wisata unik dan eksotik yang sangat dikagumi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Dinamakan Bukit Kelam karena batu-batu yang terdapat di bukit tersebut berwarna hitam.
Melihat keunikan, keeksotisan, dan kekayaan hayati kawasan seluas 520 hektar lebih tersebut, pemerintah pusat melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 594/Kpts-II/92 pada tanggal 6 Juni 1992, menetapkannya sebagai Taman Wisata Alam Bukit Kelam.
B. Keistimewaan
Panorama alamnya yang rancak dan alami, serta udaranya yang sejuk dan segar, menjadikan kawasaan ini tepat sekali dipilih sebagai tujuan rekreasi alam. Pengunjung dapat mencerap keindahan panoramanya sambil berjalan-jalan di kawasan tersebut, atau sambil duduk santai di shelter-shelter.
Di kawasan ini, terdapat berbagai flora langka, seperti meranti (shorea sp), bangeris (koompassia sp), tengkawang (dipterocarpus sp), kebas-kebas (podocarpusceae), anggrek (archidaceae), dan kantong semar raksasa.
Berbagai fauna langkanya, seperti beruang madu (heralctus mayalanus), trenggiling (manis javanica), kelelawar (hiropteraphilie), dan alap-alap (acciptiter badios), menambah daya tarik kawasan ini.
Bagi yang ingin ke puncak bukitnya, dapat melewati sebuah tangga batu yang memiliki ketinggian sekitar 90 meter yang terletak di sebelah barat Bukit Kelam. Bagi yang bernyali besar dan menyukai tantangan ekstrem, dapat mencapai puncaknya dengan melewati tebing batu yang terjal.
Di puncak bukitnya, terdapat gua-gua alam yang eksotik dan bernuansa magis yang di dalamnya banyak terdapat burung walet. Dan, dari atas puncaknya, terlihat hutan tropis yang lebat dan hijau di sekitarnya, Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang mengapit Kota Sintang, keindahan Kota Sintang dari kejauhan, dan areal persawahan yang menghampar luas di bawahnya. Bila musim hujan tiba, dari tempat ini juga terlihat air terjun yang memesona.
Ketinggian kawasan ini berkisar antara 50-900 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan kemiringan antara 15°-40°, sehingga tepat sekali dijadikan tempat untuk melakukan olahraga terbang layang dan panjat tebing. Bagi penyuka olahraga lintas alam, di kawasan ini terdapat jalan setapak yang berliku-liku sampai ke dalam hutan dengan medan yang cukup berat. Pengunjung yang ingin berenang dan bermain tenis, di kawasan ini juga tersedia kolam renang dan lapangan tenis yang dapat digunakan saban waktu. Bagi pengunjung yang ingin menikmati kawasan ini pada malam hari, juga disediakan camping ground yang luas dan aman.
Selain itu, di sini pengunjung juga dapat melihat Rumah Panjang (rumah tradisional suku Dayak) Ensaid Pendek dan Ensaid Panjang yang memiliki arsitektur khas.
Di kawasan ini setiap tahunnya diadakan Gebyar Wisata Bukit Kelam yang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya dari masyarakat setempat, pameran wisata, fashion, permainan rakyat, dan lain sebagainya.
C. Lokasi
Taman Wisata Alam Bukit Kelam terletak di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses
Kabupaten Sintang berjarak sekitar 395 kilometer di sebelah timur Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju Sintang, pengunjung dapat naik pesawat, taksi, bus travel, angkutan umum, atau kendaraan pribadi.
Dari pusat Kota Sintang, Taman Wisata Alam Bukit Kelam berjarak sekitar 19 kilometer ke arah timur. Jalan menuju kawasan ini telah beraspal mulus dan dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, sehingga pengunjung mudah mengaksesnya dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 30-35 menit.
Setelah sampai di area parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki tangga-tangga menuju kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kelam. Untuk memudahkan pengunjung, di kawasan tersebut telah dibangun jalur wisata permanen yang menghubungkan satu objek wisata dengan objek wisata lainnya.
E. Harga Tiket
Masih dalam proses konfirmasi.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kelam terdapat berbagai fasilitas, seperti pusat informasi pariwisata, pemandu wisata, balai pertemuan, panggung hiburan, papan penunjuk arah, camping ground, dan area hiking,
Selain itu, di kawasan ini juga terdapat terminal bus, area parkir yang luas dan aman, warung makan, kolam renang, lapangan tenis, shelter-shelter, sentra oleh-oleh dan cenderamata, dan toilet.
Pengunjung yang ingin menginap tidak perlu khawatir, karena di kawasan ini terdapat losmen dan wisma dengan berbagai tipe.
(sumber: wisatamelayu.com)
SINTANG KAPUAS RAYA
MENUJU TERBENTUKNYA PROPINSI KAPUAS RAYA
Perjuangan mewujudkan berdirinya Provinsi Kapuas Raya, adalah sebuah perjuangan pembangunan nasionalisme, sekaligus pembangunan kesejahteraan dan keamanan di wilayah timur Kalimantan Barat. Bagi masyarakat perbatasan negeri serawak adalah harapan, ketimbang negerinya sendiri. setiap saat mereka selalu membandingkan segala hal yang ada di di desa-desa perbatasan yang masuk wilayah serawak, dengan kondisi di desa-desa mereka. Serawak lebih dekat di hati mereka, dan dari sudut geografis pun, mereka lebih dekat ke kota kuching daripada ke kota pontianak.
Dalam perjalanan panjangnya, wacana propinsi Kapuas Raya kemudian telah berubah menjadi sebuah arena benturan. Benturan adalah KEBUTUHAN versus KEPENTINGAN . pihak yang satu berpengharapan, apabila Propinsi Kapuas Raya dapat terwujud, maka rentang pelayanan akan semakin pendek. sementara pihak yang lain berhitung bila apabila Propinsi Kapuas Raya terwujud sangat tidak menguntungkan bagi peta kekuatan politiknya.
Sebuah benturan dua orientasi yang dapat di terjemahkan sebagai arena benturan KESEJAHTERAAN versus KEKUASAAN .peristiwa pengibaran kantong kresek pada belasan tiang bendera oleh masyarakat perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu (di expos salah satu media massa cetak lokal), pun tidak pernah dijadikan bahan perhatian khusus. seakan-akan semua baik-baik saja dan dalam kondisi disinjection.
Ketika di sebelah utara taman nasional betung kerihun yang masuk dalam wilayah malaysia, di temukan beberapa heliped yang hanya berjarak belasan meter dari garis perbatasan. pemerintah pusat gulung kuning dan berkelit dengan mengatakan " bahwa itu sudah kesepakatan bersama antara pemerintah RI dengan pemerintah Malaysia untuk tujuan survei " yakinkah kita, bahwa helipad hanya ada di batas Taman Nasional Betung Kerihun. siapa yang tahu, ada apa di balik perbukitan di perbatasan Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang.
Akhirnya, apa yang di tunggu-tunggu masyarakat kawasan timur kalbar untuk mewujudkan cita-cita mendirikan propinsi baru yakni Propinsi Kapuas Raya sepertinya tidak sia-sia, hal tersebut di buktikan setelah surat tertanggal 22 agustus 2008 yang ditanda tangani atas nama Pimpinan Sekretaris Jenderal u.b Deputi Persidangan dan KSAP LKHAR Drs. Bambang Susetio Nugroho MAP, di terima Bupati Sintang.
Dalam surat Nomor PW.02/5967/DPR RI/VIII/2008 tersebut di sebutkan sesuai keputusan rapat Komisi II tanggal 21 agustuis 2008 kunjungan spesifik ke Kabupaten Sintang Propinsi Kalimantan Barat untuk melihat langsung di lapangan terkait dengan usulan rancangan undang-undang tentang pembentukan Propinsi Kapuas Raya yang di laksanakan pada tanggal 28 - 30 agustus 2008.
Sehubungan dengan kedatangan anggota Komisi II yang dalam daftar anggota langsung di pimpin ketua Komisi II DPR RI dari F.PD E.E, Mangindaan SIP, Bupati Sintang Drs. Milton Crosby Msi yang sekaligus sebagai koordinator pemekaran Kapuas Raya kepada KRP mengatakan kehadiran para anggota DPR RI tersebut adalah merupakan jawaban dari ususlan masyarakat 5 kabupaten di wilayah timur kalbar yang di usulkan sejak tahun 2005 terakhir lewat diskusi yang di gelar persatuan wartawan indonesia (PWI) bersama element masyarakat lainnya dari 5 kabupaten dan sebagai puncaknya langsung ke komisi II senayan jakarta 30 april 2008 lalu.
Sehubungan dengan datangnya anggota komisi II tersebut seluruh lapisan masyarakat 5 kabupaten yakni sanggau, sekadau, sintang, melawi dan kapuas hulu akan berkumpul di sintang bersama pemerintah dan unsur masyarakat lainnya akan di undang dalam acara yang di kemas dalam rapat akbar. Acara tersebut di laksanakan di Gedung Serba Guna yang mampu menampung 10.000 orang.
Sementara agenda pertemuan masyarakat dengan Komisi II selain tatap muka langsung akan di lanjutkan meninjau langsung fasilitas-fasilitas pendukung propinsi yang memang sudah siap di sintang. Kunjungan tersebut berjalan sebagaimana jadwal komisi II yang tentunya di dukung penuh oleh Pemda Provinsi.
Persiapan administrasi maupun tekhnis untuk pemebentukan Kapuas Raya berada di wilayah timu Kalimantan Barat dinilai sudah memenuhi syarat. Ketua Komisi II DPR – RI, yang juga Ketua Romobongan Verifikasi Faktual Propinsi Kapuas Raya Eka Santoso mengemukakan ada beberapa hal yang krusial untuk menjadikan sebuah propinsi Kapuas Raya seperti yang cakupan wilayah dan persetujuan letak ibukota dari 5 kabupaten tidak ada masalah.
Verifiakasi factual yang di laksanakan oleh Tim DPR-RI untuk mengambil langkah setelah ada aspirasi dari tingkat bawah yang nantinya akan dip roses. Masalah propinsi Kapuas Raya ini hanya menunggu dari segi legilasi dan politis saja. Adapun adanya usulan hak inisiatif dewan untuk membahas masalah tersebut minimal dalam pembahasan di dukung oleh 13 anggota DPR-RI .
Menyinggung apakah mampu mengejar 2009 bisa terbentuk, ia mengatakan hal itu relative. Ia berkeyakinan propinsi Kapuas Raya bakal segera terbentuk melalui usulan hak inisiatif. Terlebih dahulu propinsi induk beserta DPRD Propinsi Kalbar sudah memberikan persetujuan bahkan di 5 kabupaten yang memkarkan sudah membuat suatu kesepakatan bersama. Jadi tidak ada masalah dan pembentukan propinsi baru di wilayah timur kalbar segera diproses. Ia menegaskan berkenaan propinsi tersebut tidak ada kaitannya dengan pemilu 2009. Kedatangan di Sintang guna melihat kondisi riil wilayah pemekaran.
Perjuangan masyarakat 5 Kabupaten untuk membentuk Propinsi Kapuas Raya,memang tidak ada alasan lagi untuk di tolak Propinsi induk maupun Pemerintah Pusat. Pasalnya, wilayah ini sudah cukup di kenal baik dari potensi alamnya, luas wilayah maupun persiapan calon ibukota propinsinya.
Sesuai dengan usulan, memang Kalimantan nantinya akan menjadi 7 propinsi di antaranya Kalbar, Kaltim, Kalteng masing-masing 2 Propinsi, Kalsel 1 propinsi.Ungkap anggota Komisi II dari Fraksi Demokrat, Soekartono. Dalam konteks tersebut, Soekartono mengimbau jika memperhatikan paparan Koordinator Kapuas Raya sebaiknya tidak ada salahnya datang ke Istana membawa aspirasi yang memang sesuai fakta lapangan.
Ia juga mengatakan, nantipun hasil verifikasi Komisi II akan di paparkan juga di hadapan para Menteri yang di tunjuk oleh Presiden dan Undang-Undang. Karena itu, kehadiran Koordinator sangat perlu guna memaparkan langsung kepada Presiden tentang kondisi sebenarnya serta latar belakang usulan Pemekaran Kapuas Raya.
Kunjungan Tim Komisi II DPR-RI meninjau langsung Sintang sebagai Calon Ibukota Propinsi Kapuas Raya di sambut ribuan element masyarakat di tandai dengan upacara adat, hadirin yang terdiri dari Pimpinan 5 daerah dan anggota DPRD dan berbagai unsure masyarakat hanyut dalam rapat akbar itu mendengar tanggapan para tamu terhormat dari Komisi II yang semuanya berjumlah 12 orang atas usulan pemekaran Kapuas Raya..
Tamu Komisi II DPR-RI yang berkunjung ke Sintang pada 28-29 agustus 2008 lalu tampak berjalan sesuai rencana di anataranya rapat akbar, temu para tokoh dan mengunjungi fasilitas pendukung propinsi seperti calon Kantor Gubernur dan RRI. Dalam sambutannya Ketua Komisi II mengatakan kehadiran tim di Sintang adalah sebagai tindak lanjut dari kehadiran pimpinan pemerintah 5 Kabupaten dan element masyarakat ke senayan beberapa waktu lalu sehubungan dengan usulan pemekaran yang di maksud.
Setelah mempelajari dan mencermati apa yang tertera dalam dokumen yang di serahkan tempo hari di senayan maka kehadiran Komisi II yang berjumlah 12 orang dari 9 fraksi setelah mendengar lagi paparan ini tampak semakin jelas oleh karena itu Pemekaran Kapuas Raya harus diperjuangkan.
Dihadapan ratusan masyarakat 5 Kabupaten di Pendopo Bupati Sintang ketika itu Ketua Komisi II memberikan tanggapannya baik secara pribadi dan lembaga bahwa pemekaran Kapuas Raya sungguhnya tidak ada lagi permasalahan baik dari segi UU dan PP tentang pemekaran suatu daerah. Upaya pendirian propinsi baru di wilayah ini patut di dukung mengingat ada beberapa factor maupun indicator mengapa pendirian propinsi di perlukan.
Pertama katanya adalah guna memperpendek rentang kendali jarak pusat ke daerah dalam upaya percepatan pembangunan dan pelayanan. Ke dua melihat wilayah ini cukup tertinggal dan tidak adanya jalan akses yang memadai maka di perkirakan adalah factor terlambatnya arus perekonomian masyarakat dan hal ini harsu segera di atasi. Ketiga wilayah ini adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara luar karena itu alasan keterbelakangan bias menjadi ancaman seperti melunturkan nasionalisme warga perbatasan, sebaliknya Malaysia selaku Negara tetangga malah telah menunjukkan perhatiannya terhadap perbatasannya tentu kita harus memikirkan tindakan di balik itu selanjutnya. Cepat atau lambat jika tidak di perhatikan kondisi keterbelakangan ini secara menyeluruh bisa di gerogoti karena alasan tidak di perhatikan, sementara target pemekaran di kalkulasikan 2009 RUU nya bisa di sahkan meskipun pilpres sedang berjalan Karena hal itu tidak ada kaitannya sesuai UU Nomor 22 tahun 2003 tentang susduk.
Setelah siaran langsung di Pro 3 RRI Sintang bersama Koordinator Pemekaran Drs. Milton Crosby Msi, Ketua Tim Komisi II DPR-RI, Drs. Eka Santosa sebelum meninggalkan sintang mengatakan alur proses selanjutnya Propinsi Kapuas Raya yaitu, setelah berbagi bahan dan materi yang di dapatkan anggota Komisi II DPR-RI ini selepas lawatannya ke Sintang selanjutnya akan di bawa ke Dewan untuk di bahas. Baik berupa catatan penting, laporan, maupun usulan-usulan seluruhnya di catat untuk kemudian di bahas dalam rapat komisi .
Terkait usulan pemekaran wilayah timur Kalbar yang menurutnya tetap berlanjut melalui hak inisiatif DPR yang memang menangani masalah ini adalah Komisi II DPR-RI. Pembahasan untuk membuat Rancangan Undang-Undang pemekaran wilayah ini ke tingkat legislasi sebelumnya di agendakan terlebih dahulu. Adapun RUU ini diganti menjadi UU harus ada usulan dan di ajukan sedikitya oleh 13 anggota Dewan. Sebelum di sahkan menjadi UU, akan ad tim dari Eksekutif yakni Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) yang akan mengevaluasi tahapan dan persyaratannya.
Biasanya, sebelum propinsi baru di dirikan, Presiden mengutus dan meminta mentri terkait turun maninjau dan mengecek sejauh mana kesiapan daerah menjadi ibukota propinsi . Menteri terkait yang biasanya di tugaskan adalah Mendagri dan Menteri Hukum dan HAM. Hasil tujuan dan laporan dari DPOD dan Menteri ini kemudian di bawa lalu di agendakan pembahsannya di legislatif. Dari Komisi II kemudaian di paripurnakan di dewan untuk pengesahan RUU menjadi UU.
Mengenai target Propinsi Kapuas Raya, mengisyaratkan paling tidak tahun 2009 di bahas dan sudah kita sepakati dengan 9 fraksi yang hadir di Sintang, dari 13 orang anggota yang turut turun ke sintang 3 orang lainnya kita akan upayakan meyakinkan.
baca artikel/info/dokumentasi mengenai perjalanan menuju Provinsi Kapuas Raya selengkapnya disini: http://kapuas-raya.blogspot.com/
DAMUZ
Perjuangan mewujudkan berdirinya Provinsi Kapuas Raya, adalah sebuah perjuangan pembangunan nasionalisme, sekaligus pembangunan kesejahteraan dan keamanan di wilayah timur Kalimantan Barat. Bagi masyarakat perbatasan negeri serawak adalah harapan, ketimbang negerinya sendiri. setiap saat mereka selalu membandingkan segala hal yang ada di di desa-desa perbatasan yang masuk wilayah serawak, dengan kondisi di desa-desa mereka. Serawak lebih dekat di hati mereka, dan dari sudut geografis pun, mereka lebih dekat ke kota kuching daripada ke kota pontianak.
Dalam perjalanan panjangnya, wacana propinsi Kapuas Raya kemudian telah berubah menjadi sebuah arena benturan. Benturan adalah KEBUTUHAN versus KEPENTINGAN . pihak yang satu berpengharapan, apabila Propinsi Kapuas Raya dapat terwujud, maka rentang pelayanan akan semakin pendek. sementara pihak yang lain berhitung bila apabila Propinsi Kapuas Raya terwujud sangat tidak menguntungkan bagi peta kekuatan politiknya.
Sebuah benturan dua orientasi yang dapat di terjemahkan sebagai arena benturan KESEJAHTERAAN versus KEKUASAAN .peristiwa pengibaran kantong kresek pada belasan tiang bendera oleh masyarakat perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu (di expos salah satu media massa cetak lokal), pun tidak pernah dijadikan bahan perhatian khusus. seakan-akan semua baik-baik saja dan dalam kondisi disinjection.
Ketika di sebelah utara taman nasional betung kerihun yang masuk dalam wilayah malaysia, di temukan beberapa heliped yang hanya berjarak belasan meter dari garis perbatasan. pemerintah pusat gulung kuning dan berkelit dengan mengatakan " bahwa itu sudah kesepakatan bersama antara pemerintah RI dengan pemerintah Malaysia untuk tujuan survei " yakinkah kita, bahwa helipad hanya ada di batas Taman Nasional Betung Kerihun. siapa yang tahu, ada apa di balik perbukitan di perbatasan Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang.
Akhirnya, apa yang di tunggu-tunggu masyarakat kawasan timur kalbar untuk mewujudkan cita-cita mendirikan propinsi baru yakni Propinsi Kapuas Raya sepertinya tidak sia-sia, hal tersebut di buktikan setelah surat tertanggal 22 agustus 2008 yang ditanda tangani atas nama Pimpinan Sekretaris Jenderal u.b Deputi Persidangan dan KSAP LKHAR Drs. Bambang Susetio Nugroho MAP, di terima Bupati Sintang.
Dalam surat Nomor PW.02/5967/DPR RI/VIII/2008 tersebut di sebutkan sesuai keputusan rapat Komisi II tanggal 21 agustuis 2008 kunjungan spesifik ke Kabupaten Sintang Propinsi Kalimantan Barat untuk melihat langsung di lapangan terkait dengan usulan rancangan undang-undang tentang pembentukan Propinsi Kapuas Raya yang di laksanakan pada tanggal 28 - 30 agustus 2008.
Sehubungan dengan kedatangan anggota Komisi II yang dalam daftar anggota langsung di pimpin ketua Komisi II DPR RI dari F.PD E.E, Mangindaan SIP, Bupati Sintang Drs. Milton Crosby Msi yang sekaligus sebagai koordinator pemekaran Kapuas Raya kepada KRP mengatakan kehadiran para anggota DPR RI tersebut adalah merupakan jawaban dari ususlan masyarakat 5 kabupaten di wilayah timur kalbar yang di usulkan sejak tahun 2005 terakhir lewat diskusi yang di gelar persatuan wartawan indonesia (PWI) bersama element masyarakat lainnya dari 5 kabupaten dan sebagai puncaknya langsung ke komisi II senayan jakarta 30 april 2008 lalu.
Sehubungan dengan datangnya anggota komisi II tersebut seluruh lapisan masyarakat 5 kabupaten yakni sanggau, sekadau, sintang, melawi dan kapuas hulu akan berkumpul di sintang bersama pemerintah dan unsur masyarakat lainnya akan di undang dalam acara yang di kemas dalam rapat akbar. Acara tersebut di laksanakan di Gedung Serba Guna yang mampu menampung 10.000 orang.
Sementara agenda pertemuan masyarakat dengan Komisi II selain tatap muka langsung akan di lanjutkan meninjau langsung fasilitas-fasilitas pendukung propinsi yang memang sudah siap di sintang. Kunjungan tersebut berjalan sebagaimana jadwal komisi II yang tentunya di dukung penuh oleh Pemda Provinsi.
Persiapan administrasi maupun tekhnis untuk pemebentukan Kapuas Raya berada di wilayah timu Kalimantan Barat dinilai sudah memenuhi syarat. Ketua Komisi II DPR – RI, yang juga Ketua Romobongan Verifikasi Faktual Propinsi Kapuas Raya Eka Santoso mengemukakan ada beberapa hal yang krusial untuk menjadikan sebuah propinsi Kapuas Raya seperti yang cakupan wilayah dan persetujuan letak ibukota dari 5 kabupaten tidak ada masalah.
Verifiakasi factual yang di laksanakan oleh Tim DPR-RI untuk mengambil langkah setelah ada aspirasi dari tingkat bawah yang nantinya akan dip roses. Masalah propinsi Kapuas Raya ini hanya menunggu dari segi legilasi dan politis saja. Adapun adanya usulan hak inisiatif dewan untuk membahas masalah tersebut minimal dalam pembahasan di dukung oleh 13 anggota DPR-RI .
Menyinggung apakah mampu mengejar 2009 bisa terbentuk, ia mengatakan hal itu relative. Ia berkeyakinan propinsi Kapuas Raya bakal segera terbentuk melalui usulan hak inisiatif. Terlebih dahulu propinsi induk beserta DPRD Propinsi Kalbar sudah memberikan persetujuan bahkan di 5 kabupaten yang memkarkan sudah membuat suatu kesepakatan bersama. Jadi tidak ada masalah dan pembentukan propinsi baru di wilayah timur kalbar segera diproses. Ia menegaskan berkenaan propinsi tersebut tidak ada kaitannya dengan pemilu 2009. Kedatangan di Sintang guna melihat kondisi riil wilayah pemekaran.
Perjuangan masyarakat 5 Kabupaten untuk membentuk Propinsi Kapuas Raya,memang tidak ada alasan lagi untuk di tolak Propinsi induk maupun Pemerintah Pusat. Pasalnya, wilayah ini sudah cukup di kenal baik dari potensi alamnya, luas wilayah maupun persiapan calon ibukota propinsinya.
Sesuai dengan usulan, memang Kalimantan nantinya akan menjadi 7 propinsi di antaranya Kalbar, Kaltim, Kalteng masing-masing 2 Propinsi, Kalsel 1 propinsi.Ungkap anggota Komisi II dari Fraksi Demokrat, Soekartono. Dalam konteks tersebut, Soekartono mengimbau jika memperhatikan paparan Koordinator Kapuas Raya sebaiknya tidak ada salahnya datang ke Istana membawa aspirasi yang memang sesuai fakta lapangan.
Ia juga mengatakan, nantipun hasil verifikasi Komisi II akan di paparkan juga di hadapan para Menteri yang di tunjuk oleh Presiden dan Undang-Undang. Karena itu, kehadiran Koordinator sangat perlu guna memaparkan langsung kepada Presiden tentang kondisi sebenarnya serta latar belakang usulan Pemekaran Kapuas Raya.
Kunjungan Tim Komisi II DPR-RI meninjau langsung Sintang sebagai Calon Ibukota Propinsi Kapuas Raya di sambut ribuan element masyarakat di tandai dengan upacara adat, hadirin yang terdiri dari Pimpinan 5 daerah dan anggota DPRD dan berbagai unsure masyarakat hanyut dalam rapat akbar itu mendengar tanggapan para tamu terhormat dari Komisi II yang semuanya berjumlah 12 orang atas usulan pemekaran Kapuas Raya..
Tamu Komisi II DPR-RI yang berkunjung ke Sintang pada 28-29 agustus 2008 lalu tampak berjalan sesuai rencana di anataranya rapat akbar, temu para tokoh dan mengunjungi fasilitas pendukung propinsi seperti calon Kantor Gubernur dan RRI. Dalam sambutannya Ketua Komisi II mengatakan kehadiran tim di Sintang adalah sebagai tindak lanjut dari kehadiran pimpinan pemerintah 5 Kabupaten dan element masyarakat ke senayan beberapa waktu lalu sehubungan dengan usulan pemekaran yang di maksud.
Setelah mempelajari dan mencermati apa yang tertera dalam dokumen yang di serahkan tempo hari di senayan maka kehadiran Komisi II yang berjumlah 12 orang dari 9 fraksi setelah mendengar lagi paparan ini tampak semakin jelas oleh karena itu Pemekaran Kapuas Raya harus diperjuangkan.
Dihadapan ratusan masyarakat 5 Kabupaten di Pendopo Bupati Sintang ketika itu Ketua Komisi II memberikan tanggapannya baik secara pribadi dan lembaga bahwa pemekaran Kapuas Raya sungguhnya tidak ada lagi permasalahan baik dari segi UU dan PP tentang pemekaran suatu daerah. Upaya pendirian propinsi baru di wilayah ini patut di dukung mengingat ada beberapa factor maupun indicator mengapa pendirian propinsi di perlukan.
Pertama katanya adalah guna memperpendek rentang kendali jarak pusat ke daerah dalam upaya percepatan pembangunan dan pelayanan. Ke dua melihat wilayah ini cukup tertinggal dan tidak adanya jalan akses yang memadai maka di perkirakan adalah factor terlambatnya arus perekonomian masyarakat dan hal ini harsu segera di atasi. Ketiga wilayah ini adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara luar karena itu alasan keterbelakangan bias menjadi ancaman seperti melunturkan nasionalisme warga perbatasan, sebaliknya Malaysia selaku Negara tetangga malah telah menunjukkan perhatiannya terhadap perbatasannya tentu kita harus memikirkan tindakan di balik itu selanjutnya. Cepat atau lambat jika tidak di perhatikan kondisi keterbelakangan ini secara menyeluruh bisa di gerogoti karena alasan tidak di perhatikan, sementara target pemekaran di kalkulasikan 2009 RUU nya bisa di sahkan meskipun pilpres sedang berjalan Karena hal itu tidak ada kaitannya sesuai UU Nomor 22 tahun 2003 tentang susduk.
Setelah siaran langsung di Pro 3 RRI Sintang bersama Koordinator Pemekaran Drs. Milton Crosby Msi, Ketua Tim Komisi II DPR-RI, Drs. Eka Santosa sebelum meninggalkan sintang mengatakan alur proses selanjutnya Propinsi Kapuas Raya yaitu, setelah berbagi bahan dan materi yang di dapatkan anggota Komisi II DPR-RI ini selepas lawatannya ke Sintang selanjutnya akan di bawa ke Dewan untuk di bahas. Baik berupa catatan penting, laporan, maupun usulan-usulan seluruhnya di catat untuk kemudian di bahas dalam rapat komisi .
Terkait usulan pemekaran wilayah timur Kalbar yang menurutnya tetap berlanjut melalui hak inisiatif DPR yang memang menangani masalah ini adalah Komisi II DPR-RI. Pembahasan untuk membuat Rancangan Undang-Undang pemekaran wilayah ini ke tingkat legislasi sebelumnya di agendakan terlebih dahulu. Adapun RUU ini diganti menjadi UU harus ada usulan dan di ajukan sedikitya oleh 13 anggota Dewan. Sebelum di sahkan menjadi UU, akan ad tim dari Eksekutif yakni Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) yang akan mengevaluasi tahapan dan persyaratannya.
Biasanya, sebelum propinsi baru di dirikan, Presiden mengutus dan meminta mentri terkait turun maninjau dan mengecek sejauh mana kesiapan daerah menjadi ibukota propinsi . Menteri terkait yang biasanya di tugaskan adalah Mendagri dan Menteri Hukum dan HAM. Hasil tujuan dan laporan dari DPOD dan Menteri ini kemudian di bawa lalu di agendakan pembahsannya di legislatif. Dari Komisi II kemudaian di paripurnakan di dewan untuk pengesahan RUU menjadi UU.
Mengenai target Propinsi Kapuas Raya, mengisyaratkan paling tidak tahun 2009 di bahas dan sudah kita sepakati dengan 9 fraksi yang hadir di Sintang, dari 13 orang anggota yang turut turun ke sintang 3 orang lainnya kita akan upayakan meyakinkan.
baca artikel/info/dokumentasi mengenai perjalanan menuju Provinsi Kapuas Raya selengkapnya disini: http://kapuas-raya.blogspot.com/
DAMUZ
Senin, 31 Januari 2011
EPIDEMIOLOGI TB PARU
SURVEY OF TUBERCOLOSIS AND EPIDEMIOLOGI DISCRIPTION OF TUBERCULOSIS
IN KESENET BANJARMANGU BANJARNEGARA DISTRICT
Abstract
Mycobacterium tuberculosis has been infecting one-third of world population, WORLD
health Organization (WHO) report about 8 million of wold population suffered from
tuberculosis with 3 million people death per year. Though this disease is pertained cruelty,
but the awareness of sosiety is still low. It can be seen from the finding number of lugs
tuberculosis patient. This research is aimed calcuate the amount of lungs tuberculosis
clinical suspects in Kesehatan Village of Banjarnegara distric. The research used descriptive
method which is done by survei method and Cross setional approach. The result showed that
finding of of tubercolosis suspects was 27 person (26,21%). There was 8 (29,62%) as
primary contact,and 3 person (11,11%) as tubercolosis contact source. The gender factor is
mostly men thah can be found in 16 person (66,67%). With average age 31-45 years old.
Their education level factor is mostly elementary school with fixed job but low income. based
on the smoking habit. 15 (55,56%) suspects of lungs tuberkulosis are active smoker. The most
consumption lings tuberculosis uspects are ineligible in illumination and ventilation.
Mearwhile, their floor are elligilible of health.
Keyword : suspect,tuberculosis,epidemiology
TB PARU
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosa, mycobacterium bovis serta Mycobacyerium avium, tetapi lebih sering
disebakan oleh Mycobacterium tuberculosa (Royhan, 2011). Pada tahun 1993, WHO
telah mencanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis di dunia, karena pada
sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis menjadi tidak terkendali. Di
Indonesia sendiri, penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan yang utama.
Pada tahun 1995, hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), menunjukkan bahwa
penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok umur.
IN KESENET BANJARMANGU BANJARNEGARA DISTRICT
Abstract
Mycobacterium tuberculosis has been infecting one-third of world population, WORLD
health Organization (WHO) report about 8 million of wold population suffered from
tuberculosis with 3 million people death per year. Though this disease is pertained cruelty,
but the awareness of sosiety is still low. It can be seen from the finding number of lugs
tuberculosis patient. This research is aimed calcuate the amount of lungs tuberculosis
clinical suspects in Kesehatan Village of Banjarnegara distric. The research used descriptive
method which is done by survei method and Cross setional approach. The result showed that
finding of of tubercolosis suspects was 27 person (26,21%). There was 8 (29,62%) as
primary contact,and 3 person (11,11%) as tubercolosis contact source. The gender factor is
mostly men thah can be found in 16 person (66,67%). With average age 31-45 years old.
Their education level factor is mostly elementary school with fixed job but low income. based
on the smoking habit. 15 (55,56%) suspects of lungs tuberkulosis are active smoker. The most
consumption lings tuberculosis uspects are ineligible in illumination and ventilation.
Mearwhile, their floor are elligilible of health.
Keyword : suspect,tuberculosis,epidemiology
TB PARU
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosa, mycobacterium bovis serta Mycobacyerium avium, tetapi lebih sering
disebakan oleh Mycobacterium tuberculosa (Royhan, 2011). Pada tahun 1993, WHO
telah mencanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis di dunia, karena pada
sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis menjadi tidak terkendali. Di
Indonesia sendiri, penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan yang utama.
Pada tahun 1995, hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), menunjukkan bahwa
penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok umur.
Sabtu, 29 Januari 2011
HIDROSEPALUS
BAB. I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Hidrosefalus telah dikenal sejak zaman Hipocrates, saat itu Hidrosefalus dikenal sebagai penyebab penyakit ayan.
Disaat ini denga teknologi yang semakin berkembang maka mengakibatkan polusi didunia semakin meningkat pula yang pada akhirnya menjadi factor penyebab suatu penyakit, yang mana kehamilan merupakan keadaan yang sangat rentan terhadap penyakit yang dapat mempengaruhi janinnya, salah satunya adalah Hidrosefalus. Saat ini secara umum insidennya dapat dilaporkan sebesar tiga kasus per seribu menderita Hidrosefalus. Hidrosefalus merupakan penyakit yang sangat memerlukan pelayanan keperawatan khusus.
Peran perawat dalam hal ini adalah membantu menjelaskan pada klien bahwa hidrosefalus merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan memerlukan penanganan yang khusus .
Komplikasi
Berdasarkan hal tersebut di atas maka kelompok mengambil kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hidrosefalus”.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Diharapkan agar mahasiswa dapat mempelajari dan memahami tentang Asuhan Keperawatan Klien Dengan Hidrosefalus.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan Mahasiswa mampu :
a. Menyebutkan pengertian Hidrosefalus
b. Menyebutkan Etiologi Hidrosefalus
c. Menjelaskan Patofisiologi Hidrosefalus
d. Menyebutkan komplikasi Hidrosefalus
e. Menyebutkan penatalaksanaan Hidrosefalus
f. Menjelaskan pengkajian pada klien anak dengan Hidrosefalus
g. Menyebutkan diagnosa keperawatan pada kasus Hidrosefalus
h. Menyebutkan perencanaan keperawatan pada kasus Hidrosefalus
i. Menyebutkan pelaksanaan keperawatan secara teori
j. Menyebutkan evaluasi Keperawatan secara teori
BAB. II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Hidrosefalus adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikel sebral, ruang subarachniod atau ruang subdural. ( Suriadi dan Yuliani , 2001 )
Hidrosefalus adalah timbul bila ruang cairan serebro spinallis internal atau eksternal melebar. ( Mumenthaler , 1995 )
Hidrosefalus adalah keadaan fatologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebro spinalis tanpa atau pernah dengan tekanan intracranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan serebro spinal . ( Ngastiyah , 2005 )
B. Etiologi
Adapun penyebab dari Hidrosefalus adalah terjadi sebagai akibat dari obstruksi, gangguan absorbsi atau kelebihan produksi cairan serebro spinal dan terdapat penyumbatan aliran css pada salah satu tempat pembentukan css dalam system ventrikel dan tempat absorsi dalam ruang subraraknoid.
C. Patofisiologi
1. Proses penyakit
Hidrosefalus terjadi karena adanya gangguan absorbsi cairan serebro spinal dalam subarachnoid dan atau adanya obstruksi dalam ventrikel yang mencegah cairan serebro spinal masuk kerongga subaracnoid karena infeksi, neoplasma, pendarahan atau kelainan bentuk perkembangan otak janin, cairan terakumulasi dalam ventrikel dan mengakibatkan dilatasi ventrikel dan penekanan organ – organ yang terdapat dalam otak.
Infeksi, neoplasma, pendarahan
Malformasi perkembangan otak janin..
Gangguan absorpsi aliran serebrospinal Obstruksi aliran cairan serebros
Diruang subarachoid ( communicating pinal melalui system ventrikel
Hidrosefalus ) non communication hidrosefalus.
Akumulasi cairan serebrospinal diventrikel
Ventrikel diatas menekan organ – organ yang
Terdapat didalam otak diventrikel .
3. Manifestasi Klinis
Tanda awal dan gejala Hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS. Biasanya pada bayi ditemukan pembesaran pada kepala, fontanel anterior menonjol, vena pada kulit kepala dilatasi dan terlihat jelas pada saat bayi menangis, terdapat bunyi creckedpot ( tanda macewen ), mata terlihat kebawah, mudah terstimulasi, lemah, kemampuan makan kurang, perubahan kesadaran, opisthotonus, dan spatik pada ekstremitas bawah.
D. Komplikasi
1. Peningkatan tekanan intracranial
2. Kerusakan otak
3. Infeksi : seftikemia, endokarditis, infeksi luka, prefitis, meningitis, ventrikulitis,
abses otak .
4. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat abstruksi mekanik
5. Hematomi subdural, peritonitis, abses abdomen, hernia dan ileus
6. Kematian
E. Penatalaksanaan
1 . Terapi
Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan Hidrosefalus, yaitu :
a) Mengurangi produksi CSS
b) Mempengaruhi hubungan antara produksi CSS dengan tempat absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakanial
2 . Tindakan medis yang bertujuan untuk pengobatan
1 . Non pembedahaan: pemberian acotazolamide dan isosorbide atau farosemide mengurangi produksi cairan serebro spinal.
2 . Pembedahaan : pengangkatan penyebab abstruse mis; neoplasma, kista atau haematom; pemasangan shunt yang bertujuan untuk mengalirkan cairan serebrospinal yang berlebihan dari ventrikel keruang elestra cranial mis; kerongga peritoneum, atrium kanan dan rongga pleura.
F. Pengkajian keperawatan
Riwayat keperawatan
Kaji adanya pembesaran kepala pada bayi, vena terlihat jelas pada kulit kepala, bunyi crackedpot, penurunan kesadaran opisthotonus, dan spatik pada ekstremitas bawah.
Kaji lingkar kepala
Kaji ubun – ubun bila ia menangis
Kaji perubahan tanda vital
Kaji pila tidur, prilaku dan interaksi
G. Diagnosa Keperawatan
1. Ggangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan meningkatnya tekanan intracranial.
2. Kecemasan orang tua berhubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
3. Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intek yang kurang disertai muntah.
H. Perencanaan Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan meningkatnya tekanan intracranial.
Tujuan : Kjien akan merasa nyaman dan nyerinya berkurang.
Kriteria Hasil : Klien menyatakan nyerinya berkurang.
Intervensi : mandiri
a. Menjelaskan penyebab nyeri
Rasional: Mengurangi kecemasan klien dan meningkatkan pengetahuan klien tentang penyebab nyeri.
b. Mengatur posisi klien
Rasional : Mengurangi rasa nyeri sebelah.
Kolaborasi : Pemberian terapi obat analgesic.
2. Kecenasan orang tua berhubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
Tujuan : Kecemasan orangtua berkurang atau dapat diatasi.
Kriteria hasil : Klien merasa lebih enak disbanding sebelum operasi.
Intervensi mandiri :
a. Menjelaskan kepada orang tua tentang masalah anaknya terutama ketakutannya menghadapi operasi.
Rasional : Mengurangi rasa kecemasan orang tua dengan prosedur yang akan diberikan kepada anaknya nanti.
3. Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intek yang kurang disertai muntah.
Tujuan : Tidak lagi terjadi kekurangan cairan dan elektrilit.
Kriteria hasil : Kebutuhan cairan dan elektrolit dapat terpenuhi.
Intervensi mandiri :
a. Kaji tanda – tanda kekurangan cairan.
Rasional : Mengetahui seberapa banyak cairan yang akan diberikan nanti.
b. Monitor intake dan out put.
Rasional : Mengetahui berapa banyak pemasukan dan pengeluaran cairan dalam tubuh kita.
I . Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Tahap Pelaksanaan :
a. Review tindakan keperawatan yang mengidentifikasikan pada tahap perencanaan .
b. Menganalisa pengetahuan dan keterampilan dalam keperawatan yang perlu dilakukan.
c. Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul.
d. Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang perlu.
e. Mempersiapkan lingkungan yang kondusif dan nyaman.
J. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dan berasal dari hasil yang ditetapkan dalam rencana asuhan keperawatan, dan bertanggung jawab atas status dan kemajuan kesehatan klien terhadap pencapaian yang diinginkan.
Tahap evaluasi : .
a. Evaluasi proses
Merupakan kegiatan yang dilakukan dengan mengevaluasi selama proses keperawatan berlangsung atau respon klien.
b. Evaluasi hasil :
Merupakan kegiatan evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan.
Tujuan tercapai :
Tujuan ini dikatakan tercapai apabila klien tidak menunjukkan perubahaan dan kemajuan yang sesuai dengan criteria yang ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Darsono dan Himpunan dokter Spesialis Syaraf Indonesia dengan UGM .2005 . Buku Ajar Neurologi Klinis . Yogyakarta : UGM Press.
Ngastiyah . 2005 . Keperawatan Anak Sakit .Edisi 2 .Jakarta : EGC.
Rita yuliani dan Suriadi .2001 . Asuhan Keperawatan Pada Anak . Edisi 2 . Jakarta : CV. Sagung Seto .
PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Hidrosefalus telah dikenal sejak zaman Hipocrates, saat itu Hidrosefalus dikenal sebagai penyebab penyakit ayan.
Disaat ini denga teknologi yang semakin berkembang maka mengakibatkan polusi didunia semakin meningkat pula yang pada akhirnya menjadi factor penyebab suatu penyakit, yang mana kehamilan merupakan keadaan yang sangat rentan terhadap penyakit yang dapat mempengaruhi janinnya, salah satunya adalah Hidrosefalus. Saat ini secara umum insidennya dapat dilaporkan sebesar tiga kasus per seribu menderita Hidrosefalus. Hidrosefalus merupakan penyakit yang sangat memerlukan pelayanan keperawatan khusus.
Peran perawat dalam hal ini adalah membantu menjelaskan pada klien bahwa hidrosefalus merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan memerlukan penanganan yang khusus .
Komplikasi
Berdasarkan hal tersebut di atas maka kelompok mengambil kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hidrosefalus”.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Diharapkan agar mahasiswa dapat mempelajari dan memahami tentang Asuhan Keperawatan Klien Dengan Hidrosefalus.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan Mahasiswa mampu :
a. Menyebutkan pengertian Hidrosefalus
b. Menyebutkan Etiologi Hidrosefalus
c. Menjelaskan Patofisiologi Hidrosefalus
d. Menyebutkan komplikasi Hidrosefalus
e. Menyebutkan penatalaksanaan Hidrosefalus
f. Menjelaskan pengkajian pada klien anak dengan Hidrosefalus
g. Menyebutkan diagnosa keperawatan pada kasus Hidrosefalus
h. Menyebutkan perencanaan keperawatan pada kasus Hidrosefalus
i. Menyebutkan pelaksanaan keperawatan secara teori
j. Menyebutkan evaluasi Keperawatan secara teori
BAB. II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Hidrosefalus adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikel sebral, ruang subarachniod atau ruang subdural. ( Suriadi dan Yuliani , 2001 )
Hidrosefalus adalah timbul bila ruang cairan serebro spinallis internal atau eksternal melebar. ( Mumenthaler , 1995 )
Hidrosefalus adalah keadaan fatologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebro spinalis tanpa atau pernah dengan tekanan intracranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan serebro spinal . ( Ngastiyah , 2005 )
B. Etiologi
Adapun penyebab dari Hidrosefalus adalah terjadi sebagai akibat dari obstruksi, gangguan absorbsi atau kelebihan produksi cairan serebro spinal dan terdapat penyumbatan aliran css pada salah satu tempat pembentukan css dalam system ventrikel dan tempat absorsi dalam ruang subraraknoid.
C. Patofisiologi
1. Proses penyakit
Hidrosefalus terjadi karena adanya gangguan absorbsi cairan serebro spinal dalam subarachnoid dan atau adanya obstruksi dalam ventrikel yang mencegah cairan serebro spinal masuk kerongga subaracnoid karena infeksi, neoplasma, pendarahan atau kelainan bentuk perkembangan otak janin, cairan terakumulasi dalam ventrikel dan mengakibatkan dilatasi ventrikel dan penekanan organ – organ yang terdapat dalam otak.
Infeksi, neoplasma, pendarahan
Malformasi perkembangan otak janin..
Gangguan absorpsi aliran serebrospinal Obstruksi aliran cairan serebros
Diruang subarachoid ( communicating pinal melalui system ventrikel
Hidrosefalus ) non communication hidrosefalus.
Akumulasi cairan serebrospinal diventrikel
Ventrikel diatas menekan organ – organ yang
Terdapat didalam otak diventrikel .
3. Manifestasi Klinis
Tanda awal dan gejala Hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS. Biasanya pada bayi ditemukan pembesaran pada kepala, fontanel anterior menonjol, vena pada kulit kepala dilatasi dan terlihat jelas pada saat bayi menangis, terdapat bunyi creckedpot ( tanda macewen ), mata terlihat kebawah, mudah terstimulasi, lemah, kemampuan makan kurang, perubahan kesadaran, opisthotonus, dan spatik pada ekstremitas bawah.
D. Komplikasi
1. Peningkatan tekanan intracranial
2. Kerusakan otak
3. Infeksi : seftikemia, endokarditis, infeksi luka, prefitis, meningitis, ventrikulitis,
abses otak .
4. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat abstruksi mekanik
5. Hematomi subdural, peritonitis, abses abdomen, hernia dan ileus
6. Kematian
E. Penatalaksanaan
1 . Terapi
Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan Hidrosefalus, yaitu :
a) Mengurangi produksi CSS
b) Mempengaruhi hubungan antara produksi CSS dengan tempat absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakanial
2 . Tindakan medis yang bertujuan untuk pengobatan
1 . Non pembedahaan: pemberian acotazolamide dan isosorbide atau farosemide mengurangi produksi cairan serebro spinal.
2 . Pembedahaan : pengangkatan penyebab abstruse mis; neoplasma, kista atau haematom; pemasangan shunt yang bertujuan untuk mengalirkan cairan serebrospinal yang berlebihan dari ventrikel keruang elestra cranial mis; kerongga peritoneum, atrium kanan dan rongga pleura.
F. Pengkajian keperawatan
Riwayat keperawatan
Kaji adanya pembesaran kepala pada bayi, vena terlihat jelas pada kulit kepala, bunyi crackedpot, penurunan kesadaran opisthotonus, dan spatik pada ekstremitas bawah.
Kaji lingkar kepala
Kaji ubun – ubun bila ia menangis
Kaji perubahan tanda vital
Kaji pila tidur, prilaku dan interaksi
G. Diagnosa Keperawatan
1. Ggangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan meningkatnya tekanan intracranial.
2. Kecemasan orang tua berhubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
3. Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intek yang kurang disertai muntah.
H. Perencanaan Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan meningkatnya tekanan intracranial.
Tujuan : Kjien akan merasa nyaman dan nyerinya berkurang.
Kriteria Hasil : Klien menyatakan nyerinya berkurang.
Intervensi : mandiri
a. Menjelaskan penyebab nyeri
Rasional: Mengurangi kecemasan klien dan meningkatkan pengetahuan klien tentang penyebab nyeri.
b. Mengatur posisi klien
Rasional : Mengurangi rasa nyeri sebelah.
Kolaborasi : Pemberian terapi obat analgesic.
2. Kecenasan orang tua berhubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
Tujuan : Kecemasan orangtua berkurang atau dapat diatasi.
Kriteria hasil : Klien merasa lebih enak disbanding sebelum operasi.
Intervensi mandiri :
a. Menjelaskan kepada orang tua tentang masalah anaknya terutama ketakutannya menghadapi operasi.
Rasional : Mengurangi rasa kecemasan orang tua dengan prosedur yang akan diberikan kepada anaknya nanti.
3. Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intek yang kurang disertai muntah.
Tujuan : Tidak lagi terjadi kekurangan cairan dan elektrilit.
Kriteria hasil : Kebutuhan cairan dan elektrolit dapat terpenuhi.
Intervensi mandiri :
a. Kaji tanda – tanda kekurangan cairan.
Rasional : Mengetahui seberapa banyak cairan yang akan diberikan nanti.
b. Monitor intake dan out put.
Rasional : Mengetahui berapa banyak pemasukan dan pengeluaran cairan dalam tubuh kita.
I . Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Tahap Pelaksanaan :
a. Review tindakan keperawatan yang mengidentifikasikan pada tahap perencanaan .
b. Menganalisa pengetahuan dan keterampilan dalam keperawatan yang perlu dilakukan.
c. Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul.
d. Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang perlu.
e. Mempersiapkan lingkungan yang kondusif dan nyaman.
J. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dan berasal dari hasil yang ditetapkan dalam rencana asuhan keperawatan, dan bertanggung jawab atas status dan kemajuan kesehatan klien terhadap pencapaian yang diinginkan.
Tahap evaluasi : .
a. Evaluasi proses
Merupakan kegiatan yang dilakukan dengan mengevaluasi selama proses keperawatan berlangsung atau respon klien.
b. Evaluasi hasil :
Merupakan kegiatan evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan.
Tujuan tercapai :
Tujuan ini dikatakan tercapai apabila klien tidak menunjukkan perubahaan dan kemajuan yang sesuai dengan criteria yang ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Darsono dan Himpunan dokter Spesialis Syaraf Indonesia dengan UGM .2005 . Buku Ajar Neurologi Klinis . Yogyakarta : UGM Press.
Ngastiyah . 2005 . Keperawatan Anak Sakit .Edisi 2 .Jakarta : EGC.
Rita yuliani dan Suriadi .2001 . Asuhan Keperawatan Pada Anak . Edisi 2 . Jakarta : CV. Sagung Seto .
LAPORA N PENDAHULUAN ANEMIA DAMUS
LAPORAN PENDAHULUAN
ANEMIA
A. Pengertian
Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada atau Hb < 12 g/dl dan Ht 37 % pada wanita.
( Arief Mansjoer, hal 547 )
Anemia adalah istilah yang menunjukan adanya rendahnya hutung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal.
( Brunner and sudarth, hal 935 )
Anemia adalah berkurangnya hingga dibawahnilai normal jumlah SDM, kuantitas hemoglobin , dan volume packed red blood cells ( hematokrit ) per 100 ml darah.
( Sylvia A. Price, hal 256 )
Klasifikasi anemia :
1. Anemia mikrositik hipokrom
a. Anemia definsiensi besi
b. Anemia penyakit kronik
2. Anemia makrositik
a. Defisiensi vitamin B12
b. Defisiensi asam folat
3. Anemia karena perdarahan
4. Anemia hemolitik
5. Anemia aplastik
( Arief mansjoer, hal 547 )
B. Patofisiologi
1. Etiologi
Penyebab Anemia yaitu :
1. Produksi sel darah merah tidak mencukupi
2. Sel darah merah premature atau pengancuran sel darah merah berlebihan
3. Kehilangan darah
4. Kekurangan Nutrisi
5. Penyakit kronis
( Brunner and Sudarth, hal 935 )
2. Manisfestasi klinis
a. Pucat
b. Kelemahan
c. Sesak nafas pada latihan
d. gelisah ( keringat dingin )
e. diaphoresis
f. takikardia
g. angina ( sakit dada )
h. sakit kepala, pusing, kelemahan, dan tinnitus berkurangnya oksigen pada SSP
3. Proses penyakit
4. Komplikasi
a. Gagal jantung
b. Parestesia
c. Kejang
C. Penatalaksanaan medis
1. Test diagnostic
• Jumlah darah lengkap : hemoglobin dan hemotokrit menurun
• Jumlah eritrosit : menurun ( AP ), menurun berat ( aplastik ); MCV ( volume korpuskural rerata )dan MCH ( hemoglobin korpuskural renata ) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hiprokromik (DB), peningkatan ( AP ), Pansitopenia ( aplastik )
• Jumlah retikulosit : bervariasi, mis : menurun ( AP ), meningkat ( respon sumsum tulang terhadap kehilangan darah / hemolisis )
• Pewarnaan SDM : mendeteksi perubahan warna dan bentuk ( dapat menindikasikan tipe Kusus anemia )
• LED : peningkatan menunjukan adanya reaksi inflamasi misal peningkatan kerusakan SDM atau penyakit malignansi
• Masa hidup SDM : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal pada tipe anemia tertentu, SDM mempunyai waktu hidup lebih pendek
• Test kerapuhan eritrosit : menurun ( DB )
• SDP : Jumlah sel total sama dengan SDM ( diferensial ) mungkin meningkat ( hemolitik ) atau menurun ( aplastik )
• Jumlah trombosit : menurun ( aplastik ); meningkat ( DB ); normal atau tinggi (hemolitik)
• Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin
• Bilirubin serum ( tak terkonjugasi ) : menungkat ( AP, hemolitik )
• Besi serum : tak ada ( DB ); tinggi ( hemolitik )
• Masa perdarahan : memanjang ( aplastik )
• Aspirasi sum-sum tulang/pemeriksaan biopsy : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran dan bentuk, membentuk membedakan tipe anemia, missal peningkatan megaloblas ( AP ), lemak sum-sum dengan penurunaan sel darah ( aplastik )
• Pemeriksaan endoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan ; perdarahan GI
( Marylin E doengoes hal 572 )
2. Terapi
Tujuan utama terapi adalah pengobatan yang yang disesuaikan dengan etiologi dari dari anemianya.
a. Istirahat total dan menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan kelemahan sampai kesehatan klien pulih
b. Diet yang seimbang dengan makanan tinggi protein tinggi kalori, buah – buahan dan sayuran sangat dianjurkan
c. Tranfusi darah, sebaiknya diberikan packed red cell. Bila diperlukan trombosit, berikan darah segar atau platelet concentrate
d. Kortikosteroid, dosis rendah mungkin bermanfaat pada perdarahan akibat trombositopenia berat.
e. Pemberian preparat Fe
D. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien
Aktifitas / istirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum
Kehilangan produktifitas
Toleransi terhadap latihan rendah
Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak
Tanda : takikardia/takipnea; dispneu pada bekerja atau istirahat
Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya
Kelemahan otot dan penurunan kekuatan
Ataksia, tubuh tidak tegak
Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda – tanda lain yang
menunjukkan keletihan.
Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronis, missal perdarahan GI kronis,
menstruasi berat ( DB );
angina, CHF ( akibat kerja jantung berlebih )
riwayat endokarditis infektif kronis
palpitasi ( takikardia kompensasi )
Tanda : TD : peninggkatan sistolik dengan diastolic stabil dan tekanan nadi
melebar; hipotensi Postura
Dysritmia : abnormalitas EKG missal depresi segment ST dan pendataran
atau depresi
gelombang T ; takikardia
bunyi jantung murmur sistolik ( DB )
ekstremitas ( warna ): pucat pada kulit dan membrane mukosa
konjungtiva, mulut, bibir ) dan dasar kuku
Sklera : biru atau putih seperti mutiara ( DB )
Pengisian kapiler melambat ( penurunan aliran darah ke periper dan
vasokontriksi kompensasi )
kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok ( koilonikia ) ( DB )
rambut : kering, mudah putus, menipis ( AP )
Integritas ego
Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, missal
penolakan transfuse darah
Tanda : Depresi
Eliminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal
Flatulen, sindrom malabsorpsi ( DB )
Hematemesis, feses dengan darah segar, melena
Diare atau konstipasi
Penurunan haluaran urin
Tanda : distensi abdomen
Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet ( DB )
Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan ( Ulkus pada faring )
Mual /muntah, dyspepsia, anoreksia
Adanya penurunan berat badan
Tidak pernah puas untuk mengunyah atau pika untuk es, kotoran
tepung jagung, cat,
tanah liat dan sebagainya ( DB )
Tanda : lidah tampak merah daging / halus ( AP; defisiensi asam folat dan
vitamin B12
Membrane mukosa kering, pucat
Turgor kulit : buruk, kering, tampak kusut/hilang elastisitas (DB )
Stomatitis dan glatitis ( status defisiensi )
Bibir : selitis, mis, imflamasi bibir dengan sudut mulut pecah ( DB )
Hygiene
Tanda : kurang bertenaga , penampilan tak rapih
Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan
berkonsentrasi
Insomnia, penurunan pengelihatan, dan bayangan pada mata
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; prestasia tangan / kaki (
AP ); klaudikasi
Sensasi menjadi dingin
Tanda : peka ransang, gelisah, depresi, cenderung tidur, apatis
Mental : tak mampu berespons lambat dan dangkal
Oftalmik : hemoragis retina ( aplastik, AP )
Epistaksis, perdarahan dari lubang-lubang
Gangguhan koordinasi, ataksia : penurunana rasa getar dan posisi
paralisis ( AP )
Nyeri/ketidaknyamannan
Gejala : nyeri abdomen samar; sakit kepala ( DB )
Pernafasaan
Gejala : riwayat TB, abses paru
Nafas pendek pada istrahat dan aktivitas
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea
Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terdahdap bahan kimia, mis, benzene,
insektisida, fenilbutason, naftalen
riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan
riwayat kanker, terapi kanker
tidak toleran terhadap dingin/atau panas
tranfusi darah sebelumnya
gangguan penglihatan
penyembuhan luka buruk, sering infeksi
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam
Limfadenopati umum
Petekie dan ekimosis ( aplastik )
Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, mis., menoragia atau amnore ( DB )
Hilang libido (pria dan wanita )
Impotent
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat
E. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
2. Intoleran aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplay oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan untuk mencerna makanan / absorbs nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal.
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b.d
perubahan sirkulasi dan neurologis (anemia)
gangguan mobilitas
deficit nutrisi
5. Konstipasi atau diare b.d
penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan
efek samping terapi obat
6. Resiko tinggi infeksi b.d
pertahanan sekunder ( tidak adekuat mis; penurunan hemoglobin leucopenia, atau
penurunan granulosit (respon inflamasi tertekan )
pertahanan utama tidak adekuat missal kerusakan kulit, stasis cairan tubuh; prosedur invasive, penyakit kronis, malnutrisi.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis, dan kebutuhan pengobatan b.d
Kurang terpajan/mengingat
Salah interpretasi informasi
Tidak mengenal sumber informasi
F. Perencanaan Asuhan Keperawatan
Diagnosa 1 : Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen
Seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x 24
jam diharapkan perubahan perfusi jaringan dapat
teratasi
Kriteria Hasil : menunjukkan perfusi adekuat missal tanda vital stabil,
Membrane mukosa warna merah muda, pengisian
kapiler baik, haluaran urin adekuat; mental seperti biasa.
Intervensi :
Mandiri :
Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa,dasar kuku
Rasional : memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan
perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan
Intervensi :
Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan
oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi
Awasi upaya pernapasan : auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius
Rasional : Dispnea, gemericik menunjukkan GJK karena regangan
Jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung
Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi
Rasional :Iskemia seluler mempengaruhi jaringan
miokardia/potensional resiko infark
Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung
Rasional : dapat mengindikasikan gangguan fumgsi serbral karena
hipoksia atau defisiensi vitamin B12
Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi
Rasional : vasokostriksi (keorgan vital) menurunkan sirkulasi
perifer.kebutuhanrasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindaripanas berlebihan pencetus vasodiltasi (penurunanperfusi organ)
Hindari penggunaan bantalan penghangat atau botol air panas.ukur suhu air mandi dengan thermometer
Rasional : termoreseptor jaringan dermal dangkal karena
gangguan oksigen
Kolaborasi :
Awasi pemeriksaan laboratorium, missal Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA
Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan
pengobatan/respon terhadap terapi.
Berikan SDM darah lengkap, produk darah sesuai indikasi.awasi ketat untuk komplikasi tranfusi
Rasional : meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen;
memperbaiki defisiensi untuk memperbaiki perdarahan
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : memaksimalkan tranfor oksigen kejaringan
Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi
Rasional : transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan
sumsum tulang/anemia aplastik
Diagnose 2 : Intoleran aktivitas b.d ketidak seimbangan antara
suplay oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan.
Tujuan : Intoleran aktivitas teratasi
Kriteria hasil : melaporkan peningkatan toleransi aktivitas
Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi,
missal nadi pernapasan, dan TD masih dalam rentang normal pasien.
Intervensi :
Mandiri :
Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal catat
laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi
Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot
Rasional : menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi
vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien.
Awasi TD, nadi, pernapasan, selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas ( missal peningkatan denyut jantung/TD, disritmia,pusing, dispnea, takipnea, dsb )
Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan
paru untukmembawa jumlah oksigen adekuat kejaringan
Berikan lingkungan tenang.
Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan
oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru
Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing
Rasional : hipotensi postural atau hipoksia serbral dapat
menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan risiko
cidera.
Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat.pilih metode istirahat dengan periode aktivitas
Rasional : Mempertahankan tingkat energy dan meningkatkan
regangan pada system jantung dan pernapasan
Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin.
Rasional : membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien
melakukan sesuatu sendiri
Gunakan tehnik untuk penghematan energy, missal mandi debgab duduk, duduk untuk melakukan tugas – tugas
Rasional : mendorong pasien melakukan banyak dengan
membatasi penyimpangan energy dan mencegah kelemahan
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktiviatas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Rasional : regangan/stress kardiopulmonal dapat menimbulkan
dekompensasi/kegagalan.
Diagnosa 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan
untuk mencerna makanan / absorbsnutrient yang
diperlukan untuk pembentukan SDM normal.
Tujuan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi
kriteria hasil : a. menunjukkan peningkatan BB atau BB stabil dengan
nilai laboratorium normal
b. tidak mengalami tanda malnutrisi
c. menunjukkan prilaku, perubahan pola hidup untuk
meningkatkan dan/atau mempertahankan BB yang sesuai
Intervensi :
Mandiri :
Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan
intervensi
Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan
konsumsi makanan
Timbang BB tiap hari
Rasional : mengawasi penurunan BB atau efektivitas intervensi
Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan diantara waktu makan
Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan
meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster
Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan
Rasional : gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia)
pada organ
Berikan dan bantu hygiene mulut yang baik
Rasional : meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral,
menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan
kemungkinan infeksi
Kolaborasi :
Konsul pada ahli gizi
Rasional : membantu dalam membuat rencana diet untuk
memenuhi kebutuhan individual
Pantau pemerikasaan laboratorium, missal Hb/Ht, BUN, albumin, protein, transferin, besi serum, B12, asam folat, elektrolit serum
Rasional : meningkatkan efektivitas program pengobatan,
termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan
Berikan obat sesuai indikasi, missal ;
Vitamin dan suplemen mineral, missal sianokobalamin ( vitamin B12 ), asam folat, asam askorbat ( vitamin C )
Besi dextran
Tambahan besi oral, missal ferosulfat, feroglukonat
Asam hidroklorida (HCL)
Berikan diet halus, rendah serat, menghindari makanan panas, pedas, atau terlalu asam sesuai inikasi
Rasional : bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan
yang dapat ditoleransi pasien
Berikan asupan nutrisi, missal ensure, isocal
Rasional : meningkatkan masukan protein dan kalori
Diagnose 4 : resiko tinggi kerusakan inegritas kulit b.d perubahan
sirkulasi dan neurologis (anemia)
tujuan : kerusakan integritas kulit tidak terjadi
kriteria hasil : mempertahankan integritas kulit
mengidentifikasi factor risiko / prilaku individu untuk
mencegah cidera dermal
intervensi :
mandiri :
Kaji integritas kulit, catat peubahan pada turgor, gangguan warna, hangat local, eritema, eksoriasi
Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi, dan
imobilisasi jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi atau rusak
Ubah posisi secara periodic dan pijat permukaan tulang bila pasien tidak bergerak atau di tempat tidur
Rasional : meningkatkan sirkulasi kesemua area kulit membatasi iskemia jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler
Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun
Rasional : area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan dan meningkatkan iritasi
Bantu untuk latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis
Kolaborasi :
Gunakan alat pelindung , missal kulit domba, keranjang, kasur tekanan udara/air, pelindung, tumit, siku, dan bantal sesuai indikasi
Rasional : menghindari kerusakan kulit dengan mencegah/menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit
Diagnosa 5 : konstipasi atau diare b.d penurunan masukan diet, perubahan proses Pencernaan
Tujuan : konstipasi atau diare teratasi
Kriteria hasil : Membuat/kembali pola normal
Menunjukkan perubahan perilaku/poa hidup yang diperlukan sebagai penyebab, factor pemberat
Intervensi :
Mandiri :
Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah
Rasional : membantu megidentifikasi penyebab/factor pemberat dan intervensi yang tepat.
Auskultasi bunyi usus
Rasional : bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi
Awasi masukan dan haluaran dengan perhatian khusus pada makanan/cairan
Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi. Kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi defisiensi diet.
Dorong masukkan cairan 2500 – 3000 ml/hari dalam toleransi jantung
Rasional : membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila
konstipasi. Akan membantu mempertahankan status hidrasi pada diare
Hindari makanan yang membentuk gas
Rasional : menurunkan distress gastric dan distensi abdomen
Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan dalam kondisi kulit atau mulai kerusakan.
Rasional : mencegah eksoriasi kulit dan kerusakan
Kolaborasi :
Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang dengan tinggi serat
Rasional : serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorbsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal sehingga merangsang untuk defekasi
Berikan laksatif atau enema sesuai indikasi
Rasional : mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi
Berikan obat anti diare missal difenoxilat hidroklorida dengan atropine (lomotil) dan obat pengabsorbsi air missal metamucil
Rational : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi
G. Pelaksanaan / Implementasi
Implementasi adalah proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari tindakan keperawatan, pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan / memberikan asuhan keperawatan tujuannya berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan keperawatan kesehatan berkelanjutan pada klien.
Proses / tahapan ada 5 yaitu :
a. Mengkaji ulang klien
Fase ini merupakan komponen yang memberikan mekanisme bagi perawat yang yang menentukan apakah tindakan keperawatan yang disusunkan masih sesuai
b. Mengklasifikasi ulang klien
c. Mengidentifikasi bidang bantuan berupa tenaga pengetahuan serta keterampilan
d. Mengimplementasikan
Mencatat semua tindakan yang dilakukan yaitu tanggal dan waktu, nama dan paraf perawat yang jelas
e. Mengevaluasi
H. Evaluasi
1. Pengertian
Merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh manatujuan dan rencana keperawatan tercapai / tidak
2. Jenis evaluasi
a. Evaluasi formatif menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon segera ( pendokumentasian dan implementasi )
b. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dengan analisa status klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan direncanakan pada tahap perencanaan
Penentuan keputusan yang mengacu pada keputusan :
a. Tujuan tercapai
Tujuan ini dikatakan tercapai apabila klien telah mengajarkan perubahan dengan kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan
b. Tujuan tercapai sebagian
Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai masalah.
c. Tujuan menunjukkan adanya perubahan kearah kemajuan sebgian kriteria yang diharapkan
I.Daftar Pustaka
Brunner & Suddarth.(2001).Buku Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8.vol.2.Jakarta:EGC
Doenges,Marilynn E.(1999).Rencan Asuhan Keperawatan:pedoman untuk perencanaan & pendokumentasian keperawatan Px.Edisi 3 Jakarta:EGC
Mansjoer,Arif dkk.(2001).Kapita Selekta Kedokteran.Edisi 8.jilid 1.Jakarta:Media Aescuylarius FKUI.
Price,sy(via Anderson.(2005).Patofisiologi:Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Edisi 6.Jakarta:EGC.
ANEMIA
A. Pengertian
Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada atau Hb < 12 g/dl dan Ht 37 % pada wanita.
( Arief Mansjoer, hal 547 )
Anemia adalah istilah yang menunjukan adanya rendahnya hutung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal.
( Brunner and sudarth, hal 935 )
Anemia adalah berkurangnya hingga dibawahnilai normal jumlah SDM, kuantitas hemoglobin , dan volume packed red blood cells ( hematokrit ) per 100 ml darah.
( Sylvia A. Price, hal 256 )
Klasifikasi anemia :
1. Anemia mikrositik hipokrom
a. Anemia definsiensi besi
b. Anemia penyakit kronik
2. Anemia makrositik
a. Defisiensi vitamin B12
b. Defisiensi asam folat
3. Anemia karena perdarahan
4. Anemia hemolitik
5. Anemia aplastik
( Arief mansjoer, hal 547 )
B. Patofisiologi
1. Etiologi
Penyebab Anemia yaitu :
1. Produksi sel darah merah tidak mencukupi
2. Sel darah merah premature atau pengancuran sel darah merah berlebihan
3. Kehilangan darah
4. Kekurangan Nutrisi
5. Penyakit kronis
( Brunner and Sudarth, hal 935 )
2. Manisfestasi klinis
a. Pucat
b. Kelemahan
c. Sesak nafas pada latihan
d. gelisah ( keringat dingin )
e. diaphoresis
f. takikardia
g. angina ( sakit dada )
h. sakit kepala, pusing, kelemahan, dan tinnitus berkurangnya oksigen pada SSP
3. Proses penyakit
4. Komplikasi
a. Gagal jantung
b. Parestesia
c. Kejang
C. Penatalaksanaan medis
1. Test diagnostic
• Jumlah darah lengkap : hemoglobin dan hemotokrit menurun
• Jumlah eritrosit : menurun ( AP ), menurun berat ( aplastik ); MCV ( volume korpuskural rerata )dan MCH ( hemoglobin korpuskural renata ) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hiprokromik (DB), peningkatan ( AP ), Pansitopenia ( aplastik )
• Jumlah retikulosit : bervariasi, mis : menurun ( AP ), meningkat ( respon sumsum tulang terhadap kehilangan darah / hemolisis )
• Pewarnaan SDM : mendeteksi perubahan warna dan bentuk ( dapat menindikasikan tipe Kusus anemia )
• LED : peningkatan menunjukan adanya reaksi inflamasi misal peningkatan kerusakan SDM atau penyakit malignansi
• Masa hidup SDM : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal pada tipe anemia tertentu, SDM mempunyai waktu hidup lebih pendek
• Test kerapuhan eritrosit : menurun ( DB )
• SDP : Jumlah sel total sama dengan SDM ( diferensial ) mungkin meningkat ( hemolitik ) atau menurun ( aplastik )
• Jumlah trombosit : menurun ( aplastik ); meningkat ( DB ); normal atau tinggi (hemolitik)
• Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin
• Bilirubin serum ( tak terkonjugasi ) : menungkat ( AP, hemolitik )
• Besi serum : tak ada ( DB ); tinggi ( hemolitik )
• Masa perdarahan : memanjang ( aplastik )
• Aspirasi sum-sum tulang/pemeriksaan biopsy : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran dan bentuk, membentuk membedakan tipe anemia, missal peningkatan megaloblas ( AP ), lemak sum-sum dengan penurunaan sel darah ( aplastik )
• Pemeriksaan endoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan ; perdarahan GI
( Marylin E doengoes hal 572 )
2. Terapi
Tujuan utama terapi adalah pengobatan yang yang disesuaikan dengan etiologi dari dari anemianya.
a. Istirahat total dan menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan kelemahan sampai kesehatan klien pulih
b. Diet yang seimbang dengan makanan tinggi protein tinggi kalori, buah – buahan dan sayuran sangat dianjurkan
c. Tranfusi darah, sebaiknya diberikan packed red cell. Bila diperlukan trombosit, berikan darah segar atau platelet concentrate
d. Kortikosteroid, dosis rendah mungkin bermanfaat pada perdarahan akibat trombositopenia berat.
e. Pemberian preparat Fe
D. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien
Aktifitas / istirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum
Kehilangan produktifitas
Toleransi terhadap latihan rendah
Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak
Tanda : takikardia/takipnea; dispneu pada bekerja atau istirahat
Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya
Kelemahan otot dan penurunan kekuatan
Ataksia, tubuh tidak tegak
Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda – tanda lain yang
menunjukkan keletihan.
Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronis, missal perdarahan GI kronis,
menstruasi berat ( DB );
angina, CHF ( akibat kerja jantung berlebih )
riwayat endokarditis infektif kronis
palpitasi ( takikardia kompensasi )
Tanda : TD : peninggkatan sistolik dengan diastolic stabil dan tekanan nadi
melebar; hipotensi Postura
Dysritmia : abnormalitas EKG missal depresi segment ST dan pendataran
atau depresi
gelombang T ; takikardia
bunyi jantung murmur sistolik ( DB )
ekstremitas ( warna ): pucat pada kulit dan membrane mukosa
konjungtiva, mulut, bibir ) dan dasar kuku
Sklera : biru atau putih seperti mutiara ( DB )
Pengisian kapiler melambat ( penurunan aliran darah ke periper dan
vasokontriksi kompensasi )
kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok ( koilonikia ) ( DB )
rambut : kering, mudah putus, menipis ( AP )
Integritas ego
Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, missal
penolakan transfuse darah
Tanda : Depresi
Eliminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal
Flatulen, sindrom malabsorpsi ( DB )
Hematemesis, feses dengan darah segar, melena
Diare atau konstipasi
Penurunan haluaran urin
Tanda : distensi abdomen
Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet ( DB )
Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan ( Ulkus pada faring )
Mual /muntah, dyspepsia, anoreksia
Adanya penurunan berat badan
Tidak pernah puas untuk mengunyah atau pika untuk es, kotoran
tepung jagung, cat,
tanah liat dan sebagainya ( DB )
Tanda : lidah tampak merah daging / halus ( AP; defisiensi asam folat dan
vitamin B12
Membrane mukosa kering, pucat
Turgor kulit : buruk, kering, tampak kusut/hilang elastisitas (DB )
Stomatitis dan glatitis ( status defisiensi )
Bibir : selitis, mis, imflamasi bibir dengan sudut mulut pecah ( DB )
Hygiene
Tanda : kurang bertenaga , penampilan tak rapih
Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan
berkonsentrasi
Insomnia, penurunan pengelihatan, dan bayangan pada mata
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; prestasia tangan / kaki (
AP ); klaudikasi
Sensasi menjadi dingin
Tanda : peka ransang, gelisah, depresi, cenderung tidur, apatis
Mental : tak mampu berespons lambat dan dangkal
Oftalmik : hemoragis retina ( aplastik, AP )
Epistaksis, perdarahan dari lubang-lubang
Gangguhan koordinasi, ataksia : penurunana rasa getar dan posisi
paralisis ( AP )
Nyeri/ketidaknyamannan
Gejala : nyeri abdomen samar; sakit kepala ( DB )
Pernafasaan
Gejala : riwayat TB, abses paru
Nafas pendek pada istrahat dan aktivitas
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea
Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terdahdap bahan kimia, mis, benzene,
insektisida, fenilbutason, naftalen
riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan
riwayat kanker, terapi kanker
tidak toleran terhadap dingin/atau panas
tranfusi darah sebelumnya
gangguan penglihatan
penyembuhan luka buruk, sering infeksi
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam
Limfadenopati umum
Petekie dan ekimosis ( aplastik )
Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, mis., menoragia atau amnore ( DB )
Hilang libido (pria dan wanita )
Impotent
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat
E. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
2. Intoleran aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplay oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan untuk mencerna makanan / absorbs nutrient yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal.
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b.d
perubahan sirkulasi dan neurologis (anemia)
gangguan mobilitas
deficit nutrisi
5. Konstipasi atau diare b.d
penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan
efek samping terapi obat
6. Resiko tinggi infeksi b.d
pertahanan sekunder ( tidak adekuat mis; penurunan hemoglobin leucopenia, atau
penurunan granulosit (respon inflamasi tertekan )
pertahanan utama tidak adekuat missal kerusakan kulit, stasis cairan tubuh; prosedur invasive, penyakit kronis, malnutrisi.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis, dan kebutuhan pengobatan b.d
Kurang terpajan/mengingat
Salah interpretasi informasi
Tidak mengenal sumber informasi
F. Perencanaan Asuhan Keperawatan
Diagnosa 1 : Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen
Seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x 24
jam diharapkan perubahan perfusi jaringan dapat
teratasi
Kriteria Hasil : menunjukkan perfusi adekuat missal tanda vital stabil,
Membrane mukosa warna merah muda, pengisian
kapiler baik, haluaran urin adekuat; mental seperti biasa.
Intervensi :
Mandiri :
Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa,dasar kuku
Rasional : memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan
perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan
Intervensi :
Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan
oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi
Awasi upaya pernapasan : auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius
Rasional : Dispnea, gemericik menunjukkan GJK karena regangan
Jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung
Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi
Rasional :Iskemia seluler mempengaruhi jaringan
miokardia/potensional resiko infark
Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung
Rasional : dapat mengindikasikan gangguan fumgsi serbral karena
hipoksia atau defisiensi vitamin B12
Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi
Rasional : vasokostriksi (keorgan vital) menurunkan sirkulasi
perifer.kebutuhanrasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindaripanas berlebihan pencetus vasodiltasi (penurunanperfusi organ)
Hindari penggunaan bantalan penghangat atau botol air panas.ukur suhu air mandi dengan thermometer
Rasional : termoreseptor jaringan dermal dangkal karena
gangguan oksigen
Kolaborasi :
Awasi pemeriksaan laboratorium, missal Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA
Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan
pengobatan/respon terhadap terapi.
Berikan SDM darah lengkap, produk darah sesuai indikasi.awasi ketat untuk komplikasi tranfusi
Rasional : meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen;
memperbaiki defisiensi untuk memperbaiki perdarahan
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : memaksimalkan tranfor oksigen kejaringan
Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi
Rasional : transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan
sumsum tulang/anemia aplastik
Diagnose 2 : Intoleran aktivitas b.d ketidak seimbangan antara
suplay oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan.
Tujuan : Intoleran aktivitas teratasi
Kriteria hasil : melaporkan peningkatan toleransi aktivitas
Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi,
missal nadi pernapasan, dan TD masih dalam rentang normal pasien.
Intervensi :
Mandiri :
Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal catat
laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi
Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot
Rasional : menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi
vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien.
Awasi TD, nadi, pernapasan, selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas ( missal peningkatan denyut jantung/TD, disritmia,pusing, dispnea, takipnea, dsb )
Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan
paru untukmembawa jumlah oksigen adekuat kejaringan
Berikan lingkungan tenang.
Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan
oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru
Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing
Rasional : hipotensi postural atau hipoksia serbral dapat
menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan risiko
cidera.
Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat.pilih metode istirahat dengan periode aktivitas
Rasional : Mempertahankan tingkat energy dan meningkatkan
regangan pada system jantung dan pernapasan
Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin.
Rasional : membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien
melakukan sesuatu sendiri
Gunakan tehnik untuk penghematan energy, missal mandi debgab duduk, duduk untuk melakukan tugas – tugas
Rasional : mendorong pasien melakukan banyak dengan
membatasi penyimpangan energy dan mencegah kelemahan
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktiviatas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Rasional : regangan/stress kardiopulmonal dapat menimbulkan
dekompensasi/kegagalan.
Diagnosa 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan
untuk mencerna makanan / absorbsnutrient yang
diperlukan untuk pembentukan SDM normal.
Tujuan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi
kriteria hasil : a. menunjukkan peningkatan BB atau BB stabil dengan
nilai laboratorium normal
b. tidak mengalami tanda malnutrisi
c. menunjukkan prilaku, perubahan pola hidup untuk
meningkatkan dan/atau mempertahankan BB yang sesuai
Intervensi :
Mandiri :
Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan
intervensi
Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan
konsumsi makanan
Timbang BB tiap hari
Rasional : mengawasi penurunan BB atau efektivitas intervensi
Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan diantara waktu makan
Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan
meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster
Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan
Rasional : gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia)
pada organ
Berikan dan bantu hygiene mulut yang baik
Rasional : meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral,
menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan
kemungkinan infeksi
Kolaborasi :
Konsul pada ahli gizi
Rasional : membantu dalam membuat rencana diet untuk
memenuhi kebutuhan individual
Pantau pemerikasaan laboratorium, missal Hb/Ht, BUN, albumin, protein, transferin, besi serum, B12, asam folat, elektrolit serum
Rasional : meningkatkan efektivitas program pengobatan,
termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan
Berikan obat sesuai indikasi, missal ;
Vitamin dan suplemen mineral, missal sianokobalamin ( vitamin B12 ), asam folat, asam askorbat ( vitamin C )
Besi dextran
Tambahan besi oral, missal ferosulfat, feroglukonat
Asam hidroklorida (HCL)
Berikan diet halus, rendah serat, menghindari makanan panas, pedas, atau terlalu asam sesuai inikasi
Rasional : bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan
yang dapat ditoleransi pasien
Berikan asupan nutrisi, missal ensure, isocal
Rasional : meningkatkan masukan protein dan kalori
Diagnose 4 : resiko tinggi kerusakan inegritas kulit b.d perubahan
sirkulasi dan neurologis (anemia)
tujuan : kerusakan integritas kulit tidak terjadi
kriteria hasil : mempertahankan integritas kulit
mengidentifikasi factor risiko / prilaku individu untuk
mencegah cidera dermal
intervensi :
mandiri :
Kaji integritas kulit, catat peubahan pada turgor, gangguan warna, hangat local, eritema, eksoriasi
Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi, dan
imobilisasi jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi atau rusak
Ubah posisi secara periodic dan pijat permukaan tulang bila pasien tidak bergerak atau di tempat tidur
Rasional : meningkatkan sirkulasi kesemua area kulit membatasi iskemia jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler
Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun
Rasional : area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan dan meningkatkan iritasi
Bantu untuk latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis
Kolaborasi :
Gunakan alat pelindung , missal kulit domba, keranjang, kasur tekanan udara/air, pelindung, tumit, siku, dan bantal sesuai indikasi
Rasional : menghindari kerusakan kulit dengan mencegah/menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit
Diagnosa 5 : konstipasi atau diare b.d penurunan masukan diet, perubahan proses Pencernaan
Tujuan : konstipasi atau diare teratasi
Kriteria hasil : Membuat/kembali pola normal
Menunjukkan perubahan perilaku/poa hidup yang diperlukan sebagai penyebab, factor pemberat
Intervensi :
Mandiri :
Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah
Rasional : membantu megidentifikasi penyebab/factor pemberat dan intervensi yang tepat.
Auskultasi bunyi usus
Rasional : bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi
Awasi masukan dan haluaran dengan perhatian khusus pada makanan/cairan
Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi. Kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi defisiensi diet.
Dorong masukkan cairan 2500 – 3000 ml/hari dalam toleransi jantung
Rasional : membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila
konstipasi. Akan membantu mempertahankan status hidrasi pada diare
Hindari makanan yang membentuk gas
Rasional : menurunkan distress gastric dan distensi abdomen
Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan dalam kondisi kulit atau mulai kerusakan.
Rasional : mencegah eksoriasi kulit dan kerusakan
Kolaborasi :
Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang dengan tinggi serat
Rasional : serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorbsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal sehingga merangsang untuk defekasi
Berikan laksatif atau enema sesuai indikasi
Rasional : mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi
Berikan obat anti diare missal difenoxilat hidroklorida dengan atropine (lomotil) dan obat pengabsorbsi air missal metamucil
Rational : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi
G. Pelaksanaan / Implementasi
Implementasi adalah proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari tindakan keperawatan, pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan / memberikan asuhan keperawatan tujuannya berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan keperawatan kesehatan berkelanjutan pada klien.
Proses / tahapan ada 5 yaitu :
a. Mengkaji ulang klien
Fase ini merupakan komponen yang memberikan mekanisme bagi perawat yang yang menentukan apakah tindakan keperawatan yang disusunkan masih sesuai
b. Mengklasifikasi ulang klien
c. Mengidentifikasi bidang bantuan berupa tenaga pengetahuan serta keterampilan
d. Mengimplementasikan
Mencatat semua tindakan yang dilakukan yaitu tanggal dan waktu, nama dan paraf perawat yang jelas
e. Mengevaluasi
H. Evaluasi
1. Pengertian
Merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh manatujuan dan rencana keperawatan tercapai / tidak
2. Jenis evaluasi
a. Evaluasi formatif menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon segera ( pendokumentasian dan implementasi )
b. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dengan analisa status klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan direncanakan pada tahap perencanaan
Penentuan keputusan yang mengacu pada keputusan :
a. Tujuan tercapai
Tujuan ini dikatakan tercapai apabila klien telah mengajarkan perubahan dengan kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan
b. Tujuan tercapai sebagian
Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai masalah.
c. Tujuan menunjukkan adanya perubahan kearah kemajuan sebgian kriteria yang diharapkan
I.Daftar Pustaka
Brunner & Suddarth.(2001).Buku Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8.vol.2.Jakarta:EGC
Doenges,Marilynn E.(1999).Rencan Asuhan Keperawatan:pedoman untuk perencanaan & pendokumentasian keperawatan Px.Edisi 3 Jakarta:EGC
Mansjoer,Arif dkk.(2001).Kapita Selekta Kedokteran.Edisi 8.jilid 1.Jakarta:Media Aescuylarius FKUI.
Price,sy(via Anderson.(2005).Patofisiologi:Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Edisi 6.Jakarta:EGC.
Langganan:
Postingan (Atom)